Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 106 - Bukan janda biasa



setelah semalaman merapikan baju untuk dibawa oleh mereka semua pergi berlibur. akhirnya Hari yang dinanti datang juga. mereka semua sudah tidak sabar untuk pergi berlibur bersama.


"ayo semuanya cepat. matikan semua barang bawaan kalian dan keperluan kalian yang perlu dibawa tidak ada yang tertinggal di rumah." kata diniar.


mereka semua akhirnya memastikan lagi seluruh barang bawaan mereka. mulai dari colokan ponsel. obat-obatan pribadi. dan juga mereka menyediakan beberapa cemilan untuk dimakan di dalam mobil.


Setelah semua memastikan kembali barang bawaan mereka. dengan cepat mereka semua naik ke atas mobil travel.


Jonathan dan keluarganya sudah siap untuk pergi berlibur. Mereka pagi-pagi sekali sudah berada di sebuah mobil travel milik perusahaan Jonathan.


"Siap untuk liburan?" teriak Jonathan dengan begitu lantang.


"SIAP!" teriak seluruh anggota keluarga.


Sopir menyalakan mesin mobil dan mobil travel mulai berjalan. Dari satu tol ke tol yang lain mereka lalui. Perjalanan mereka tidak begitu jauh hanya sekitar Bandung.


Kebetulan Jonathan memiliki rekan bisnis di Bandung yang memiliki resort. Mereka akan berkunjung ke sana sesuai rekomendasi dari Rendy.


Mereka di dalam mobil mulai bernyanyi. Jonathan berdiri di tengah dan mulai berjoget. Dinniar terkejut ternyata suaminya begitu penuh kejutan. Jonathan berjoget ala dangdut sesuai lagi yang sedang diputar.


Dinniar terus tertawa melihat gaya berjoged dari suaminya. Jonathan begitu gemulai dengan setiap gerakannya.


"Yeeeay papa keren." Tasya bertepuk tangan dengan sangat kencang.


semua orang bersorak-sorai saat melihat Jonathan menari dan juga bernyanyi sesuai dengan lagu yang diputar. setelah musik selesai dan Jonathan berhenti berjoget dia melihat ke arah Tasya.


Jonathan langsung menghampiri anak sambungnya. Dia mengajak Tasya untuk ikut berjoged dengannya. Tasya mengikuti gerakan Jonathan yang tadi terekam dalam ingatannya.


"Keren Tasya." Alesya menyoraki Tasya begitu bersemangat.


Setelah satu kagu selesai di iutar, Jonathan dan Tasya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Tasya duduk bersebelahan dengan Alesya. Sedangkan Jonathan duduk bersebelahan dengan Dinniar.


Definisi keluarga bahagia begitu terlihat dalam keluarga itu. Jonathan sebagai seorang pria, sebagai seorang suami dan sebagai seorang ayah, mulai terus berusaha memberikan yang terbaik dan selalu meluangkan waktunya untuk keluarga.


"Terima kasih. Karena kamu Tasya lagi-lagi mengembangkan senyumannya. Dia terlihat begitu menikmati joged bersamamu tadi." Dinniar menatap manik mata suaminya.


"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah memberiku seorang anak yang cantik." Jonathan membalas tatapan Dinniar.


"Apa kamu tidak malu menikahi seorang janda dan memiliki seorang anak? banyak yang bilang aku ini buy one get one free." Dinniar bertanya.


Jonathan begitu terkejut mendengar perkataan istrinya. dia langsung memegang erat tangan istrinya.


"Hei, kamu itu bukan janda biasa. Kamu itu wanita luar biasa yang Tuhan ciptakan sangat spesial. Tidak ada wanita diluar sana yang pernah aku temui seperti dirimu. Tangguh, pantang menyerah, pemberani dan begitu disiplin. Kamu istimewa, ingat itu." Jonathan menyentuh dagu Dinniar dan hendak mendekatkan wajahnya.


Dinniar reflek langsung memundurkan tubuhnya. "Jangan di sini, ada banyak orang dan juga ada anak-anak."


"Jadi kalau sudah sampai nanti. boleh dong aku ..." Jonathan membuat isyarat.


Dinniar mengangguk tanda setuju. Dinniar sebenarnya masih malu-malu, tapi mau. Bibir seksi dan merah suaminya begitu menawan hati.


"Yes!" Jonatan mendesis setelah mendapatkan lampu merah dari istrinya.


"Aku akan menagih janjimu. jangan ingkar, kalau sampai ingkar akan ada denda yang lebih menuntut." Tutur Jonathan berusaha mengancam istrinya sambil tertawa kecil.


Dinniar yang mendengar ancaman dari suaminya hanya bisa mengulum senyuman. Mereka benar-benar persis seperti pasangan baru yang menikah muda.


Dua jam sudah mereka lalui perjalanan menuju Bandung. Ada beberapa titik jalan yang padat sehingga mengundang kemacetan. Jonathan memeriksa kondisi semua anggota keluarga yang ikut berlibur.


