
Jangan lupa Vote yang banyak buat Anta ya...
*******
Deni membekap mulut gadis itu agar tak lagi bersuara membangunkan Liemey.
"Bisa diam, enggak? Kalau kamu enggak mau diam, aku akan bunuh kamu!" ancam Deni.
Mey menatap tajam ke arah pria tersebut ia mencoba untuk memberontak. Akan tetapi, pria itu sudah meraih pisau dapur di tangan kanannya dan mengarahkan pisau itu pada leher Mey.
Suara pintu kamar Liemey terbuka kala itu. Deni langsung melepas Mey dan mengancamnya dengan tatapan tajam.
"Awas kalau kamu ngadu!" ancam Deni.
Mey langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia tak ingin melihat keberadaan Deni lagi.
***
Keesokan harinya saat berada di SMP Karya Bangsa.
Anta menggerakkan gelang kerincing di tangan kirinya. Soal ilmu pengetahuan alam di hadapannya itu terasa buyar dilihat. Kedua matanya mendadak buram tak mau lagi mengamati soal-Soal tersebut.Tiba-tiba sosok Arya muncul di samping gadis itu.
"Astagfirullah... mau ngapain ke sini?" bisik Anta.
"Lah mana gue tau, gue bergerak sendiri ke sini, mana ini masih siang, masa sebagai pocong gue keluar siang-siang, di mana harga diri gue sebagai hantu?" sahut Arya.
"Enggak jadi hantu aja enggak ada harga dirinya, dih pede banget," sahut Anta.
Arya menoyor kepala Anta dengan gemas.
"Aduh!"
"Heh, kamu ngapain itu berisik kayak gitu?" tegur seorang guru pria berkacamata dengan perut buncit itu.
"Enggak, Pak, kepala Anta mendadak pusing baca soalnya," jawab Anta.
"Sekali lagi kamu buat keributan, kamu ke luar ya dari sini enggak usah ikut ujian!" hardiknya.
"Iya, Pak."
"Yang lain juga ya jangan buat keributan!"
Hening seketika semua murid kembali fokus dengan kertas ujian masing-masing.
"Arya, bantuin dong?" pinta Anta.
"Udah gue bilang mana gue tahu, lagian otak gue bukan kayak Arga yang pintar," sahut Arya.
"Hmmm jadi kangen sama Arga," bisik Anta.
"Diem luh, enggak usah sebut nama Arga, nyesel gue sebut nama dia, bentar gue cariin contekan buat jawab soal luh," ucap Arya.
"Oke."
Selesai ujian hari terakhir itu langkah Anta terlihat gontai. Mey yang berada di ruangan berbeda menghampiri Anta.
"Gimana ujiannya, Nta?" tanya Mey.
"Huaaaa... susah Mey, susah banget mana guru yang ngawas nyebelin, udah gitu asisten Anta juga enggak pinter lagi," ucap Anta seraya melirik ke arah Arya.
"Asisten kamu?" tanya Mey dengan rasa penasaran.
"Umm... maksud aku, anu, apa ya, anu..."
"Kamu pakai bantuan hantu, ya?" terka Mey.
"Enggak kok, beneran tadi itu hasil pikiran Anta sendiri. Duh, laper nih kita ke kantin dulu yuk sebelum pulang!" ajak Anta.
"Sompret tuh cumi albino, mana gue tahu kalau gue nyontek sama orang dongo," keluh Arya.
Sesuatu menarik kafan Arya dari belakang dan mengejutkannya.
"Kok, perasaan gue enggak enak, ya?" gumam pemuda itu.
Perlahan-lahan ia menoleh ke belakang dan langsung berteriak.
"Kyaaaaaaa elo lagi!" pekik Arya.
Hantu Momo tersenyum menyeringai dengan lidah menjulur langsung mendekap Arya dengan mesra.
"Lepasin gue, lepasin gue!" pinta Arya meronta-ronta sampai lepas.
Pocong itu langsung melompat dengan cepat melarikan diri dari kejaran hantu Momo. Ia bergegas menuju Anta meminta perlindungan.
"Buuuaaah...!"
Anta yang tertabrak Arya dari belakang tak sengaja menyemburkan kuah bakso di mulutnya ke wajah Mey.
"Anta... masa aku disebut juga bakso, sih?" keluh Mey.
