
Happy Reading...
****
Hantu pemuda itu kini berada disamping Arga. Dia tau kalau Anta dan Arga dapat melihatnya. Hantu itu berdiri, menunduk, dan terlihat basah kuyup. Dia lantas mengangkat wajahnya yang pucat pasi memandang ke arah keduanya lalu dia menangis. Terlihat jelas kala hantu itu meneteskan darah dari kedua matanya.
"Ternyata yang meninggal itu Kak Jojo," lirih Anta.
Arga juga menatap ke arahnya.
"Cuekin aja, Nta, ayo kita pergi dari sini!" ajak Arga.
Pemuda itu menarik lengan Anta agar menjauh, sementara itu Arya terlihat bersama dengan Mey.
"Arya gimana, Ga?" tanya Anta saat berada di parkiran sekolah.
Tasya terlihat sudah menjemputnya. Mobil ibunya Arga juga terlihat di sana.
"Nanti juga sadar kalau lagi nggak sama Mey, perasaan gue sih gitu," ucap Arga.
"Anta....!"
Terdengar Ria berseru dari kejauhan mengejar Anta dan Arga. Kedua anak muda itu menghentikan langkahnya.
"Kalian mau pulang?" tanya Ria.
"Iya, kita mau pulang aja," sahut Anta.
"Kalian tau enggak kalau yang meninggal itu Kak Jo, temennya Abang Dion, tau kan?"
"Iya tau," ucap Anta seraya melirik ke arah hantu Jojo yang menatapnya dari balik dinding ruangan kolam renang.
"Kayaknya dia enggak bisa keluar, Ga," bisik Anta.
"Kayaknya iya, tertahan sama kayak si Dimas," sahut Arga berbisik juga.
"Kalian ngomongin apa, sih?" tanya Ria.
"Bukan apa-apa, udah yuk kita pulang!" ajak Arga.
"Lho, si Mey kan ngajak makan-makan. Ayolah...!" ajak Ria.
"Ummi aku udah jemput tuh," tunjuk Arga.
"Sama, Tante Tasya juga udah jemput," sahut Anta.
"Ayolah... kamu bisa ajak Abang Dion juga," ucap Ria.
"Dion, hah? Kak Dion ya ampun Anta lupa...."
Gadis itu langsung berlari menuju ruang ganti dalam ruangan tadi. Anta sempat melirik ke arah Mey dan Arya. Terlihat sosok pemuda di samping gadis itu layaknya boneka yang tak menjawab sama sekali.
Anta membuka ruangan ganti itu. Terlihat hantu Dimas duduk di samping Dion seraya tertidur.
"Ada gitu hantu tidur," gumam Anta.
Gadis itu menepuk bahu Dion dan membangunkan pemuda itu.
"Hoaammm, gue masih ngantuk!"
Kedua mata pemuda itu masih terpejam.
"Jiah, dia nambah tidurnya, apa jangan-jangan kebanyakan dosis ya," gumam Anta lalu membangunkan lagi pemuda itu.
Plak!
Pukulan di bahu Dion makin terasa panas dan sakit.
"Duh, sakit tau!" pekik Dion.
"Makanya bangun, ada yang meninggal, Kak."
Gadis itu tertunduk lesu.
"Meninggal? Siapa yang meninggal?"
Dion langsung bangkit dan mengguncang bahu Anta. Hantu Dimas juga ikut bangkit karena terbangun mendengar seruan Dion barusan.
"Ada yang meninggal juga kali ini meskipun anak ini sudah kamu sekap?" tanya Dimas.
"Iya, ternyata meskipun Kak Dion udah Anta kurung di sini sampai Anta bikin pules, eh masih ada aja yang meninggal," jawab Anta menoleh pada Dimas.
"Elo ngomong sama siapa?" tanya Dion.
"Sama Kak Dimas yang kalian bilang hantu legenda," jawab Anta.
Dion bergidik ngeri dan langsung merasakan tubuhnya merinding. Namun, ia merasakan hawa yang berbeda kali ini. Hantu Jojo sudah mendekap pemuda itu dari belakang.
"Kenapa punggung gue dingin banget ya, mana kayaknya berat banget nih?" tanya Dion.
"Nah, itu yang Anta mau kasih tau."
Anta menyentuh tangan Dion dan memperlihatkan sosok Jojo ke arah pemuda itu.
"Elo ngapain Jo, nemplok di punggung gue kayak gini?" tanya Dion.
Jojo tersenyum lalu makin erat memeluk tubuh Dion.
"Kok, badannya si Jojo basah banget sih?" gumam Dion.
Ia kembali menoleh pada Jojo dan langsung tersentak melepas pelukan hantu itu.
"Jo, kok elo berdarah?" tanya Dion dengan nada ketakutan.
"Maksud Anta ini, yang meninggal itu Kak Jojo," ucap Anta seraya terisak.
"Hah, elo udah meninggal Jo?"
Dion bertanya sambil bersembunyi di belakang punggung Anta. Kedua kakinya mulai gemetar.
