Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
311 - Keikhlasan



Evelin setelah bertemu dengan Selvia dan juga Dinniar. Hatinya terasa sangat sakit, tapi entah kenapa dia juga merasa lega.


"entah kenapa aku merasakan ini. Apa mungkin karena aku mengetahui kalian saling mencintai dan menjaga. Meski ada rasa iri karena kalian bisa saling support. Namun, aku bahagia." lirihnya sambil berkaca-kaca.


Evelin memeluk guling yang menemaninya di saat sendiri dan menangis. Evelin merasa lebih baik setelah meluapkan emosinya di dalam kamar dengan menangis.


Mengetahui kebenaran tentang seseorang yang kita cintai memang tidaklah mudah. Apalagi ternyata selama ini hanya kita yang berharap dan menunggu. Cinta memang tidak pernah salah. Hanya saja waktu terkadang tidak berada di pihak kita. Dan takdir tidak mengizinkan kita untuk hidup sesuai dengan keinginan.


Evelin yang selama ini mengira kalau Jonathan akan kembali kepadanya seperti dulu. penyesalan dalam dirinya begitu besar. Dia tidak pernah menyangka apa yang dia lakukan akan menjadi penyesalannya saat ini. Dadanya semakin sesak karena harus mengikhlaskan pria yang berharga dalam hidupnya.


"Aku merindukanmu, tapi aku harus melepasmu." gumamnya sambil terus menangis di atas ranjang empuk miliknya.


Penyesalan yang berkepanjangan yang diakibatkan oleh keputusan tergesa-gesa dan egois membuat kita merasa ini adalah sebuah penderitaan yang berkepanjangan. Jika ingin terbebas maka harus melepaskan semuanya. Namun, untuk melepaskannya saja begitu menyakitkan seakan hidup ingin terhenti. Evelin menangisi masalalunya yang terlalu egois karena meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya dan sangat mencintainya demi ingin mencapai mimpinya.


Tangisan itu semakin keras dan membuat dadanya terasa sesak hingga dia meringkuk diatas ranjangnya.


Tak ada satupun manusia yang tidak pernah merasakan penyesalan dalam hidupnya. Namun, penyesalan itu tidak boleh terus berlarut-larut hingga kita tidak bisa kembali hidup atau bahkan melakukan hal yang bodoh.


Setelah menangis beberapa jam. Evelin beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kaca yang menjadi pembatas antara kamarnya dengan roof top. Dia keluar dan bersandar di pembatas besi. Dia memandang ke depan dan menarik napas serta menikmati malam untuk berusaha melepaskan segalanya.


Dia berharap malam membawa pergi cintanya yang takkan terbalas lagi. Dia juga berharap malam memberikan kedamaian kepada hatinya agar kuat menjalani kehidupan tanpa orang yang dicintainya.


"Aku akan menyusun lagi puzzle hidupku yang hancur. Aku akan bertahan. Aku yakin tuhan akan menyiapkan yang terbaik untukku." lirihnya.


.


.


.


Aktivitas pagi sudah selesai dilaksanakan oleh Dinniar sebagai seorang ibu. Kini dia masuk ke dalam kamar Tasya untuk menemui anaknya yang sudah beranjak dewasa dan akan menjadi anak remaja.


"Sayang. Gimana apa masih sakit perutnya?" tanya Dinniar sambil mengelus rambut Tasya


"Masih, mih. Hanya tidak sesakit semalam." jawab Tasya.


"Syukurlah sayang. Tasya, maaf mami hari ini hari pergi ke kantor. Tasya di rumah ditemani bibi ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi mami."


Dinniar sudah siap untuk pergi ke hotel bersama dengan suaminya Jonathan. Dia antara tega dan tidak tega meninggalkan Tasya sendirian di rumah. Meski ada banyak orang yang akan menemani dan merawatnya. Tetap saja berbeda dengan ditemani dan dirawat oleh ibu sendiri.


"tidak apa mih. Hari ini kan hari pertama mami kerja di hotel. Tasya doakan mami pekerjaannya lancar." Tasya lalu tersenyum begitu manis.


senyuman putrinya memberikan kekuatan yang lebih besar lagi untuknya. Dinniar semakin bersemangat untuk bekerja di hotel demi melindungi keutuhan rumah tangganya dari serangan tawon yang nakal.


