
Jangan lupa bayar tulisan Vie pakai poin kalian buat VOTE ya, terima kasih.
******
Hari itu pengenalan kegiatan ektrakurikuler yang ada di sekolah oleh para kakak kelas. Di sana juga ada pameran kuliner ala jajanan yang murah meriah.
"Duh, ini nemu terus ya," gumam Ria yang memperhatikan kertas foto polaroid hasil jepretannya.
"Nemu apa?" tanya Anta.
"Ini penampakan para tante berdaster lusuh," jawab Lia menunjukkan hasil tangkapan gambarnya.
"Hahaha, jelas aja lah, itu pohon besar di sana itu sarang para tante berdaster lusuh itu, bisa aja Ria," ucap Anta.
"Pada ngeliatin sama ngetawain apa, sih?" tanya Mey yang datang tiba-tiba menghampiri.
Ria dengan sigap meraih lembaran foto yang terdapat penampakan. Ia menyembunyikan dari Mey dan para murid lainnya daripada dibilang aneh.
"Enggak, ini hasil foto aku jelek banget," jawab Ria.
Pluk!
Sebuah bola basket mendarat di pipi kanan Anta dan langsung membuatnya pusing.
"Duh, kok di atas kepala Anta ada burung pada terbang ya," gumam Anta.
"Anta, kamu mimisan!" seru Ria dan Mey.
Keduanya langsung panik dan meraih tisu untuk mengusap darah yang mengucur dari hidung mungil Anta. Gadis itu langsung tak sadarkan diri.
"Waduh, dia pingsan, sorry nih gue enggak sengaja," ucap Dion yang berlari panik menuju Anta seraya meraih bola basket.
"Bawa ke ruang UKS!" perintah Ria.
Dion langsung menyerahkan bola basket itu pada Jojo dan mengangkat tubuh Anta. Ia membopong gadis itu menuju ruang UKS. Fani dan Lisna memperhatikan kepanikan itu dengan saksama. Mereka mengikuti langkah Ria dan Mey di belakang ikut menuju ruang UKS.
"Ini anak, kenapa?" tanya seorang staf kesehatan penjaga ruang UKS.
"Kena bola basket, mimisan, terus pingsan," sahut Dion yang langsung meletakkan Anta ke atas kasur matras di ruangan itu.
"Pasti kamu yang lempar bolanya, ya?" terka wanita yang menggunakan jas ala tim medis itu.
"Ya saya, Bu, makanya saya tanggung jawab bawa dia ke sini," sahut Dion.
"Yang lainnya pada ke luar, jangan ngumpul di sini!" serunya mengusir para murid lainnya yang masih menyimak melalui kaca jendela.
Wanita bernama Ibu Pipi itu langsung memeriksa kondisi Anta.
"Wah, pipinya memar, tunggu di sini aku cari krim buat memarnya," ucap Ibu Pipi.
Dion tak sengaja memperhatikan rok Anta yang tersingkap dan memperlihatkan paha mulus gadis itu. Anak muda itu langsung meraih selimut dan menutupi kaki gadis itu. Sekilas Ibu Pipi melihat perlakuan Dion pada Anta. Ia tersenyum karena itu.
Setelah Anta diberi krim anti memar, ia mencoba untuk menyadarkan gadis itu dengan mengoleskan minyak kayu putih. Karena tak kunjung sadar juga, ia putuskan untuk memakai minyak angin yang aromanya lebih kuat.
"Bu, itu kan minyak angin buat nenek-nenek," tunjuk Dion.
"Sembarangan buat nenek-nenek, ini minyak punya saya tau, gak, asli dari Papua," jawabnya.
Tak lama kemudian Anta mulai menggerakkan tangannya, lalu mengusap bagian bawah hidungnya.
"Wah, sadar juga nih bocah," ucap Dion seraya memperhatikan wajah Anta.
"Hatchi!"
Semburan cairan saliva dari mulut Anta sampai juga mendarat di wajah Dion.
"Tokek! Masa gue disembur jigong elo!" hardik Dion.
"Maaf, habisnya bau banget minyak ini nyengat banget mana atas bibir Anta panas banget lagi," ucap Anta.
Gadis itu mencoba bangkit untuk duduk. Dion dengan reflek membantunya.
"Bu, boleh masuk, kan?" tanya Ria yang mengintip dari celah pintu ruangan UKS yang sedikit terbuka.
"Boleh, nih jemput temennya bawa ke jelas, udah sadar," jawab Ibu Pipi.
"Makasih, Bu."
Mey dan Ria langsung masuk menghamburkan diri ke Anta.
"Gue duluan," ucap Dion yang hendak pergi tapi tangan Ria menahannya.
"Abang, enggak boleh gitu, minta maaf dulu sama Anta!" seru Ria.
"Hah, Abang?"
Anta dan Mey mengusap bersamaan kala mendengar penuturan Ria barusan.
"Iya, dia Abang sepupu aku, mamanya dia sama mamanya aku adik kakak," jawab Ria.
"Oh, sepupu," cicit Anta.
"Heh, kan udah gue bilang jangan ngaku gue sepupu nanti elo malah digodain sama musuh-musuh gue!" Dion menoyor dahi Ria.
"Abang, ih! Makanya jadi anak baik biar enggak banyak musuh, ntar aku bilangin Mama, lho!" ancam Ria.
"Bawel!"
"Minta maaf dulu sama Anta," ucap Ria menahan tangan Dion lagi.
"Iya, bawel! Nih, maaf."
Dion mengulurkan tangannya pada Anta.
"Yang sopan Abang..." Ria melirik tajam.
"Hadeh, rese banget luh! Nih, maafin gue ya," ucap Dion datar.
