
Happy Reading...
*****
"Ya udah kebetulan kalau gitu, jadi gini, Ayah mau nikah sama Tasya, kamu setuju kan, Ya?" tanya Herdi.
"APA?"
Arya, Anta dan Raja menyahut bersamaan debgan wajah terperanjat tak percaya.
"Tuh kan, Arya pasti enggak setuju deh kalau aku jadi ibu tiri dia," ucap Tasya.
"Iya, Ya, kamu enggak setuju kalau Ayah nikah sama Tasya?" tanya Herdi.
Semua mata menuju ke arah Arya. Mereka menatap penuh tanya dan penasaran akan jawaban pemuda itu.
"Pada ngeliatin saya tuh, cie... kepo tuh sama jawaban saya, ya kan?" Arya dengan senangnya meledek ke semua yang menunggu jawaban dia.
"Ya..." Herdi menatap penuh ancaman.
"Oke, aku setuju kok Yah, apalagi nanti aku bisa tinggal bareng sama Anta ketemu terus hehehe." ucap pemuda itu.
Dewi langsung menarik daun telinga Arya dengan gemas.
"Heh, ngomong apa kamu, niat apa yang ada di pikiran kotor kamu ini?"
Dewi makin menatap tajam.
"Aduh ampun, aduh sakit Tante, ampun....!" teriak Arya kesakitan.
"Tau nih, kalau Tante Tasya nikah sama Pak Herdi, Anta tinggal lagi sama Mama Dewi," ucap Anta.
"Yah, kirain bisa liat Anta terus tiap hari, aduh ampun... iya Tante cuma bercanda," ucap Arya meminta Tante Dewi melepaskan tarikannya dari telinganya.
"Jorji, kamu mau ke mana?" tanya Anta.
Tasya, Raja, Arya dan Herdi menoleh ke arah gadis itu, hanya Dewi yang tak bisa melihatnya.
"Anta... akhirnya aku bisa liat kalian di sini," ucap Jorji seraya berlari dan memeluk Anta.
Wajah gadis itu pucat dan terasa dingin saat menyentuh Anta.
"Kalian pada liatin siapa, sih?" tanya Dewi.
"Kak Jorji, Ma, tuh lagi peluk Kak Anta," jawab Raja.
"Mama enggak liat siapa-siapa, maksud kamu apa sih, Ja?"
"Bentar deh, kita cek kamar ICU tempat Jorji dirawat, ayo!" ajak Tasya.
Yang lainnya segera melangkah mengikuti Tasya menuju ruang ICU tempat Jorji dirawat.
Sesampainya di sana, terlihat tubuh Jorji masih terbaring di atas ranjang dengan alat lengkap menempel di tubuhnya. Layar monitor di mesin jantung itu juga masih terlihat menunjukkan tanda kehidupan pada tubuh gadis itu.
"Kalau Jorji masih ada di situ, lalu yang ini siapa?" tanya Arya menunjuk sosok Jorji yang masih berdiri di samping Anta.
Anta dan yang lainnya menoleh ke arah Jorji dan menelisik dengan saksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kak Jorji...?" Anta menatap gadis itu.
"Itu dia yang aku mau tanyain, dari tadi enggak ada yang bisa lihat aku, lalu aku ketemu kalian. Kenapa aku bisa terpisah dari tubuh aku itu?" tanya Jorji tak mengerti.
"Aku jadi inget Doni waktu dulu koma dan ruh dia gentayangan, huaaaaaa..." ucap Tasya lalu menangis di pelukan Pak Herdi.
"Sebentar, Tante juga jadi inget soal Doni dulu, jadi maksud kalian si Jorji sekarang ruh-nya ada di sini dan kepisah gitu sama tubuhnya?" tanya Dewi.
"Iya, Mama. Ini Kak Jorji ada di samping Anta," ucap Anta.
"Terus aku gimana dong, Nta, bagaimana aku bisa balik ke tubuh aku lagi?" tanya Jorji mulai panik dan menangis.
"Hmmm... Anta juga bingung, Kak," ucap Anta.
"Gimana kalau kita cari orang pintar buat menyelesaikan masalah ini?" tanya Herdi memberi saran.
"Maksudnya guru Raja kali ya kan pada pinter mau guru apa, Om, mungkin guru matematika," sahut Raja.
Arya langsung membekap mulut anak itu dengan gemas.