Dinniar mengecup pucuk kening putrinya dan dia memeluknya sebelum pergi ke hotel. Dinniar juga menemui bibi untuk selalu menjaga Tasya yang masih sakit perut karena datang bulan pertama kalinya.


"Sudah siap?" tanya Jonathan.


"Sudah, sayang. Ayo kita berangkat."


Keduanya bergerak menuju mobil dan Jonathan mengendarainya. Di hari pertamanya menjabat sebagai manajer promosi membuat jantung Dinniar berdegup lebih kencang dari biasanya.


Dinniar menyiapkan dirinya. Dia akan mulai bekerja kembali sebagai wanita karir. Meski tempatnya bekerja adalah usaha keluarga. Tetap dia harus bersikap profesional sebagai mestinya seorang karyawan.


"Pagi ini ada meeting tim. Aku semalam sudah menyiapkan materinya."


"Apa ini rapat promosi dari hasil syuting iklan dengan Evelin?" tanya jonathan.


"ya, benar. Aku sudah merangkumnya dan timku sudah memilih gambar yang bagus dan pencahayaannya juga tepat. Dadaku rasanya berdetak kencang. Aku grogi sekali. Setelah sekian lama baru hari ini aku memimpin rapat lagi." Dinniar bicara sambil memegangi dadanya lalu mengatur napas.


"Santai saja. Kamu sudah memiliki basic seorang pemimpin. semua akan berjalan lancar dan tim promosi akan semakin berjaya." Jonathan memberikan semangat kepada istrinya.


Dinniar menjadi semakin percaya diri setelah disemangiti suami tercintanya. Dia sudah bisa tersenyum lepas dan rasa cemasnya sirna.


"Silahkan turun ratuku." Jonathan membukakan pintu mobil untuk Dinniar.


Dinniar turun dari dalam mobil dan mereka berdua berjalan bersama. Penjaga keamanan memberikan hormat kepada Jonathan dan Dinniar sebagai pemilik hotel.


Saat berjalan di lobi Melinda melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Dia menjadi semakin geram dan cemburu.


"Akan aku singkirkan kau Dinniar. Aku akan mendapatkan Jonathan. Dia akan segera menjadi milikku." Melinda kembali meneruskan perjalanannya menuju ke kantornya.


Kantor tempat Dinniar dan Melinda berada di lantai yang sama. Hanya berbeda lorong saja. Dinniar diantar jonathan sampai ke ruangannya.


"Selamat bekerja." Jonathan menutup pintu ruangan dan pergi.


Dinniar meletakkan tasnya dan duduk di belakang meja kerja. Dia memandang ruangan yang bernuansa cream. Begitu anggun ruangannya. Suaminya dalam dua hari menyiapkan dan mengerahkan pekerja untuk menata ruang kerjanya.


"Permisi." seorang office girl masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu.


Dia mengantarkan minuman untuk Dinniar. "ibu Dinniar. Ini teh aromaterapi untuk ibu." dia meletakkannya diatas meja kerja Dinniar.


"Terima kasih, tapi maaf saya tidak memesan teh." tutur Dinniar.


"Pak Jonathan yang meminta saya untuk menyajikannya." terangnya.


Dinniar semakin tersanjung dengan sikap suaminya yang sangat perhatian kepadanya.


"Saya izin kembali ke pantry."


Dinniar menikmati aroma dari teh yang di sajikan untuknya.


"kamu memang selalu tahu caranya agar aku bisa tenang." gumamnya lalu menyesap teh aromaterapi.


Dinniar lalu mempersiapkan diri untuk meeting dengan timnya. Dia membawa yang diperlukan dalam rapat. Dinniar belum memiliki sekertaris. Jadi untuk sementara dia menghandle semuanya sendiri.


"Hai, apa kabar?" Melinda tiba-tiba muncul


"Ada apa?" Dinniar bersikap ketus.


"aku hanya ingin menyapa. Oh, iya. Biasanya kita itu mengadakan pesta penyambutan untuk manager baru. Apa kamu bisa hadir?" tanya melinda