Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 145 - Tuduhan tak berdasar



Mereka semua kembali berkumpul di klinik milik dokter Erika. Dinniar membawa masuk Tasya ke dalam dan Darius juga ikut masuk ke dalam.


"Hari ini biarkan aku, Tasya dan Darius saja yang berada di dalam. kamu dan Jonathan tunggu saja di luar." Erika meminta temannya untuk menunggu di luar.


Dinniar memiliki rasa ragu. Namun, Erika menepuk pundaknya membuatnya menjadi yakin kalau Erika mampu menjaga Tasya dan membuat Tasya menjadi lebih baik jika berada di dekat Darius.


"Mami dan papa menunggu di luar. Tasya ditemani oleh Tante Erika. dengarkan semua yang dikatakan oleh Tante Erika dan jangan lupa konsentrasi." Dinniar melangkah keluar dengan hati yang resah.


"Sudah tidak perlu di cemaskan. kamu percayakan kepada Erika. sejauh ini dia mampu menyetabilkan mental Tasya. kita percayakan kepadanya juga kali ini."


Dinniar menjadi yakin setelah mendengar perkataan dari suaminya. Dinniar kemudian duduk di bangku tunggu bersama dengan Jonathan.


"Mas, sepertinya ponsel ku tertinggal di mobil." Dinniar memeriksa tasnya.


"Aku aku akan ambilkan." kata Jonathan.


"tidak perlu, aku saja yang ambil. mas tolong jaga Tasya. dia selalu nyaman ketika di dekatmu." Dinniar mengambil remote mobil yang ada di tangan suaminya.


Jonathan mengikuti perkataan Dinniar. memang Tasya sangat merasa terlindungi jika berada di dekat Jonathan.


Di parkiran Cornelia keluar dari dalam mobilnya. Dia yang berniat menunggu Darius di dalam mobil merasa bosan dan hendak menyusul suaminya.


Saat dia akan melangkah lebih jauh. mereka berdua berpapasan. Cornelia dan Dinniar saling bertatapan. Ini kali keduanya pertemuan tak sengaja diantara mereka berdua.


"Hai, apa kabar?" tanya Cornelia.


"Kabarku baik." Dinniar menjawab dengan nada datar.


"Aku permisi." Dinniar hendak menuju ke mobilnya.


"Aku dengar kamu mengajak suamiku untuk berlibur." Cornelia bicara dengan suara yang cukup keras.


Dinniar mendengar hal itu langsung menghentikan aktivitas kakinya yang sedang sibuk berjalan. Dia memutar kembali tubuhnya.


"Benar. aku hanya berniat agar Tasya kembali akrab dengan papinya." Dinniar menjawab dengan sangat tenang.


Mendengar perkataan Dinniar. Cornelia langsung menyeringai. Dia sepertinya tidak percaya dengan pernyataan Dinniar.


"Apa kamu tidak bisa berhenti untuk berurusan dengan suamiku?" tanya Cornelia.


"Apa maksudmu?" tanya Dinniar.


"Ya tidak bisakah kalian meninggalkan jakarta dan pergi jauh-jauh dari hidupku dan juga suamiku?" tanya Cornelia dengan melempar tatapan kebencian kepada Dinniar.


"Untuk apa aku meninggalkan jakarta? dan aku juga tidak merasa mengganggu kehidupanmu dan juga mas Darius. aku rasa urusanku dengan mas Darius hanyalah sebatas Tasya yang masih sangat takut dengan papinya sendiri. harusnya kamu ikut bertanggung atas semua hal yang terjadi kepada putriku. karena perbuatan mu. membuat putriku menjadi seperti ini sekarang. harusnya kamu malu berdiri di hadapanku seperti seorang yang tak memiliki masalah sedikitpun denganku." Dinniar sangat kesal dengan sikap Cornelia yang tidak tahu malu.