Ada violin, Samuel dan anak mereka berdua. Ada Sonia dan Anthony suaminya yang juga ikut pergi bersama mereka.


"Tasya tidur?" tanya Jonathan kepada Alesya.


"Iyah, om." Jawab Alesya.


"Kan udah janji, panggilnya mulai sekarang papa. Om mau menggantikan papamu mulai sekarang. mulailah belajar memanggil papa oke. ingat panggil dengan sebutan papa." Jonathan mengelus lembut rambut keponakannya.


"Baik, papa." Alesya tersenyum lebar.


Jonathan memiliki sikap kebapakan. Sejak kakaknya dan kakak iparnya ditugaskan ke Amerika dan mereka mendapatkan berbagai macam ancaman. Jonathan selalu melindungi Alesya. dia tidak akan pernah merelakan orang licik menyentuh keponakannya.seujung kuku.


...****************...


di rumah besar milik Darius, Susi yang sedang duduk bersama putranya melihat gelagat aneh dari putranya.


Susi melihat sikap putranya yang begitu gelisah. Dia mau bertanya, tapi takut kalau putranya terusik dengan pertanyaannya.


Susi akhirnya berinisiatif membuat teh manis hangat dan memberikannya kepada Darius.


"Di minum dulu." Susi menyodorkan cangkir yang dibawanya.


Darius mengambil cangkir itu dan menyesap teh manis hangat yang di buat oleh ibunya. Darius begitu terlihat menikmati teh manis buatan ibunya. Teh manis buatan Susi memang begitu ampuh untuk Darius yang sedang di Landa rasa gelisah atau ada sebuah masalah yang sedang di hadapinya.


"Kamu terlihat begitu tidak tenang Darius. Ada apa? cerita sama ibu." Susi mulai memberanikan diri bertanya setelah melihat wajah putranya sedikit tenang.


hati seorang ibu memang sangat peka terhadap Apa yang sedang dialami oleh anak-anaknya. begitu juga hati Susi yang begitu peka terhadap putranya.


"Tidak ada apa-apa, Bu. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana cara agar bisa kembali dekat dengan Tasya." Darius mengungkapkan sedikit fakta, sedangkan fakta lainnya masih dia tutupi.


Susi pasti akan melarangnya berhubungan dengan orang yang tidak di kenal. Karena Susi takut kalau sampai Darius salah jalan dan salah mengambil keputusan.


Darius begitu hafal dengan sekap dan isi kepala ibunya.


Susi sudah bisa menebak banyak putranya akan berbohong kepadanya. nggak tahu putranya tidak ingin ikut campur lebih dalam dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh putranya.


"Ibu rasa kamu harus introspeksi diri terlebih dahulu. Tasya takut kepadamu, karena kamu sering membuat dia merasa tertekan. Tasya takut sekali denganmu karena ulah dirimu sendiri. Andai saat itu kamu bisa mengontrol emosi mu, pasti Tasya tidak akan setakut itu kepadamu saat ini." Susi menarik napas dalam.


"Bu, aku melakukan itu karena melihat kalau pria itu begitu dekat dengan Tasya. a-aku benci hal itu." Darius meremas tangannya sendiri yang dia letakkan di atas meja makan."


"andai saja kamu dulu tidak meninggalkan Dinniar. Sudah pasti kalian masih berbahagia sampai detik ini." Susi menekuk wajahnya.


Darius semakin merasa bersalah kepada ibunya yang setelah keluar dari rumah sakit, bukan kebahagiaan yang dirasakan dan yang dia lihat. Harusnya saat ini mereka sedang berkumpul bersama dan menikmati kebahagiaan.


"Aku akan berusaha Bu. Aku berharap Tasya mau tinggal bersama kita lagi suatu hari nanti agar ibu bisa bahagia." Darius beranjak dari duduknya dan bersimpuh di kaki ibunya sambil menangis.


"Pria itu harus tegar. Pria harus kuat dan harus mau mengakui kesalahan jika memang salah." Susi menasehati putranya.


Darius hanya bisa mengangguk. Dia dengan cepat menghapus air mata yang turun dari mata indah milik ibunya.


"Ibu harap kamu menjadi seorang ayah dan suami yang baik suatu hari nanti. jangan menganggu Dinniar lagi. biarkan dia bahagia bersama dengan pria pilihannya. kamu harus fokus kepada Cornelia dan juga anak yang ada di dalam kandungannya."


Susi langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan putranya yang sudah sangat keras kepala sekali dan tidak bisa sama sekali dinasehati dengan baik-baik.


Susi benar-benar tidak tahu lagi harus seperti apa menghadapi diri Darius. dia sendiri saja sudah sangat lelah menghadapi sikap putranya yang selalu mencari masalah dengan mantan istrinya.


"andai saja kamu tidak mengkhianati istrimu. udah pasti kehidupanmu sekarang tidak seperti ini." gumamnya sebelum masuk ke dalam kamar.