"Senyum yang ramah dong!" seru Ria.
Dion memaksakan wajahnya untuk tersenyum saat menjabat tangan Anta.
"Aw...!" Dion melepas tangan Anta tiba-tiba.
"Kamu kenapa, ada yang salah sama Anta?" tanya gadis itu.
"Enggak, sih, tapi kok gue kayak kesetrum," gumam Dion seraya memperhatikan telapak tangannya yang habis menjabat tangan Anta.
"Apa, kesetrum? Cie, itu tandanya ada sesuatu nih yang Abang rasain sama Anta," ledek Ria.
"Bawel! Sotoy! Gue kasih tau sekali lagi jangan panggil gue Abang, ngerti?" hardik Dion.
"Ini masih pada ngapain sih ngumpul di sini? Sana, pada balik ke kelas!" seru Ibu Pipi mengusir semuanya.
Anta turun dari ranjang kecil tersebut sambil bertumpu pada Mey untuk menahan lengannya.
"Makasih ya, Bu," ucap Anta.
Kemudian, semuanya ke luar dari ruangan UKS.
***
"Nih, buat elo!"
Dion menyerahkan satu kotak wafer cokelat pada Anta sepulang sekolah.
"Buat Anta?"
"Buat kucing elo!" seru Dion.
"Tapi, Anta enggak punya kucing," jawab Anta.
Dion mengetuk kepala Anta berkali-kali.
"Elo waras, kan?"
"Apaan, sih, kan tadi Kakak bilang buat kucing Anta, nah Anta jawab enggak punya kucing."
"Ini, buat elo, tadi cuma... ah sudahlah, makan aja!" Dion mendorong kotak wafer itu ke perut Anta.
"Ini beli di mana?" tanya Anta lagi.
"Di tukang bangunan," jawab Dion asal.
"Emang ada tukang bangunan deket sini, terus jualan wafer?"
Anta sengaja bertanya hal-hal aneh untuk mengerjai Dion dan membuat anak itu kesal.
"Gue beli di ibu kantin, gue borong satu kotak, buat elo! Udah makan aja, bawel!"
Dion melangkah pergi kemudian.
Anta masih mengamati sekotak wafer tersebut sambil menggumam.
"Satu kotak isinya ada 12 batang, lumayan lah buat bagi-bagi," gumam Anta.
Dion menoleh sekilas pada gadis itu sambil tersenyum kecil lalu pergi.
"Heh, sini elo!"
Fani langsung menarik lengan Anta dan membawanya masuk ke kamar mandi yang berada di sudut koridor.
"Jangan kecentilan deh sok-sokan deketin Dion, asal tau aja ya Dion itu punya gue!" hardik Fani mendorong dada Anta sampai tersudut di depan cermin kamar mandi.
"Siapa yang kecentilan, Kak?" tanya Anta dengan wajah polosnya.
"Berisik, elo! Nih, silakan kenalan sama penunggu kamar mandi ini, oh iya, elo tau pocong, kan?" tanya Fani menunjuk-nunjuk Anta dengan jari telunjuknya sedari tadi.
"Tau," jawab Anta.
"Nah, bagus kalau tau, jadi gue denger-denger di sinu ada pocongnya, uuhhh serem, selamat berkenalan," ucap Fani lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.
Gadis itu bersama rekannya langsung pergi meninggalkan Anta.
"Kunci kamar mandinya elo taro lagi di temoat penjaga sekolah," ucap Fani pada Lisna.
"Oke, tapi gimana itu anak ya, yang terakhir aja si Dea jerit-jerit ketakutan katanya liat pocong sampai enggak ke sekolah tiga hari gara-gara syok badannya panas?" tanya Lisna.
"Udah sih, biarin aja, paling kalau dia ketemu sama pocong terus dia pingsan, deh, hahaha..." ucap Fani dengan tawa puasnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Anta mencoba untuk duduk di tepi wastafel.
Pocong penunggu kamar mandi muncul dengan cara mengintip dari bilik toilet.
"Yah, dia lagi gue pikir siapa gitu yang di bully masuk sini terus gue bisa takutin, taunya elo," ucap pocong itu.
"Siapa, say, yang di bully sama si Fani sampai dikunci di sini?" tanya hantu muka rata.
"Anak yang kemarin, nih!" sahut Pocong tersebut.
"Hai, Kakak!" sapa Anta.
"Hmmm... ini mah mana takut sama kita, kamu kenapa sampai bisa dikunci di sini sama Fani?" tanya hantu muka rata.
"Enggak tau, kata dia Anta centil sama Kak Dion," jawab Anta.
"Wah, tuh cewek masih enggak kapok juga ngaku-ngaku jadi pacar Dion, jelas-jelas itu berondong pasti maunya sama gue yang lebih cantik ini," ucap si hantu muka rata.
Hantu pocong menatapnya dengan sinis.
"Kalau ngomong ngaca dulu, muka aja masih belum bener udah ngaku cantik!" seru si Pocong.
"Ih sembarangan muka elo tuh, item semua kaya pantat panci gosong hahaha," sahut si Muka Rata.
Bug!
Hantu pocong itu langsung mengantuk kepala si hantu muka rata dengan wajahnya.
"Heh, kok pada berantem, sih! Nih, Anta bawa perlengkapan salon Tante Tasya, untung aja tadi enggak ada razia di sekolah," ucap Anta mengeluarkan pouch berisi alat rias milik Tasya.
******
Temanya masih ala kpop ya visual tambahannya wkwkwk...
To be continue…
Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN” biar
nyambung sebelum baca ke novel ini.
Makasih semuanya… Vie Love You All…
Follow IG : @vie_junaeni
Dan mampir juga ke novelku lainnya.