Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 166 - Menangkap tikus untuk mendapatkan kucing besar



Rendy begitu keren dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. dia sudah mendesak anak buahnya yang berkhianat itu namun masih tidak mendapatkan jawaban apapun. anak buahnya ternyata lebih setia pada orang yang memerintahkan pekerjaan buruk itu.


"cepat buat dia bicara aku tidak mau saat Bos kemarin kita masih belum bisa mendapatkan jawabannya kata Rendy mendesak anak buah yang lainnya.


"siap Bos saya akan pastikan dia membuka mulut Siapa dalang dibalik semuanya." Bimo maju untuk mendesak Dito si anak buah yang berkhianat.


"aku ingat kamu masuk satu bulan yang lalu ditolak. saat kami membuka perekrutan. biasanya kami selalu memberikan kesempatan bagi mereka berdasarkan dari kenangan kami saja. akan tetapi karena perekrutan ini cukup besar-besaran kami mengundang orang tua. apakah kamu adalah bagian rencana dari orang itu dan menyusupkanmu ke dalam tim kami?" tanya Bimo yang mengingat beberapa bulan lalu saat perekrutan terjadi.


"ya Kamu benar aku memang bagian dari rencana wanita itu. tapi kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan aku untuk membuka mulut Siapa nama wanita itu dan di mana dia berada."tegas Dito dengan tidak ada rasa takut sedikitpun.


"baiklah kita lihat seberapa cukup kuat kamu menyembunyikan fakta Siapa wanita tersebut dari kamu."


mereka mulai menyiksa dengan cambukan serta tamparan. kita tetap bongkar dia tidak bicara sama sekali meskipun cambukan dan tambahan itu semakin kuat di tubuhnya juga selalu yakin banyak bekas luka.


"bos dia masih tidak mau bicara." kata anak buah Bimo.


"terus siksa dia Aku yakin dia akan bicara setelah tidak tahan merasakan sakit di tubuhnya. Aku mau saat Bos besar datang kita sudah mendapatkan jawaban." Bimo melirik ke arah Dito.


Dito tubuhnya sudah banyak bekas cambukan dan kedua pipinya juga sudah penuh dengan bekas tamparan. dia masih bungkam tak mau berbicara siapa dalam semua ini.


Dito sudah sangat lesu tubuhnya begitu lemas sehingga ia tidak bisa lagi duduk dengan posisi yang tegak.


"Apa kamu masih tidak mau menyerah?"tanya Bimo kepada Dito.


mendengar pertanyaan Bimo itu hanya menyeringai. sangat jelas ringannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bimo kepadanya. dia masih akan tetap tutup mulut dan akan tetap setia kepada atasannya.


"cepat katakan siapa menyuruhmu!"Bimo berteriak sangking emosi karena dia tidak mendapatkan jawabannya.


"kalau begitu cara ini mungkin akan membuatmu mengatakan siapa bosmu."


Bimo mendapatkan panggilan telepon dan itu adalah panggilan video call.


"halo Bos lapor Kami sudah ada di rumahnya dan di sini ada istri dan anaknya hanya mereka berdua keluarga yang dimiliki oleh Dito."ujar anak buah Bimo yang sudah berada di rumah Dito.


Dito terbelalak matanya terbuka lebar. dia tidak tahu ternyata Bimo dengan cepat mendapati keluarganya. bibir Dito bergetar tangannya pun ikut bergetar sambil terkepal.


"bagaimana Dito kamu masih mau menyembunyikan Siapa dalang dibalik semua ini? atau kamu mau mengorbankan mereka demi melindungi bosmu itu?"


mendengar gertakan dari Bimo membuat hati Dito menjadi ketar ketir ketakutan. Bimo terus memperhatikan ekspresi yang keluar dari wajah Dito.


Bimo Sudah lama bekerja dengan Rendy dan juga Jonathan. dia tidak mau mengecewakan kedua bosnya itu. dia membuat rencana cadangan sendiri. anak buah Rendy memang anak-anak buah yang sangat cekatan dan sangat inisiatif. mereka mampu membuat rencana cadangan sendiri sebelum mendapatkan perintah dari Rendy ataupun Jonathan.


