Anta's Diary

Anta's Diary
Bangunan Tua



Happy Reading


******


"Oh iya, kita ke sini kan mau berburu hantu buat youtube aku," ucap Anji padahal dia yang terlihat paling takut sedari tadi.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti kalau beneran ketemu hantu juga pada ngibrit," sahut Raja.


"Hmmm... Kalau sama-sama kalian gini, aku nggak jadi takut deh, yuk kita buat rekaman!" ajak Anji.


Bocah yang duduk di kelas tiga sekolah dasar itu langsung bergaya di depan kamera bersama Robi yang masih asik mengunyah. Seolah-olah m-ereka menjadi pembawa berita bertemakan cerita horor. Sesekali mereka sorot bangunan tua bagian dalam itu dan membuat suara yang terdengar menyeramkan.


"Kamu lihat bapak yang pakai baju hitam tadi, kan?" bisik Imran pada Raja.


Raja menatap kawannya tak percaya.


"Aku tahu kamu bisa lihat dia, kayak aku," bisik Imran kembali pada Raja.


"Kamu bisa lihat hantu?" tanya Raja akhirnya.


"Sejak aku lahir, aku bisa lihat mereka. Tadinya aku pikir hanya aku yang berbeda, tetapi hari ini aku yakin kalau kamu juga bisa lihat apa yang aku lihat."


Imran tersenyum pada Raja. Tiba-tiba saja kedua mata anak itu menangkap sesuatu di lantai bawah.


"Ja, itu manusia apa hantu?" tanya Imran seraya berbisik.


Sosok wanita yang memakai gaun putih lusuh seperti zaman Belanda menatap ke arah kedua bocah itu dengan tatapan tajam. Wajahnya melukiskan gurat amarah. Di tangannya tergenggam kapak merah. Ia acungkan senjata tajam itu pada Raja dan Imran.


"Apa yang kalian lakukan di rumahku?" tanya wanita itu dengan suara membentak.


"Guys, kayaknya kita harus pergi dari sini!"


Raja mencoba memberi peringatan pada Anji dan Robi yang masih sibuk merekam video dan menangkap gambar suasana dalam bangunan tua itu.


"Kenapa sih, kamu takut ya dari tadi ngajak pulang terus?"


Robi berseru seraya meremas bungkus chiki di tangannya dan melempar sembarangan. Sayangnya bungkus sampah itu tepat mengenai hantu wanita yang berada di bawah itu.


"Dasar anak-anak nakal, kurang ajar, akan kubunuh kalian!"


Hantu wanita itu berteriak seraya mengacungkan kapak merah itu dan berniat melangkah naik. Namun, hantu pria dengan luka berongga di perut itu menahan si hantu wanita.


"Lekas lari, kalau dia marah, dia bisa melakukan apa saja!" seru pria itu.


Imran dan Raja saling menatap satu sama lain. Lalu tanpa aba-aba lagi mereka langsung berlari cepat menuruni anak tangga. Robi dan Anji langsung mengikuti kedua temannya.


"Woi, kalian mau ke mana? Kalian lihat hantu, ya?" tanya Robi.


"Udah jangan banyak tau, ayo cepat ke luar!" seru Raja.


Keempat anak itu akhirnya berhasil ke luar dari bangunan tua tersebut. Dalam derasnya hujan itu hampir saja Imran tertabrak sebuah kendaraan pick up yang langsung mengerem mendadak.


"Hei, pada ngapain di sini?"


Anan membuka kaca mobil miliknya.


"Yanda?"


"Cepat masuk!" tegas pria itu.


Berhubung di kursi depan hanya muat untuk dua orang akhirnya Anji dan Robi naik di bagian belakang yang sudah tertutup terpal warna biru. Mereka bercampur baru dengan ikan segar yang baru Anan ambil dari nelayan di pantai.


"Si Raja sama Imran kenapa sih, ganggu banget," keluh Anji.


"Lagian kenapa juga kita ikut mereka lari ke luar," sahut Robi.


"Ya mana aku tau, aku liat kamu lari ya aku ikut lari."


"Besok kita ke sini lagi, pulang sekolah atau sore kalau perlu nginep, kalau malam kan lebih seru," ucap Anji memberi saran.


"Giliran demi konten video kamu aja langsung enggak takut, huuuuu!"


Anan memandangi Raja dan Imran yang terlihat pucat.


"Kalian habis ngapain ada di situ tadi?" tanya Anan.


"Tadi kita enggak sengaja kehujanan terus neduh di situ," jawab Raja berbohong.


"Oh, gitu... di sana angker lho, emang enggak takut?" tanya Anan.


"Takut, Om, serem banget!" sahut Imran.


"Aku harus taruh ikan ini dulu di toko soalnya ada pembeli yang nungguin, nanti aku antar kamu pulang, ya," ucap Anan pada Raja.


"Oke, Om."


Tin Tin.


Seorang pengendara motor melintas di samping mobil Anan yang sudah berhenti di dekat toko ikan milik pria itu.


"Bos, gue pesen dua pack ikan tuna, ada nggak?" tanya pria bertubuh kurus dan jangkung itu.


"Eh, Bang Togar, ada sih tadi tapi gue enggak bawa, gimana kalau besok gue ambil?" tanya Anan.


"Boleh, besok antar ke rumah, ya," pinta Togar.


Anan mengangguk seraya tersenyum. Namun, saat pria itu melaju pergi, Imran terlihat pucat dan gemetar seperti orang yang mual mabuk perjalanan.


"Kamu kenapa?" tanya Raja.


"Aku, aku, aku enggak bisa lihat bayangan dia di kaca spion itu," ucap Imran.


"Maksud kamu?"


"Terserah mau percaya apa nggak, tapi kalau aku nggak bisa lihat bayangan seseorang itu di cermin, itu artinya ajal dia bakal datang mendekat," ucap Imran ketakutan seraya mencengkeram bahu Raja.


Anan mendengar ucapan anak itu barusan. Ia langsung mendekat dan mencoba menenangkan.


"Itu cuma perasaan kamu aja kali, udah jangan terlalu dipikirkan. Kalian masuk dulu, yuk!" ajak Anan.


"Aku pulang aja, Om, rumah aku di belakang situ," ucap Imran.


Anak itu segera berlari menjauh tanpa menoleh ke arah Anan dan Raja lagi. Ia terlihat sangat ketakutan.


"Aneh tuh bocah," gumam Anan.


"Kalau ternyata yang dia bilang itu bener gimana, Yanda?" tanya Raja.


"Ummm... gimana ya aku nggak percaya sih, kalaupun benaran paling hanya kebetulan semata. Oh iya, jangan panggil saya Yanda, ya."


"Tapi—"


"Pokoknya jangan, panggil aja Om!" seru Anan seraya mengangkat satu box ikan salmon.


Raja mengikuti pria itu masuk ke dalam toko. Seorang wanita paruh baya tampak terkejut menatap kehadiran anak itu di belakang Anan.


"Itu siapa?" tanya wanita itu.


"Oh, anaknya yang punya restoran The Anan's waktu itu, tadi kehujanan di jalan, ini aku mau antar pulang, Nek," jawab Anan.


"Halo, Nek, kenalin nama aku Raja," ucap Raja seraya menarik tangan kanan wanita itu dan mencium punggung tangan wanita itu.


Wanita itu tersenyum pada Raja seraya mengusap rambutnya.


"Duh, manis banget kamu, mirip banget sama kecilnya Anan. Halo, nama saya Nenek Darma."


"Ja, Om ganti baju dulu ya, kamu mau ganti baju nanti Om cariin baju yang udah kecilan," ucap Anan.


Raja menganggukkan kepala.


"Nenek buatin mie rebus, mau?" tanya Nenek Darma.


"Mau banget, Nek, sama teh manis anget juga boleh, hehehe..." sahut Raja.


"Benar-benar mirip Anan kalau ceplas ceplos."


Wanita paruh baya itu lantas menuju ke arah dapurnya.


*****


To be continue…


Jangan lupa kepoin “POCONG TAMPAN”


biar nyambung sebelum baca ke novel ini.


Makasih semuanya… Vie Love You All…


Follow IG : @vie_junaeni