Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
239-Dijemput Mami



Jonathan menghampiri Darius yang marah karena merasa kehidupan pribadi istrinya dikorek-korek. Jonathan saat ini merasa kecewa dengan sikap Darius yang seperti anak kecil. dia melakukan hal ini semua semata demi kedamaian semua orang terutama keluarganya.


"Jonathan jangan konyol. istriku itu bukan Cornelia. jelas mereka adalah orang yang berbeda. istriku bahkan tidak mengenalnya. kenapa kalian berdua sudah sekali aku beritahunya? kenapa kalian percaya dengan ucapan Tasya, tapi tidak denganku?" tanyanya dengan mata yang melotot.


"Darius. aku juga sama tidak nyaman melakukan hal ini terhadap dirimu dan juga istrimu. namun, aku harus melakukannya demi kebaikan kita semua. jangan sampai hal buruk kembali menimpa orang-orang yang kita cintai." Jonathan kembali menegaskan niatnya.


Darius tetap tidak bisa menerima alasan apapun yang keluar dari mulut suami mantan istrinya itu. Jonathan yang enggan memperpanjang keributan kembali meminta beberapa anak buahnya untuk menggeledah rumah milik CEO dari agency model yang sudah sangat terkenal.


"Ada apa ini? kenapa kamar kami digeledah seperti ini?" tanya salsa yang memandang bingung.


"Maaf jika ini membuat anda tidak nyaman. saya melakukan ini demi kebaikan semuanya. anak kami Tasya mengira anda adalah Cornelia. wanita yang pernah membuat mental anak-anak kami jatuh dan selalu dalam bahaya." jelas jonathan yang tidak mau menyembunyikan hal apapun terkait pencariannya untuk bukti yang jelas.


Salsa hanya bisa menggelengkan kepalanya. dia tidak habis pikir karena hal itu dirinya dicurigai oleh pihak Dinniar. Salsa menegarkan dirinya. dia ingin membela diri, tapi dia rasa sepertinya percuma.


"Mas, lain kali bicara kepada anakmu mengenai hal apapun. aku lelah dicurigai seperti ini. aku tidak mau kita retak hanya karena ke salah pahaman." Salsa membuang mukanya dan berjalan keluar rumah.


Darius terlihat begitu kesal. Dia berada dalam posisi serba salah. satu pihak orang yang dicurigai oleh putrinya adalah istri barunya. sedangkan dilain pihak dia adalah seorang ayah dari anak kecil yang memiliki pemikiran lain tentang istrinya.


Darius mengacak-acak rambutnya sendiri sangking pusingnya. Jonathan yang melihat hal itu menjadi iba. Dia dan Darius selama ini sudah sangat cukup baik dalam menjalin hubungan. namun, dia tetap harus waspada dan mulai membuat rencana agar rumah tangganya tetap harmonis dan utuh. dia tahu betul seperti apa sifat Dinniar jika sudah menyangkut keselamatan anak-anak mereka.


.


.


.


Dinniar bersiap untuk menjemput ketiga anaknya. Meski Alesya membawa kendaraan sendiri dia tetap akan menjemput anak gadisnya itu.


"Devano, Tasya."


setibanya di sekolah harapan. Dinniar langsung disapa oleh kedua anaknya yang dalam pengawasan anak buah suaminya.


"Hore mami sekarang jemput aku terus." teriak Devano kegirangan.


Dinniar juga merasa senang bisa meluangkan waktu untuk menjemput buah hatinya yang sudah mulai besar.


"Sayang ayo masuk ke dalam mobil. mami mau jemput kak Alesya juga soalnya." perintah Dinniar.


"Siap mami." kedua anaknya dengan cepat memberi hormat.


"Mami, apa kita akan selalu dijemput sama mami?" tanya Devano dengan wajah super lucunya.


"Mami akan usahakan ya sayang. Insyallah mami bisa luangkan waktu untuk kalian bertiga." Dinniar tersenyum sambil tangannya mengusap kepala Devano dengan lembut.


.


.


Sesampainya di rumah. Dinniar beristirahat di dalam kamar dan kembali melanjutkan menonton film kesukaannya.


Rea bangun pagi dan mengerjakan semua pekerjaannya rumah. Meskipun ada orang yang bertugas membantu pekerjaan di rumah. Namun, karena dia libur Rea tetap menjalankan tugasnya.


"Bangun pagi, beres-beres rumah. Dikira dengan begitu bisa menghilangkan rasa curiga orang." Mama Maria datang menghampiri dan langsung mengoceh.


Rea yang sedang memegang kemoceng langsung mengeratkan pegangannya. Hati siapa yang tidak hancur karena tuduhan yang terus-menerus.


"Mah, sudah lah. Semua tuduhan mama itu belum jelas. Rea tidak mungkin berselingkuh." Papa mertua Rea membela menantunya.


Begitulah sikap mertua yang tidak akur dengan menantunya. Tidak salah saja tetap salah dimatanya. Apalagi melakukan kesalahan. Sudah pasti akan menjadi cacat dimatanya. Dia juga pasti akan selalu mengungkit hal itu di setiap kesempatan untuk melupakan rasa kesalnya.


Hanya papa yang membelaku dengan tulus. Mama mertuaku benar-benar tidak mempercayaiku sedikitpun. Aku bersikap baik saja menjadi masalah. Bagaimana caraku untuk membuat mama percaya, kalau aku tidak pernah berselingkuh dengan bosku atau dengan siapapun.


Rea bergumam dalam hatinya. Dia benar-benar kelimpungan mencari cara meyakinkan mama mertuanya untuk percaya kepadanya.


"Rea. Sebaiknya kamu istirahat.


Tidak baik untuk kandunganmu yang masih muda dibawa kerja berat."


Rea menuruti permintaan papa mertuanya. Dia merapihkan alat bersih-bersih yang dia pakai. Dibawanya alat-alat itu ke dapur untuk disimpan.


"Papa ini bagaimana sih? Anak di selingkuhan sama istrinya kok papa santai ajah?" Mama Maria begitu kesal.


Luis menggelengkan kepalanya. Sikap istrinya tidak pernah berubah selama satu tahun terakhir. Meski Rea sudah mati-matian bersikap sangat santun, tetap saja Maria istrinya tidak pernah menganggap semua perilaku baik itu. Bagi Luis Rea bukan sekedar anak sahabatnya, tapi Rea juga sosok wanita yang sempurna untuk anaknya. Makanya Luis menyetujui kesepakatan dengan sahabatnya untuk menikahkan anak mereka.


Luis pergi ke ruang kerjanya dan dia membuka laci yang ada di atas meja kerjanya. Dia ambil sebuah foto yang sudah lama sekali disimpannya.


"Zain, Safira. Maafkan aku yang belum bisa memberikan kehidupan yang baik untuk putri kalian. Aku tidak tahu harus bagaimana agar istriku mau menerima putrimu dalam keluarga ini. Sungguh ini sangat berat baginya." Luis menyeka air matanya yang membasahi pipi. Dia tak kuasa menahan tangisnya.