"kamu mau katakan atau mereka yang akan menjadi tawanan kami. sepertinya istrimu sedang ketakutan karena bayimu terus-terusan menangis. pasti dia sedang kalut saat ini pikirannya. aku dengar seorang wanita yang baru melahirkan tidak boleh stress atau dia akan mengalami baby blues. membuat nyawa istrimu dan bayimu terancam?"


Dito menggeleng. Dito menangis dan akhirnya dia membuka suara. memberitahukan dia siapa Bos yang telah menyuruhnya melakukan semua itu dan siapa saja tikus-tikus kecil yang masih ada di sekitar rumah Jonathan.


"cepat beritahukan kepada bos. dan gerakan anak buah untuk menangkap mereka bertiga. kita secepatnya harus meringkus mereka semua sebelum diketahui oleh Bos mereka."


anak buah Bimo langsung jalan untuk menemui Rendy dan untuk meringkus ketiga anak buah wanita misterius itu.


...****************...


Jonathan dan Rendy menunggu kabar dari anak buah Bimo. mereka menunggu di rumah untuk mengetahui tikus-tikus kecil yang masih menyelinap.


"apa Bimo belum menghubungimu?" tanya Jonathan kepada Rendi.


"Bimo belum menghubungi saya." kata Rendi menjawab pertanyaan dari Jonathan.


"coba kamu hubungi dia. saja sudah ada berita terbaru dari Dito."


Rendy lekas melaksanakan perintah yang diperintahkan oleh Jonathan kepadanya. dia menghubungi Bimo.


"apa sudah ada kabar terbaru dari Dito? Apa kalian sudah mendapatkan jawaban siapa bosnya?"tanya Rendy kepada Bimo.


"kami sudah mendapatkannya. Dito bilang kalau cornelialah di balik semua ini."


mendengar perkataan dari Bimo yang menyebutkan nama Cornelia membuat Rendy menjadi geram. dia tidak menyangka wanita itu lagi-lagi membuat permasalah dengan keluarga Bos besarnya.


"kalau begitu aku tunggu anak buahmu kemari dan aku akan persiapkan juga mereka semua untuk kalian ringkus." Rendy menutup teleponnya.


"Cornelia," jawab Rendi.


Jonathan menjadi begitu terkejut. lagi-lagi Cornelia beraninya menganggu Dinniar dan terlebih sekarang dia mengusik Alesya.


Jonathan sangat kesal. "Apa kamu sudah menyelidiki tentang kasus proyek Pak Leo?" tanya Jonathan.


"saya juga sudah mendapatkan informasi tersebut. salah satu staf kita meminta untuk mengganti beberapa bahan baku bangunan. saya sudah meminta mereka membawanya kemari." jelas Rendy.


"kamu bawa dia dengan cepat kemari. Saya mau mengetahui jawabannya. kalau memang ini dalangnya adalah sama-sama wanita licik itu. saya akan membuat perhitungan kepada wanita itu. kita lihat siapa yang akan jatuh." Jonathan sangat ingin mengetahui siapa yang membuat permainan seperti ini.


permainan kotor ini sangat memuakkan bagi Jonathan. dia tidak akan memberi ampun kepada Cornelia kali ini. mungkin saat dia keluar dari penjara. Jonathan tetap diam karena istrinya tidak mempermasalahkan soal kebebasannya. namun, karena ini menyangkut keselamatan semuanya dan juga tentang masa depan perusahaan dia tidak akan pernah bisa melepaskan Cornelia. dia akan pastikan wanita itu jera karena telah bermain-main dengan keluarganya.


Dinniar yang mendengar perbincangan antara Jonathan dan Rendi langsung masuk ke ruangan kerja yang ada di samping kamarnya.


"Dia melakukan hal itu lagi?" tanya Dinniar.


"Sayang, kamu mendengar semuanya?" tanya Jonathan.


"aku sudah mendengar semuanya. aku tidak akan biarkan dia merusak mental anak-anak ku. aku akan menemuinya." Dinniar ingin berbalik dan membuka pintu.


Jonathan dengan cepat menghalangi niat istrinya itu.


