Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 73 - Bukti kejahatan



Dinniar sudah mendapatkan semua bukti-bukti tentang kejahatan Caroline. dia akan pergi ke kantor polisi di temani oleh Jonathan.


"Dinniar kamu mau kemana?" Darius menghalangi langkah Dinniar.


"bukan urusanmu!" Dinniar menepis tangan Darius dan langsung masuk ke dalam mobil.


Jonathan yang mengendarai mobil langsung melakukan mobilnya. Dia tancap gas menuju kepolisian dimana Caroline dipenjara.


Darius mengikuti mobil Jonathan dari belakang. dia terus berusaha untuk menghentikan mobil Darius. dia tidak rela jika Dinniar dekat dengan pria lain.


"Dinniar, aku tidak akan pernah membiarkan dirimu bersama dengan pria lain. selamanya kamu adalah milikku. aku akan kembali berusaha menjadikanmu milikku." Darius semakin cepat melajukan mobilnya.


Setelah mengendarai mobil tiga puluh menit. mobil Jonathan memasuki kawasan kantor kepolisian.


"Untuk apa mereka kemari? apa mereka ingin menyerah akan kasus Tasya dan mencabut tuntutannya?" tanya Darius sambil terus memperhatikan mantan istrinya.


Jonathan dan Dinniar keluar dari mobil dan masuk ke kantor polisi. tanpa berlama-lama, Dinniar menyerahkan beberapa bukti foto dan video yang menunjukkan keterlibatan Cornelia dalam kasus penculikan Tasya.


"kami akan memeriksanya terlebih dahulu." polisi divisi kriminal langsung melihat beberapa bukti yang di serahkan oleh Dinniar.


"kami rasa ini bisa untuk memberatkan ibu Cornelia. di tambah, di sini juga sangat terlihat jelas wajah ibu Cornelia saat memasuki rumah kosong itu. ada juga pernyataan tetangga atas kepemilikan rumah itu. terima kasih, atas bantuannya dalam kasus penyelidikan."


Dinniar merasa lega. kini dia tinggal menunggu kasus naik ke pengadilan. sehingga dia dan Cornelia akan bertemu di pengadilan.


"Kalau begitu kami permisi dulu." pamit Jonathan sambil berjabat tangan dengan pak polisi.


Dinniar dan Jonathan keluar dari ruangan. Dinniar melihat Darius tengah berjalan ke arah mereka berdua.


"ada perlu apa kalian ke mari?" tanya Darius dengan wajah tegang.


"apa maksudmu?" tanya Darius.


"kamu tahu? kasus istrimu, akan segera naik ke pengadilan. jadi aku menantikan kalian di ruang sidang nanti." Dinniar hendak pergi, tapi Darius menahannya.


"jelaskan kepadaku dulu." Darius mencengkram erat tangan Dinniar.


"apa yang perlu aku jelaskan? semua sudah jelas, kalau ternyata istrimu yang merencanakan penculikan Tasya dan berusaha memudahkanku dengan Tasya." jelas Dinniar.


"tidak mungkin. Dia ibu sambung yang baik. dia bahkan sering kali membangunkan tidur Tasya dan membuatkan sarapan. dia juga ingin selalu bersama dengan Tasya." Darius terus membela istrinya.


"aku tidak tahu semua itu. yang aku tahu dia penyebab hilangnya Tasya. aku tidak mungkin asal menuduh dan merekayasa bukti. semua. bukti sudah mengarah kepadanya. kamu bisa lihat sendiri. semuanya sudah aku berikan kepada kepolisian bagian kriminal. aku harap dia mendapatkan ganjaran yang setimpal." Dinniar menyipitkan matanya.


Dinniar menarik paksa tangannya dari cengkraman Darius. Darius masih terbengong karena dia merasa tidak mungkin istri ya berbuat jahat seperti itu.


Darius langsung menuju ruangan divisi kriminal. dia ingin melihat semua bukti yang telah dibawa mantan istrinya mengenai keterlibatan istrinya dalam penculikan putrinya Tasya.


Darius sudah sampai di depan pintu ruangan. dia ingin mengetuk dan membuka pintu. hanya saja banyak hal yang perlu dia pikirkan. dia berharap istrinya tidak terlibat dan Dinniar hanya salah faham saja.


Darius kemudian masuk dan berusaha menguatkan dirinya. Darius duduk dan berbicara dengan pihak kepolisian.


"Sebentar saya ambilkan dulu berkasnya."


pria itu memberikan sebuah benda kecil dan memperlihatkan video yang terekam oleh CCTV dari rumah warga sekitar.


Darius begitu terkejut semua bukti benar-benar mengarah kepada Cornelia dan rasa sesal dihatinya kini muncul.


bersambung