"Duh, maaf Mey, ini ada setan bikin sial, tau kan nyebelin banget pokoknya," ucap Anta seraya menatap tajam ke arah Arya yang berjongkok di samping kursi Anta.
"Bantuin gue, itu si Momo kejar-kejar gue!" pinta Arya.
Arya mencubit paha Anta dengan keras. Tadinya ia tak bisa menyentuh manusia lainnya, tetapi ia bisa menyentuh Anta kala itu.
"Awww... sakit Arya!" pekik Anta sambil menarik ikatan pocong anak muda itu.
"Duh, sakit Nta, maafin gue!" pekik Arya gantian.
"Arya?" tanya Mey.
Gadis itu merasa dengan jelas Anta mengucapkan nama Arya kala itu.
"Ummm... nanti aku jelasin Mey," ucap Anta melepaskan ikatan pocong Arya.
"Maksud kamu, Arya kembali dan kamu bisa melihat Arya, iya kan?" tanya Mey.
"Ya, gitu deh."
"Mana, Nta, aku mau ketemu sama Arya, please..." rengek Mey.
Arya mengibaskan kedua tangannya untuk memberi tahu kalau ia tak ingin bertemu Mey untuk saat itu.
"Arya udah hilang, mungkin nanti malam bisa ketemu," ucap Anta mencoba berbohong.
"Yah, padahal aku kangen banget sama Arya."
"Nanti malam aku buat kamu ketemu sama Arya, ya," ucap Anta menawarkan.
Hantu Momo yang menemukan Arya ikut berjongkok di samping pocong itu. Lidah yang terjulur itu menjilat tangan Arya.
"Idih, jorok! Kabuuurrr...!" Arya kembali pergi bahkan menghilang menjauhi hantu Momo.
"Hahaha... sukurin..." ucap Anta tak sadar kalau ia sedang diperhatikan oleh Mey.
"Hehehe... makan lagi Mey, belom habis sayang tuh baksonya, kalau enggak habis sini Anta habisin," ucap Anta.
"Nih, makan aja!"
***
Mey melirik jam dinding rumahnya. Tepat pukul tujuh malam ia berencana untuk pergi ke rumah Anta agar bisa dipertemukan dengan Arya. Wajah bahagia terpancar dari gadis itu. Kebetulan sang Mama masih berada di kantor karena lembur.
Mey meraih tas kecil berisi ponsel dan dompet. Ia bergegas menuju pintu depan, akan tetapi sosok Deni yang tiba-tiba masuk mengejutkannya.
"Hai, cantik! mau ke mana cantik banget?"
"Kok, Om bisa masuk ke dalam rumah?" tanya Mey, ia berusaha menghindar dari pria tersebut.
"Oh, Mama kamu yang kasih aku kunci supaya bisa pakai kamarnya buat istirahat. Gimana kalau kamu temani aku, yuk!"
Deni mencoba meraih tangan mungil gadis itu.
"Enggak mau, aku mau pergi ke rumah temen!" tegas Mey.
Ia makin mundur beberapa langkah menjauhi pria genit itu.
"Ke rumah temen? Hmmm paling kencan nih sama pacar, emang udah bisa pacaran?"
"Aku enggak punya pacar, dan aku benar-benar mau pergi ke rumah teman, namanya Anta, Mama juga udah tau," jawab Mey ketus.
"Oh gitu, belum pernah pacaran? Ckckckkc... mau diajarin enggak, sini Om ajarin!"
Pria itu mencoba menarik lengan Mey secara paksa.
"Dasar kurang ajar! Lepasin aku, aku enggak akan tinggal diam ya sekarang, aku akan bilang ke Mama kelakuan Om yang bejat ini!" pekik Mey.
"Bilang aja, kan Mama kamu lagi enggak ada, lagian Mama kamu tuh cinta banget sama aku, dia pasti bakal percaya sama aku," sahut Deni.
Ia menarik lengan Mey secara paksa sampai membawa gadis itu masuk ke dalam kamar. Deni membanting tubuh Mey ke atas ranjang.
"Kamu enggak akan bisa lepas kali ini," ucap Deni dengan senyum menyeringai.
******
To be continue...
Follow IG ku ya @vie_junaeni
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
- Forced To Love
- Diculik Cinta