
Happy Reading...
*****
"Lima belas tahun yang lalu aku dijodohkan dengan pria bernama Aji Setiaji. Anak dari pemilik kebun singkong yang usaha kuliner kripik singkong dan cemilan berbahan singkong sedang maju pesat. Harusnya Aku meminta pembatalan pernikahan karena aku memiliki pacar, supir keluarga calon suamiku. Tapi karena ayahku berhutang dengan ayahnya sebelum meninggal dunia, maka pernikahan kami tetap terlaksana. Padahal aku sempat mendengar dari pacarku yang bernama Tomi kalau dia sempat menghamili remaja SMA sebelum pernikahan kami terjadi."
Semua menyimak dengan saksama penuturan Mani. Dita menatap lekat penuh keingintahuan.
"Tomi juga bilang kalau perselingkuhan antara calon suamiku dan remaja SMA tersebut sudah terjalin tiga bulan sebelum pernikahanku berlangsung. Seketika itu juga sekitar seribu undangan disebarkan ke relasi keluarga dan teman. Padahal aku diserang dilema dahsyat karena nanti setelah pernikahan aku takut nantinya tidak akan bahagia. Namun, ibuku tetap meyakinkan untuk menikahi pria tersebut."
Tasya datang seraya tersenyum untuk mengambil Fasya dan Disya kala Dita dan yang lainnya sedang menyimak.
"Duh, hantu baru dari mana, nih?" tanya Tasya yang berjalan menjauh dari hantu tersebut.
"Ini hantu bawaanya Raja, lagi aku tanyain masa lalunya. Kalian bawa Fasya sama Disya sana! Mereka nangis terus!" seru Dita.
"Mana anaknya?"
"Sama Mami Aiko sama Arya ke kebun, mereka takut liat Ratu Sanca," ucap Dita.
"Ratu Sanca?" tanya Tasya dengan wajah penasaran.
"Iya, tuh lagu jagain si kembarku," ucap Dita.
"Ya ampun, aku pikir si Dira sama Adam lagi main boneka ular taunya itu Ratu Sanca!" pekik Tasya langsung mendekati Ratu Sanca.
Dita kembali menyimak ke arah hantu Mani.
"Lanjutin lagi," pinta Dita.
"Baiklah, sampai akhirnya ada seorang gadis datang ke rumah meminta pertanggung jawaban suamiku. Tapi menurut suamiku gadis itu hanya berhalusinasi, dia hanya ingin memanfaatkan suamiku, gadis itu mengharapkan harta miliknya dan ayahnya."
"Lalu?" Anta yang kini mendekat.
"Oma mau rebahan dulu, pegel juga gendong anaknya Tasya," ucap Aiko.
"Makasih ya Tante, maafkan aku hehehe," ucap Tasya.
"Lain kali jangan main dokter-dokteran masih sore gini," ucap Aiko tersenyum menggoda Tasya.
"Duh...."
"Maksudnya apa sih, Bunda?" tanya Arya.
"Nggak ada maksud apa-apa, nggak usah dipikirin!" seru Tasya menatap Arya tajam.
Mani kembali menceritakan masa lalunya.
"Aku ingat betul nama gadis itu adalah Septi, lalu orang tua dari suamiku membawa Septi pergi dengan mobilnya. Mereka malah menyebarkan cerita kalau Septi hamil dengan Tomi. Keduanya dinikahkan dan diberi uang. Setelah itu aku dengar Septi dan Tomi tak pernah kembali entah apa yang mereka lakukan pada keduanya. Yang jelas menurut mertuaku dia bilan anak itu bukan hasil hubungannya dengan suamiku, gadis itu hanya memanfaatkan kekayaan suamiku," ucap Mani.
"Kok, jadi bisa itu anaknya siapa Tomi, sopir di rumah itu, emangnya kenal sama Septi?" tanya Dita.
"Entahlah, itu rumor yang disebarkan karena menurut mereka Septi hanya meminta uang lalu pergi jauh dengan Tomi, begitu kata ibu mertuaku. Tapi aku tak percaya begitu saja, aku merasa selalu dihantui seorang wanita yang mirip seperti Septi dia datang di balik jendela kamar dengan wajah pucat dan luka leher yang menganga seperti terkena gorokan senjata tajam. Sosok itu menangis di luar rumahku, saat aku mencoba membuka tirai dan dia bilang aku harus pergi dari rumah itu," ucap Mani.
"Memangnya kenapa kau harus pergi dari rumah singkong itu?" tanya Dita.
"Karena aku akan berakhir seperti ini," ucapnya.
Raja yang sudah selesai membersihkan tubuhnya menyimak dari sisi daun pintu dengan saksama.
*****
To be continue...