"sayang, tenang. kamu ingat ada bayi kita di dalam perutku. aku tidak mau kamu menjadi hilang kendali. sayang, serahkan semuanya kepada dan juga Rendy. kami berdua akan mengurusnya. aku tidak akan membiarkan dia menari diatas penderitaan anak-anak kita. kamu mau'kan menunggu aku dan Rendy untu bertindak?" tanya Jonathan.


Dinniar mengangguk. dia mengikuti apa perkataan suaminya. apa yang dikatakan oleh suaminya semuanya benar. dia harus bersabar.


"Aku dan Rendy sudah menyusun rencana untuk mengurus Cornelia. kamu tenang saja di rumah dan terima laporan saja dari ku. ya?"


Dinniar kembali mengangguk. dia akan menunggu. dia yakin suaminya akan menyelesaikan semuanya. dia akan bergantung kepada Jonathan. sejak awal jonathan'lah yang sudah banyak membantunya selama ini."


"Pak, mereka datang." Rendy melihat dari jendela mobil anak buahnya terparkir di pekarangan rumah Jonathan.


"Mereka segera suruh mengadakan rapat di ruang meeting." perintah Jonathan.


Rendy langsung keluar dari ruangan Jonathan dan dia segera menemui anak buahnya yang ada di rumah Jonathan.


"Kita kumpul di ruang belakang. kita akan membicarakan tentang pemadaman lampu yang terjadi kemarin malam. ada sesuatu yang hilang." kata Rendy sambil melirik ke arah tiga orang yang sudah menjadi incaran dirinya.


Mereka semua ada lima belas orang. mereka menuju ruangan belakang yang sengaja di sediakan untuk rapat anggota saat berada di rumah Jonathan.


Rendy memimpin rapat dan dia langsung mengunci pintu dari dalam. tidak biasanya dia mengunci pintu saat diadakannya rapat internal team.


"Kalian segera bergerak." perintah Rendy.


Kelima anak buah Rendy yang baru datang tadi langsung mendekat ke arah tiga orang anak buah Cornelia yang menjadi penyusup di rumah Jonathan. dengan cepat mereka memborgol kedua tangan dan mendudukkannya di kursi lalu mengikatnya.


Rendy mendekat dan meletakkan kedua tangannya di bahu kursi. dia menatap tajam ke arah salah satu anak buah Cornelia.


"Kalian sudah terkepung. aku sudah tau siapa bos kalian semua. kalian akan di kurung di ruangan ini sampai kamu bisa menangkap kucing yang menjadi bos kalian semua." Rendy lalu menyeringai.


kini seringainya membuat ketiga anak buah Cornelia ngeri. seringai maut yang ditunjukkan oleh Rendy sudah seperti seringainya orang berdarah dingin.


Mereka semua langsung lemas, seakan sekujur tubuhnya tak bertulang lagi. Rendy memang akan menjadi sangat dingin dan menakutkan jika apa yang dilindungi ya diusik oleh orang lain. apalagi ini adalah perkumpulannya. anak buah Rendy bukan anak buah kaleng-kaleng yang di ambil dari orang-orang biasa.


mereka rata-rata memiliki basic sebagai satpam, atau orang yang belajar beladiri. Rendy memang sedikit tidak menyelidiki latar belakang keempat anak buahnya yang di rekrut ya satu bulan lalu. ada penyesalan dan rasa bersalah di dalam dirinya. karena dia yang lalai, membuat keluarga bosnya menjadi terancam keselamatannya.


"kalian berdua jaga mereka bertiga. berikan mereka makan dan minum. tapi tidak dengan membuka borgol. biarkan mereka usaha sendiri bagaimana makan sambil tangan terikat." perintah Rendy.


Rendy membuka pintu ruangan belakang yang tadi dia kunci. dan dia langsung pergi untuk melaporkan segalanya kepada Jonathan yang sudah menunggunya di dalam rumah.


Rendy memasuki kembali rumah Jonathan. dia lihat bosnya sedang menantinya melaporkan keadaan tadi di ruang belakang.


"semua sudah beres." lapor Rendy.


"kalau begitu, kita tinggal menangkap kucing besarnya." kata jonathan dengan serius.