"Enggak usah banyak omong, bukan orang pinter itu tapi dukun tau," bisik Arya.
"Oh iya ya, ya udah kalau gitu nanti kita cari pak ustaznya," ucap Herdi.
"Lalu, Kak Jorji gimana?" tanya Anta.
"Ya, palingan ikut kita pulang, kayak dulu Doni, hiks hiks, tuh kan aku inget sama dia lagi," ucap Tasya.
"Oke deh, Kak Jorji ikut Anta pulang dulu," ucap gadis itu.
"Aku mau lihat Daddy aku, Nta, keadaan dia gimana ya?" tanya Jorji.
"Dia baik-baik aja, tapi sebaiknya dia enggak usah tau hal ini nanti malah kepikiran terus sembuhnya lama, kan kasian Mark," ucap Tasya.
Herdi menoleh ke arah Tasya dengan lirikan tajam.
"Cuma khawatir sebagai teman, Pak, enggak lebih," ucap Tasya langsung menerka arah pembicaraan pria itu selanjutnya.
"Ya udah kalian pada pulang sana, pada ganti baju, aku mau balik kerja dulu," ucap Dewi.
***
Sepulang dari pasar, Dita mendengar suara anak kucing yang sedang terjebak di lorong selokan. Dia menghampiri suara tersebut dan mencoba mengintip ke dalamnya.
"Astagfirullahaladzim...." Dita langsung terkejut kala melihat sosok anak kecil tertawa menyeringai dengan wajah pucat dan kedua mata menghitam.
"Ta, kamu ngapain?" tanya Anan menepuk bahu Dita yang sedang berjongkok itu.
"Aaaaa....!" Dita langsung berteriak dan memeluk kaki Anan kala itu.
"Eh, ini aku, Anan, kamu kenapa?" tanya Anan memegangi Dita agar bangkit berdiri.
"Anan aku takut, aku lihat hantu di situ, hantu anak kecil," ucap Dita.
"Lagian kamu ngapain nengok-nengok ke gorong-gorong gitu?"
Anan memeluk Dita mencoba menenangkannya, padahal ada kesempatan yang ia ambil dari situ.
"Tadi aku denger suara kucing, jadi aku mau nolongin," jawab Dita masih ketakutan.
"Hmmm, coba bentar aku tengok dulu," ucap Anan.
Ia lalu berjongkok dan melongok ke arah sekolahan tadi.
"Heh, kamu ngapain bawa anak kucing ke situ? Buruan, ayo lepasin!" seru Anan.
Hantu anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Ia tak mau memberikan anak kucing itu pada Anan. Pria itu menoleh pada Dita.
"Kamu habis beli apa, Ta?" tanya Anan.
"Sayur sama daging ayam," jawab Dita.
"Coba sini ayamnya minta," pinta Anan.
"Buat apa?"
"Udah sini aja!"
Dita akhirnya menurut dan memberikan kantong plastik putih berisi seekor ayam yang sudah dipotong-potong pada Anan.
"Nih, Om punya ayam, tuker ya anak kucingnya sama ayam ini, enak ini lho daripada kucing," ucap Anan.
Akhirnya hantu anak kecil itu keluar dan membawa anak kucing itu keluar. Terlihat tubuh mungil itu bersimbah darah. Terdapat bekas luka gorokan di leher anak itu dan masih mengeluarkan darah menetes. Dita makin menjerit kala melihat penampakan anak itu. Wanita itu menutup matanya tak mau melihat.
Anan langsung meraih anak kucing di tangan hantu tadi. Anak kucing itu terlihat lemas setelah tadi dijadikan mainan oleh hantu anak kecil itu. Hantu itu melahap daging ayam yang Anan berikan dengan lahap sampai membuat mual yang melihatnya.
"Udah yuk, Ta, kita pulang, ini anak kucingnya udah sama aku, tapi kayaknya lemes deh takut mati," ucap Anan.
"Duh, kasian banget mana cakep lagi warna putih, bulunya bagus, lembut juga, bawa ke dokter hewan aja yuk!" ajak Dita. Ia masih tak berani menatap ke hantu anak kecil tadi.
"Boleh, yuk!" sahut Anan.
"Om... Tante... Tolong saya..." lirih suara hantu anak kecil itu terdengar memilukan.
*****
To be continue…
Follow IG : @vie_junaeni