Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 99 - Big Boss



Roda kehidupan selalu berputar. Tidak ada satu orangpun akan tetap pada posisinya. Ada yang turun menjadi naik. Ada yang naik semakin naik. Ada yang naik menjadi turun dan ada yang turun semakin turun. Semua itu di sebabkan tergantung kepada tindak tanduk kita sebagai seorang manusia. Apakah bisa menerima dan terus berusaha ketika terpuruk. Apakah bisa mawas diri ketika di atas.


Setiap kondisi yang terjadi di dalam kehidupan yang kita jalani. Semua adalah sesuai dengan apa yang kita lakukan. Tidak bisa kita menyalahkan orang lain atas jatuhnya kita atau mendewakan orang lain atas kesuksesan kita.


Contoh nya Cornelia, dia sudah jatuh atas semua perbuatan jahat yang telah dia lakukan selama ini. Namun, dia tidak pernah mau mengakui kesalahannya. dia tetap menyalahkan seseorang atas apa yang terjadi kepada dirinya.


"Jadi, dia sudah menikah lagi? Sungguh dia wanita yang beruntung karena mendapatkan pria yang kekayaannya melebihi mantan suaminya dan juga kedua orang tuanya." Cornelia menyeringai.


Seringainya yang ditunjukkan oleh seorang wanita yang menyimpan dendam begitu sangat menakutkan.


"Kalian kirimkan ini. Ingat jangan ada yang menerima surat ini selain dia. Pastikan hanya dia." Cornelia mengecam anak buahnya.


"Siap, saya akan pastikan dia yang akan menerimanya." Pria itu menerima sepucuk surat yang telah di tulis oleh Cornelia.


Cornelia begitu merasa terhibur dengan berita hari ini dan berita yang akan datang.


"Kita lihat saja. Apa yang akan menjadi keputusanmu." Cornelia menaikkan kedua alisnya sambil terus tersenyum.


...****************...


Bi Imah sampai di rumah megah milik tuannya yang baru. Dia segera mencari Dinniar.


"Ibu dimana?" tanyanya kepada Surti baby sitter Tasya.


"Sepertinya ada di halaman samping, bi." Surti menunjuk ke arah halaman.


Bi Imah langsung pergi ke arah halaman samping dan melihat Dinniar sedang memotong beberapa tangkai bunga.


"Bu." panggil bi Imah.


"Bi, kenapa? kok kayak panik gitu mukanya?" tanya Dinniar sambil beranjak dari posisinya yang sedang berjongkok.


"Anu, Bu." Bi Imah bicara sambil *******-***** jarinya.


Dinniar melihat kepanikan yang teramat dalam dari wajah asisten rumah tangganya sepulang dari rumah Dinniar.


"Apa bapak ke rumah?" tebak Dinniar segera setelah membaca raut wajah bi Imah.


Bi Imah seketika langsung mengangguk. "Tapi saya tidak bilang kalau kita pindah kemari. saya tidak bicara apapun, Bu." Bi Imah bicara dengan nada ketakutan.


"Bi, saya percaya sama BI Imah. Jadi tidak perlu takut. di rumah ini juga penjagaannya ketat sekali." Dinniar menepuk pundak Bi Imah lagi.


Dinniar nampaknya mengerti keresahan hati asisten rumah tangganya itu. Dinniar tahu Bi Imah masih terbayang kejadian beberapa hari lalu saat Darius membawa paksa Tasya.


"Bibi sudah bawa barang-barang yang saya minta?" tanya Dinniar berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, Bu. semua sudah bibi bawa. Mari bibi bantu untuk merapihkan barang-barangnya."


Bi Imah dan Dinniar meninggalkan halaman samping. Dinniar membuka beberapa kopernya yang sudah di bawa ke lantai atas oleh beberapa penjaga rumah.


"Bi, nanti yang ini susun di sana ya." Dinniar menunjuk salah satu koper.


Mereka membereskan dan menata barang-barang yang di bawa dari rumah Dinniar yang lama.


"Nyonya. Hari ini mau makan siang apa?" tanya Mbok Jumi.