"Menurut elo? Gue udah berdarah gini dibilang masih hidup gitu, gue juga maunya masih hidup, gara-gara si Ferdian tuh rese banget, leher gue dipatahin," ucap Jojo bersungut-sungut kesal.
"Ferdian juga mati?" tanya Dion.
"Tau, coba tanya tuh cewek!"
Hantu Jojo menunjuk ke arah Anta.
"Anta belum tau, tapi kayak nya Kak Ferdian dibawa ke UKS, masih hidup. Kalau dia udah meninggal pasti reuni di sini bareng Kak Jo," sahut Anta.
"Hiy... ni bocah kocak ya, tadi aja belagak pura-pura kaga kenal gue, taunya bisa liat gue juga, kan?"
Suara derap langkah kaki cepat terdengar dan membuka pintu ruang ganti itu seketika.
"Anta!" seru Arga.
"Nah, ini bocah juga bisa lihat gue, iya kan?" tanya Jojo menghampiri Arga.
"Udah ngaku aja, terlanjur!" ucap Anta.
"Hmmm... Terus kenapa kalau saya bisa lihat kamu?" tanya Arga.
"Ih nih cowok gemesin juga lama-lama. Tau enggak padahal gue udah lama ngeliatin elo, gue pikir elo lebih cakep dari Dion, tapi elo dingin cuek mana mainnya sama dia mulu, gue males aja deketin nih cewek," ucap Jojo menunjuk Anta seraya mengamati wajah Arga yang tak mau menatapnya.
"Dih, salah Anta apa, dari tadi nunjuk Anta terus?" celetuk Anta.
"Udah deh diem, terus kenapa gue masih ada di sini mana ketemu hantu juga kayak dia, terus gue juga enggak bisa keluar dari sini, kenapa tuh?" tanya Jojo.
Semuanya terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan Jojo barusan.
"Kok kalian pada diem?" tanya Jojo mulai gusar.
"Tadi kan kata Kak Jo, suruh diem, jadi Anta diem enggak jawab," sahut Anta.
Dion dan Arga terlihat menahan tawa kala mendengar jawaban polos Anta barusan.
"Hisss makin gemes sama ini cewek, ya udah sekarang jawab, kenapa gue masih di sini?" tanya Jojo sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Anta juga enggak tau," jawab gadis itu.
"Hisss...!"
Jojo makin berteriak kesal.
"Udah sini sama gue aja, gue tatar dulu sini jadi hantu baru, gue ajarin cara jadi hantu di sini, gue juga enggak tau caranya keluar dari sini, yang jelas gue terjebak sama kayak elo, dan hantu lainnya yang terjebak di beberapa ruangan sekolah sini," ucap hantu Dimas.
"Elo siapa?" tanya Jojo.
"Gue Dimas, gue hantu pertama penunggu sekolah ini, kalian pada bilang gue hantu legenda," ucap Dimas dengan nada bangga.
"Apa? Hantu legenda? Jadi, kata mereka soal habtu di kolam renang yang melegenda itu benar rupanya," ucap Jojo.
"Ya udah, ayo ikut gue keliling kolam renang sambil gue jelasin tata cara jadi hantu sini!" ajaknya.
"Hmmm... ya udah gue ikut sama elo Kakak senior gue. Oh iya, Dion gue mau tiap hari elo ke sini ya, bawain gue bunga mawar setangkai!" ucap Jojo memberi perintah pada Dion.
"Genit banget luh mintanya bunga," sahut Dion.
"Kalau elo enggak nurutin gue, nanti tiap elo latihan gue gangguin," ancam Jojo.
"Iya, iya, gue turutin."
"Eh bentar deh, gue mau lihat nyokap gue dulu," ucap Jojo lalu berlari menembus dinding menuju ke tempat kejadian di mana ibunya masih berada di sana kala itu.
Anta memutuskan untuk mengikutinya bersama Arga dan Dion.
"Nah, ini kalian pada darimana?"
Ria langsung muncul dan menghadang ketiganya.
"Nih, habis cari Kak Dion yang ketiduran di sini," jawab Anta.
"Enak aja ketiduran, kan elo yang bikin gue tidur," sahut Dion seraya mendorong punggung Anta pelan.
"Hah, Kak Dion ketiduran di sini? Pantes aja tadi enggak ikut lomba," ucap Ria.
"Nta, aku jadi berpikir, kenapa tiap tahun ada aja yang meninggal di sini dan para hantu itu genap berumur 17 tahun, apa karena ada yang menumbalkan mereka?" tanya Arga menahan lengan Anta seraya berbisik.
"Anta juga heran, tapi Anta juga enggak tau siapa orangnya. Kalau kita mau nuduh Pak Heru, dia udah meninggal, terus kira-kira siapa dong?"
"Kita harus cari tau itu," ucap Arga.
"Gue ikutan, gue juga mau tau siapa yang menyebabkan Jojo meninggal selain kecelakaan tadi," sahut Dion yang menyimak sedari tadi.
Sementara Ria malah terlihat bingung dengan pembicaraan ketiga orang di hadapannya itu.
****
To be continue…
Jangan lupa kepoin "DERING"
Novel baru aku di Noveltoon ya...
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni