
Happy Reading
*****
Seminggu kemudian...
Anta berada di sekolah tanpa Ria hari itu. Sahabatnya itu sakit dan tak bisa masuk karena sakit. Setelah lelah mengikuti olahraga pendidikan jasmani gadis itu menuju ke kantin. Ia melihat hantu Mia yang mengamati para kawan sekelasnya. Wajah ganti itu terlihat sedih.
Setelah membeli air mineral dan cilok, Anta kembali ke kelas. Ia menoleh ke hantu Mia yang masih mengamati para murid dari luar kelas. Gadis itu lalu keluar mendekati hantu tersebut.
"Kamu ngapain di sini?" bisik Anta seolah-seolah sedang membaca sesuatu di layar ponselnya.
"Aku kangen sama temen-temen apalagi Arya tuh gemes banget," ucap Mia.
"Yang sabar ya, eh Anta mau tanya kenapa kamu bisa bunuh diri?" tanya Anta.
Akan tetapi, belum juga pertanyaan gadis itu dijawab bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi. Hantu Mia menghilang seketika.
***
Sepulang sekolah, Anta melihat hantu Mia lagi dan hendak menuju ke lantai atas. Gadis yang penasaran karena melihat hantu itu menuju ke tempat waktu bunuh diri, mengendap-endap dan mengikuti hantu Mia.
Arga kebetulan melihat kelakuan Anta kala itu. Lalu, dia memutuskan untuk mengikuti sahabatnya. Namun, sebelum dia menaiki anak tangga menyusul Anta, tiba-tiba suara ibu kepala sekolah memanggil pemuda itu.
Anta yang mendengar suara Ibu Kepala Sekolah jadi penasaran dan menarik Mila ikut serta.
"Jangan naik dulu, ayo ikut Anta!" ucap gadis itu.
"Kamu ngapain, Nta, ngikutin aku gini?" tanya Mia.
"Anta kepo, wleeek...!"
Gadis itu lalu perlahan menyusul Arga.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Arga.
"Nak Arga, coba masuk dulu!" serunya.
Arga lalu menurut dan masuk ke ruang kepala sekolah. Anta menoleh kepada hantu Mia lalu berbisik, "coba kamu intip ruang Kepala Sekolah, kira-kira si Arga dipanggil mau diapain, ya?" perintah Anta.
Hantu Mia lalu menganggukkan kepala. Dia berada di jendela ruang kepala sekolah dan menyimak pembicaraan antara ibu kepala sekolah dan Arga. Sayangnya ia tak bisa masuk ke dalam sana.
"Nah, begini Nak Arga, sebentar lagi akan diadakan lomba cerdas cermat antar sekolah di wilayah ini, menurut wali kelas kamu, kamu itu merupakan salah satu murid terpintar di kelas, jadi ibu ingin meminta partisipasi kamu untuk bergabung dalam lomba cerdas cermat ini bersama murid lainnya," ucap ibu kepala sekolah.
"Kenapa harus saya, Bu? Lagipula nanti saya lombanya sama siapa aja?" tanya Arga.
"Ya, nanti sama murid yang lainnya, adan4 anak lainnya yang Ibu panggil untuk mengikuti lomba, dari kelas 11 ada dua dan juga kelas 10 ada dua termasuk kamu, jadi nanti ada empat anak yang akan mengikuti lomba cerdas cermat tersebut."
"Oh, begitu...."
"Jadi, kamu mau kan? tanya ibu kepala sekolah.
"Baiklah, Bu, jika memang Ibu menunjuk saya untuk mewakili sekolah ini, maka saya bersedia," jawab Arga.
Mendadak kemudian, ponsel ibu kepala sekolah itu berdering.
" Kamu tunggu di sini ya, sebentar ibu angkat telepon dulu," ucap ibu kepala sekolah seraya keluar dari ruang itu.
Anta yang tidak ingin ketahuan langsung bersembunyi di balik dinding samping ruang Kepala Sekolah menuju anak tangga. Gadis itu menghindari pertemuan dengan sang ibu kepsek.
Sementara itu di dalam ruangan, Arga menelisik seluruh sudut yang banyak terdapat piala-piala kemenangan sekolah dan penghargaan piagam buat sekolah tersebut. Namun, indera pendengarannya tersentak akan sesuatu. Tiba-tiba, terdengar suara berisik di dalam pintu lemari kabinet yang berada di belakang kursi kepala sekolah itu.
"Suara apa itu ya?" gumam Arga.
Anak muda itu mencoba mengendalikan diri agar tetap tenang. Rasa penasaran yang kuat membuat kedua kakinya melangkah menuju asal suara berisik tadi. Akan tetapi ibu kepala sekolah sudah masuk ruangan dan mengejutkan pemuda itu.
"Heh, kamu lagi ngapain?" hardiknya.
"Eh, Ibu! Duh, maaf Bu, tadi saya kayak denger sesuatu dari sini," jawab Arga.
" Oh... paling cuma tikus, nanti saya suruh tukang bersih-bersih sekolah deh si Mang Amang untuk mau bersihin ruangan saya. Ya udah silakan kalau gitu kamu boleh boleh pulang," pintanya.
"Baik, Bu."
"Ciluk... ba!" seru Anta.