"Apa saja Mbok. Yang terpenting kesukaan Pak Jonathan saja." tutur Dinniar yang di sambut senyuman oleh mbok Jumi.


"Ya tentu saya senyum lah, nyonya. pantes ajah tuan suka sama nyonya. ternyata nyonya sangat perhatian dan sangat baik sekali." Mbok Jumi begitu memuji Dinniar.


"Bisa ajah si Mbok." Dinniar tersenyum.


...****************...


Sebuah mobil terhenti di dekat rumah yang begitu besar. Dia memarkir mobilnya agak jauh dari rumah tersebut. Namun, masih bisa melihat halaman yang terbentang luas.


Dia melihat seorang anak kecil tengah bermain di sebuah taman yang terdapat ayunan dan perosotan di dalamnya.


"Tasya. Rumah siapa ini sebenarnya?" Darius bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Dia melihat sekitar dan begitu banyak penjaga yang berlalu lalang di sekitar halaman seperti sedang menjaga seorang putri. di depan pintu gerbang juga terdapat dua penjaga berseragam hitam-hitam dan satu satpam yang akan bergantian jaga sesuai shift mereka.


"Siapa yang bisa aku tanya di sini? kalau aku langsung bertanya kepada mereka itu tentu tidak mungkin." Darius memutar otaknya.


Tak lama kemudian ada seorang pria paruh baya yang membawa cangkul di pundaknya. Darius langsung turun dari mobil.


"Permisi, pak. saya mau numpang tanya. rumah besar yang di dekat sana milik siapa ya? soalnya saya sedang mencari rumah teman dan kebetulan lupa yang mana rumahnya." Darius membuat alasan.


Darius berharap pria paruh baya itu tahu rumah siapa yang sedang disinggahi oleh putri mereka dan kenapa mantan asisten rumah tangganya membawa seluruh barang ke rumah itu.


"Rumah besar itu." pria itu menunjuk rumah besar yang Darius maksud.


"Benar, pak." ujar Darius.


"Itu adalah rumah tuan Jonathan. Sudah lama sekali rumah itu di bangun. hanya saja baru beberapa hari ini terlihat di isi."


Kini Darius sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Tinggal dia cari tahu kenapa mantan istri dan putrinya berada di sana dengan barang yang banyak.


"Apa mereka tinggal sementara di sana?" tanya Darius yang semakin penasaran dengan keadaan yang ada.


Darius kembali ke dalam mobilnya dan langsung memutar balik kendaraannya untuk kembali pulang.


Selama perjalanannya Darius tidak menyadari kalau dirinya sedang diikuti oleh sebuah mobil sedan berwarna hitam.


Darius terlalu fokus kepada apa yang ingin dia ketahui sehingga tidak melihat sekitarnya.


Di dalam sebuah mobil itu ada dua orang pria yang sedang mengintainya.


"Terus ikuti dia. jangan sampai kehilangan jejak." Ujar salah seorang pria yang duduk di kursi sebelah pengemudi.


"Tenang ajah bro," jawab si pengemudi.


Mereka berdua benar-benar tidak mau kehilangan jejak pria yang sedang dia intai. Selama ini Darius tidak tahu kalau dia selalu di awasi oleh kedua pria ini atas perintah atasan mereka.


Saat Darius memasuki gerbang komplek rumahnya. Pria yang duduk di sebelah pengemudi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Dia sudah dekat dengan rumahnya. Kalian simpan surat itu di tempat yang terlihat olehnya. Ingat kalian harus pastikan kalau dia melihat dan membacanya. Jangan sampai rencana big bos gagal." Tutur pria itu memberi arahan kepada seseorang di seberang telepon.


Terlihat dari dalam mobil oleh kedua pria itu Darius sudah dekat dengan rumah. Saat Darius sudah hampir dekat. mereka berdua melajukan mobil dengan kencang dan memutar balik arah mereka untuk keluar lagi dari perumahan tersebut.


Sedangkan di seberang rumah Darius ada sebuah motor bergantian mengintai rumah targetnya.