Anta's Diary

Anta's Diary
Ria yang Mencoba Tegar



Happy Reading...


*****


Ria menghadiri persidangan sang ayah di hari yang sama sidang pengadilan ibunya juga digelar hanya beda waktu. Anta dan Dita menemani Ria untuk menemui ibunya di penjara bersama Arga dan Arya.


"Ria anak Mami..." Mia langsung menghamburkan diri mencoba memeluk Ria, tetapi gadis itu menolak.


"Ria enggak boleh gitu, kamu lupa ya bagaimana dia berjuang melahirkan kamu dan merawat kamu," bisik Dita.


Akhirnya, Ria melangkah perlahan memeluk ibunya.


"Maafin Mami ya, Nak, Mami khilaf... Mami kesel sama papi kamu jadi Mami mencoba membalas perbuatan papi kamu dengan bergabung mengikuti perkumpulan Nyonya Karina, Mami mau membuat papi kamu celaka secara halus tapi menyakitkan," ucap wanita itu seraya menangis beruraian air mata.


"Ria udah maafin Mami," lirih gadis itu.


Nyonya Mia lalu menoleh pada Dita.


"Terima kasih sudah mau merawat putri saya," ucapnya.


"Sama-sama, Nyonya. Ria itu anak yang baik, Anda seharusnya bangga punya anak seperti dia," ucap Dita.


Nyonya Mia makin menangis seraya menangkup wajah putri cantiknya itu.


"Mami janji, Mami akan berusaha menjadi lebih baik supaya bisa cepat keluar dari sini, Mami janji..."


"Iya, Mi. Nanti Ria main ke sini terus buat nengokin Mami."


Nyonya Mia menoleh pada Anta, Arga dan Arya.


"Kalian sahabat Ria yang terbaik, tolong jaga anak saya, ya?" pintanya.


"Tentu, Tante. Pasti Anta bakal jagain Ria."


"Apalagi saya, saya bakalan jagain Ria seumur hidup saya, Tante," sahut Arga.


"Huh, bucin akut!" bisik Arya.


"Iya saya tau, kamu pasti akan berjuang menjaga Ria, terima kasih ya Nak Arga," ucap Mia.


Setelah pertemuan itu, mereka pamit menuju persidangan Hartono, ayahnya Ria.


Dalam persidangan tabrak lari, Hartono, Wira duduk sebagai tersangka. Sementara itu, karena mengalami pendarahan di kepala, nyawa Dina akhirnya tidak tertolong setelah menjalani perawatan di rumah sakit.


Hartono dikenakan pasal 312 UULLAJ karena apabila tidak menghentikan kendaraan dan tidak memberikan pertolongan kepada korban, atau sering disebut sebagai kejadian tabrak lari, maka pengemudi dapat dikenakan ancaman hukuman sebagai berikut :


"Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231 ayat 1 huruf a, huruf b, dan huruf c tanpa alasan yang patut dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak tujuh puluh lima juta rupiah.


Hartono juga dikenakan pidana penjara selama satu tahun. Pria itu menatap wajah Ria. Ia memohon maaf pada anaknya tersebut.


“Ria, tunggu!” seru Hartono memanggil anaknya sebelum ia kembali ke dalam mobil tahanan menuju rutan.


Gadis itu menoleh pada Arga meminta ijin untuk menemui ayahnya. Pemuda itu menjawab dengan anggukan.


“Maafkan Papi, Nak, maafkan Papi."


"Papi harusnya minta maaf sama Mami, bukan sama aku, Mami itu selalu sabar meski Papi berkali-kali menyakiti dengan selingkuh, sampai akhirnya Mami bertemu dengan Karina dab tergoda untuk balas dendam sama Papi," lirihnya.


Ria berusaha tegar menahan air matanya jatuh meski sudah berkaca-kaca.


"Iya, Papi pasti akan minta maaf sama Mami kamu. Nak Arga, tolong jaga putri saya dengan baik, ya?" Hartono menoleh pada Arga.


"Pasti, Om, tenang aja."


“Ayo, lekas masuk, Pak Hartono!” Seorang polisi menundukkan kepala pria agar segera masuk ke dalam mobil tahanan.


“Tunggu…!” seru Ria membuat ayahnya menoleh padanya.


Gadis itu langsung menghamburkan diri memeluk sang ayah. Biar bagaimanapun Hartono merupakan orang tuanya.


"Ayah jaga kesehatan, ya, jangan nakal kalau di penjara," ucap Ria seraya menangis, air mata itu akhirnya tak terbendung juga.


Hartono juga tak bisa lagi menahan air mata harunya saat mendengar penuturan putrinya itu.


Pria itu masuk ke dalam mobil tahanan. Pintu mobil tahanan itu ditutup, lalu kendaraan itu melaju menuju rumah tahanan.