"Kamu ih ngagetin aja!" sahut Arga.
"Hehehe... kamu ngapain, Ga, dipanggil sama ibu kepsek?" tanya Anta.
" Oh... itu Ibu kepsek mau nyuruh aku buat ikut lomba cerdas cermat. Maklum aku itu kan anak pintar," sahut Arga dengan nada sombong.
"Halah belagu banget lu, baru disuruh itu aja bangga banget," sahut Arya yang tiba-tiba datang.
Namun, pemuda itu langsung terkejut karena melihat hantu Mia sudah tertawa menyeringai kala berdiri di sampingnya. Maklum saja semasa hidupnya, dia juga sangat mengagumi sosok Arya.
"Elo ngapain sih deket-deket gue? Sana jauhan sana ah, elo tuh bau amis gini tahu nggak sih!" ucap Arya seraya bergidik jijik.
"Awas ya, kalau kamu sampai berani ngatain aku kayak gitu, aku bakal mengikuti kamu terus di sekolah ini," ucap Mia.
"Bodo amat, lagian enggak bakal mempan kan bakal selalu sama Anta!" sahut Arya.
"Heh, udah sih jangan pada berisik!" seru Anta.
Gadis itu lalu menoleh ke arah Mia.
"Eh, Mia kamu tadi lihat apa di ruang Kepala Sekolah?" tanya Anta.
"Hmmm aku enggak liat apa-apa, aku sih ngerasa kayak ada sesuatu yang nakutin di ruangan itu, apalagi seperti ada sesuatu di dalam lemari kabinet itu tuh yang di belakang kursi ibu kepala sekolah sekolah. Sayangnya, aku nggak bisa masuk ke dalam sana," ucapnya menjelaskan.
"Eh, aku juga tadi denger suara juga tahu dari sana, berisik banget kayak ada suara tikus di dalam sana. Eh, pas aku lagi deketin ternyata ibu kepala sekolah udah masuk gitu ngeliatin aku aja," jawab Arga.
"Hmm... ada yang aneh nih sama ibu kepala sekolah, kira-kira apa ya yang disembunyikan di dalam ruangannya itu," gumam Anta.
"Gimana kalau kapan-kapan kita nginep di sini terus kita geledah ruangan kepala sekolah, kali aja kita bisa dapat petunjuk siapa yang suka menumbalkan anak-anak murid di sekolah ini, ucap Arya memberi sebuah saran.
"Ide bagus, tapi gimana caranya kita bisa nginep di sekolah gini pasti nanti ketauan sama penjaga, dulu juga gue sempat berpikir seperti itu sama Anta," sahut Arga.
"Nah, bagaimana kalau pas lagi libur sekolah aja, bentar lagi kan habis pekan ulangan kita libur seminggu tuh, nah kita nginep di sekolah ini, kita bikin acara kegiatan persami terus minta izin sama kepala sekolah bilang aja buat pelepasan anak-anak OSIS yang lama," ucap Anta.
"Waduh, berarti ada Dion and teh geng dong. Males banget gua kalau harus nginep sama mereka," sahut Arya.
"Heh, mau enggak mau ya harus ada Dion, soalnya kan dia salah satu murid yang berpengaruh di sekolah ini, kan dia sama kelompok bandnya sangat berjasa, ceritanya... pasti ibu kepala sekolah bakal kasih izin nanti pembinanya itu bokap lo, karena kan Pak Herdi sekarang udah jadi Pembina OSIS," ucap Arga.
"Iya, bener juga sih, nanti gue bikin rencana deh sama ayah gue supaya buat acara pelepasan OSIS yang lama itu, para mantan mantan anggota OSIS yang lama itu kita kerjain aja hahaha... terus kita juga cari cara buat masuk ke ruang Kepala Sekolah," sahut Arya.
"Oke, kalau gitu seminggu lagi kita bakal nginep di sini. Nah, kalau gitu Arya sama Pak Herdi buat rencana dari sekarang dan buat permohonan izin. Terus nanti Anta ngomong ke Kak Dion juga supaya nggak pada curiga," ucap Anta.
"Oke kalau gitu gue setuju deh demi Anta, apa sih yang nggak, hahaha...." sahut Arya.
Arga kangsung menoyor kepala Arya.
"Halah modus aja lu, alay!" ucap Arga.
"Halah bilang aja sirik lo, udah sana jadian aja sama Ria, kapan lagi punya pacar kayak gitu, unik tau hahaha..." seru Arya.
"Elu aja situ jadian tuh sama Si Mia noh, dia masih nungguin lo aja tuh!" ucap Arga seraya menunjuk hantu Mia yang masih saja memandangi pemuda itu dengan senyum yang menyeringai.
"Idih, lu masih di sini aja, udah saja jauhan, dasar setan!" seru Arya seraya menarik tangan Anta pergi menuju parkiran sekolah. Arga mengikuti langkah keduanya menyusul.
"Dih si Arya, emang aku setan hu....!" gumam Mia.
*****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Vie punya cerpen baru, yuk mampir
"Kutukan Lima Tahun" dan Bloody Honeymoon
Atau klik aja profil aku nanti nongol cerpen paling bawah, jangan lupa komen dan love ya.
Follow IG : @vie_junaeni