Anta's Diary

Anta's Diary
S2 - Hantu Rumah Singkong Bertemu Dita



Happy Reading...


Di belakang tubuh Raja, sosok wanita duduk di boncengan sepeda. Sosok dengan rambut panjang berantakan sampai menutupi wajah itu melambaikan tangan ke arah Dita. Sosok itu memakai daster lusuh dengan bau singkong goreng yang tercium tetapi kali ini aromanya mulai tercium bau gosong.


"Idih, tadi perasaan nggak ada, kok bisa-bisanya ada Tante Singkong!" hardik Raja.


"Kamu mau apa mengikuti anak saya?" Dita menyerahkan Dira dan Adam pada Anta dan Ratu Sanca.


Dita mendekati hantu yang tersenyum menyeringai di belakang putranya itu.


"Maafkan saya, sebelumnya saya tak pernah bisa keluar dari rumah singkong. Akan tetapi, saat anak ibu datang ke rumah itu, saya bisa keluar dan berkomunikasi dengan manusia seperti kalian," ucapnya.


"Rumah Singkong?" tanya Dita.


"Iya, Bu, rumah kosong yang di dekat rawa dan kuburan itu," ucap hantu itu.


"Aduh, mulutnya cepu banget ini setan," ucap Raja seraya mengusap wajahnya dan berusaha menjauhi Dita.


"Raja ... oh begitu ya sekarang, kamu ngapain main ke rumah kosong? Kamu mau uji nyali apa bikin konten pemburu hantu, gitu?" Dita menarik daun telinga kiri milik Raja.


"Aduh, aduh, aduh, ampun Bunda! Anji yang ajak aku sama Robi buat bikin video, maafin aku, Bunda!" pekik Raja mencoba melepaskan diri.


"Kenapa nggak pernah bilang sama, Bunda? Masalahnya bukan karena hantu yang Bunda takutin, tapi kalau rumah kosong itu bangunannya mulai rapuh nanti kalau kejatuhan reruntuhan gimana, terus kalau ada ular besar nyeremin terus makan kamu gimana?"


"Ehm, ehm, ehm," sahut Ratu Sanca sengaja berdehem lebih kencang.


"Maaf Ratu, bukan ular kayak kamu maksudnya hehehe, ular sanca yang asli atau ular berbisa macam kobra, atau rumah itu jadi sarang penjahat ngumpet yang bisa nyakitin kamu, kamu tuh ya—"


"Maaf, Bu, rumah itu tak ada ular karena saya rajin bersih-bersih. Rumah itu juga tak ada penjahat karena pasti takut sama saya, jadi–" hantu itu mencoba menyela tetapi Dita sudah menarik ujung bibirnya dengan tangan satunya.


"Diam kamu! Saya lagi ngomel sama anak saya, jangan ikut campur!" Dita kembali menatap tajam ke arah Raja.


"Maafin aku, Bunda, lain kali aku bilang deh sama Bunda kalau mau ke rumah kosong," ucapnya.


"Tetep aja nggak boleh! Bunda nggak akan izinkan kamu ke tempat sepi dan menyeramkan manapun, paham?"


"Paham, Bunda." Raja menundukkan kepalanya.


"Sekarang masuk! Terus mandi!" seru Dita pada Raja.


Raja melangkah lesu seraya menyerahkan ikan kepada Ratu Sanca.


"Terima kasih, Raja, maaf ya gara-gara saya kamu dimarahin, Bunda," ucap Ratu Sanca.


Raja hanya menggelengkan kepalanya lalu melangkah masuk menuju ke kamarnya.


"Bunda kamu serem ya, pantes aja hantu pada takut," bisik Arya.


"Ya, begitulah ... namanya juga emak-emak. Kalau masih ngomel sama anaknya itu tandanya masih sayang," sahut Anta.


Anta dan Arya masih memperhatikan Dita yang berjalan memutar mengamati hantu dari rumah singkong yang gosong itu.


"Nama kamu siapa?" tanya Dita.


"Nama saya Mani," ucapnya.


"Apa?"


Dita langsung tertawa terbahak-bahak kala mendengar nama hantu tersebut.


"Serius nama kamu itu?" tanya Dita lagi.


"Iya, itu nama dari kakek saya. Orang dulu kalau menamai anaknya singkat," tuturnya.


"Tapi nama kamu itu ... ah sudahlah, kamu kenapa bisa meninggal dan menjadi penunggu rumah kosong itu?" tanya Dita.


"Suami saya yang kurung saya di sana, dia bunuh saya dan kubur saya di rumah itu. Lalu, dia memasang pagar gaib agar arwah saya yang gentayangan tak bisa keluar dari sana. Tapi, ada kemungkinan Raja dan teman-temannya merusak pagar gaib itu," ucap hantu Mani.


"Suami kamu yang bunuh kamu?" tanya Dita.


"Iya."


Hantu wanita itu mulai menangis mengeluarkan tetesan darah dari kedua matanya.


*****


To be continue...