Arga merangkul bahu Ria dan memberinya semangat. Dia juga memberi kecupan di kepala gadisnya itu saat melihat mobil tahanan itu menjauh pergi.


 ***


Satu tahun berlalu...


Arya, Anta, Ria dan Arga duduk di kelas 12. Arya dan Ria masuk ke kelas IPS, sementara Arga dan Anta masuk ke kelas IPA. Mereka kini menjadi kakak senior di sekolah tersebut. Tak ada perbedaan junior dan senior, semua berjalan dengan baik saat mereka menjadi anggota OSIS.


Kini, acara penerimaan murid baru di mulai. Arga didapuk menjadi Ketua MOS tahun itu. Semua murid baru berbaris rapi di lapangan untuk mengikuti upacara. Semua mata tertuju pada Bapak Kepala Sekolah yang memberikan pengarahan.


Pria paruh baya yang mengenakan batik warna biru itu sedang melakukan pidato mengenai pengenalan sekolah dan ucapan selamat datang pada siswa-siswi angkatan terbaru. Ia juga memperkenalkan jajaran dewan guru dan staf sekolah serta para panitia MOS di sekolah. Ia juga memperkenalkan fasilitas yang ada di sekolah serta prestasi yang pernah sekolah itu dapat.


Pandangan semua siswi baru tertuju pada Arya dan Arga. Sosok dua pemuda itu makin terlihat tampan.


Postur tubuh mereka yang lebih tinggi juga padat berisi layaknya aktor muda yang terkenal. Dua pemuda itu berdiri bersama tiga pemuda lainnya sebagai contoh murid berprestasi di bidang akademik dan juga non akademik.


“Nta, perasaan aku enggak enak," bisik Ria yang sedang berbaris paling belakang bersama Anta. Keduanya bertugas mengawasi para murid baru.


"Emang enggak enak kenapa?" tanya Anta.


"Tuh, si Arya sama Arga pada tebar pesona! Denger deh cewek-cewek pada bisik-bisik ngomongin cowok kita," ucap Ria lalu mengerucutkan bibirnya.


"Tenang aja, Anta yakin kok mereka setia."


"Awas aja kalau mereka macam-macam, aku santet mereka nanti biar mukanya jelek kayak kodok!"


"Eh, kodok aja ada lho yang jadi pangeran," ucap Anta seraya tertawa.


"Apaan sih, itu mah cerita anak kecil pangeran kodok."


"Cerita anak gede, buktinya pas bagian akhir mereka menikah."


"Tau, ah!"


Anta makin tertawa menggoda Ria. Ia lalu beralih menatap Arya yang sedari tadi tak pernah lepas pandangannya dari gadis itu.


Selesai mengikuti upacara, semua murid baru tetap berkumpul di lapangan sekolah untuk pembagian kelompok selama masa orientasi siswa. Arga menjelaskan kalau di sekolah itu tak ada perbedaan kasta yang di tunjukkan antara senior dan junior di sana. Bapak Kepala sekolah juga melarang keras tindakan semena-mena yang biasa senior lakukan pada adik kelas di beberapa sekolah.


Kemudian, semua murid di ajak berkeliling untuk mengenal sekolah tersebut. Gedung sekolah tersebut didominasi warna cat dinding yang baru yaitu warna abu-abu. Sekolah tersebut penuh dengan bunga janda bolong yang digemari kepala sekolah saat itu. Meskipun masih ada tanaman hias yang di gantung di pot depan kelas.


Di samping tangga terdapat wastafel dan sabun cuci tangan, karena pihak sekolah selalu ingin para siswa menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dengan rajin mencuci tangan. Kebersihan sebagian dari iman, motto tersebut harus selalu dijalankan oleh para murid.


Para murid baru lalu beranjak mengunjungi taman sekolah dan beberapa fasilitas penunjang pendidikan lainnya dari ruang musik, ruang lab, dan lapangan olahraga seperti lapangan basket, bulutangkis dan lapangan bola voli.


Anta duduk di kantin kala itu seraya menikmati siomay di tangannya. Sementara Ria harus terus mengekor pada Arga yang sedang memberi pengarahan. Ia sangat takut jika prianya direbut adik kelas.


"Mbak, sendirian aja, ikut Abang dangdutan, yuk!"


Arya menggoda Anta yang baru saja duduk di sampingnya.


"Idih, najong! Anta maunya nonton layar tancap, Bang, sambil makan kacang rebus, hahahaha..."


"Bisa aja si Neng, makin cakep aja sih!"


Arya meraih siomay di piring Anta.


"Gombal!"


"Seriusan lah... Eh, lihat hantu baru tuh!"


***


To be continue...


Jangan lupa update Noveltoon biar bisa kasih vote sama hadiah ya. Ayo dong, mana votenya.🥰🥰🥰


Selamat menjalankan ibadah puasa.