"Dinniar, seharusnya kalau memang anakmu tidak mau bertemu dengan papinya lagi. biarkan saja. toh tidak akan ada masalah lagi. apa kamu sebenarnya masih belum bisa melupakan mas Darius? sehingga kamu masih ingin mengejarnya dengan alasan demi kepentingan Tasya?"


Perkataan Cornelia sungguh sangat keterlaluan. bisa-dia menuduh Dinniar seperti itu disaat Dinniar sedang berusaha memperbaiki mental putrinya.


"Jangan sembarangan bicara kamu Cornelia. Aku bukan wanita murahan yang akan merebut suami orang. Lagi pula suamiku saat ini lebih baik segala-galanya dari mantan suamiku. Suamimu itu hanya pria yang kelebihannya adalah menyakiti perasaan istrinya. dan satu hal yang harus kamu ingat. aku bukan wanita sepertimu yang menjadi benalu di rumah tangga orang lainnya!" Dinniar menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya.


Selesai menangkis semua perkataan Cornelia. Dinniar menuju mobil dan mengambil ponselnya yang tertinggal. Dia bergegas kembali ke dalam klinik untuk menghindari nenek lampir yang tidak tahu malu itu.


Darius dan Tasya keluar dari dalam ruangan terapi. Putri kecil itu keluar dengan wajah yang tenang tidak seperti orang yang tertekan lagi.


"Selamat mami Dinniar. Hari ini Tasya berhasil melewati ujiannya. Papi dan Tasya sudah mulai berbaikan." Seru Erika dengan wajah senang.


Dokter cantik itu sangat senang sekali ketika pasiennya mengalami kemajuan. dia akan merasakan resah jika pasiennya tidak mengalami perubahan. meski bayaran yang dia terima besar ketika ada pasien berkunjung. namun Erika tidak mau memanfaatkan hal itu. dia malah ingin secepatnya pasiennya sembuh dan tidak membuang-buang uang di kliniknya. seperti kasus Tasya saat ini. dia sangat senang dua kali pertemuan dengan papinya. Tasya sudah menunjukkan progres yang cukup baik.


"Oh ya? anak mami sehebat itu?" Dinniar tersenyum lebar tak menyangka putrinya bisa secepat itu mulai enjoy dengan Darius.


"Selamat anak cantik papa. papa bangga banget sama Tasya. sini peluk dulu." Jonathan memeluk putri cantiknya.


"Hai, Tasya. senang sekali Tante mendengar kabar ini." Cornelia menaiki anak tangga dan mengakrabkan diri.


Tasya langsung semakin memeluk erat Jonathan. merasakan respon Tasya. Jonathan dengan cepat membawa putri sambungnya ke dalam gendongannya.


Dinniar lega karena Jonathan bertindak cepat. Dia tak habis pikir Cornelia menunjukkan batang hidungnya lagi di depan Tasya.


"Cornelia, bukannya kamu sudah aku bilang untuk menunggu di dalam mobil saja?" Darius mengerutkan dahinya.


"Aku bosan sayang. jadi aku pikir lebih baik kemari saja. eh ternyata kalian sudah selesai terapinya." Cornelia mulai bergelayut manja di pundak Darius.


melihat gaya manja dari Cornelia membuat setiap orang yang memandangnya menjadi ingin muntah. Cornelia sangat tidak punya moral karena menunjukkan sikap manjanya di depan anak kecil dan juga di depan umum.


"Maaf, pak Darius. sebaiknya anda bawa pulang segera istri anda. saya tidak mau hasil terapi anda dengan Tasya hari ini menjadi rusak karena kehadirannya." Jonathan meminta Darius dengan sangat tegas.


Darius lalu berfikir kalau apa yang dikatakan oleh Jonathan ada benarnya juga. dia juga tidak mau suasana yang sudah mencair kembali membeku karena kehadiran Cornelia yang sangat menggangu.


"Dadah Tasya." Cornelia melambaikan tangannya lalu pergi bersama Darius.


"Sayang, papi dan Tante Cornelia sudah pergi. kamu jangan takut lagi ya. papa ada di sini menemani Tasya." Jonathan mengecup pucuk dahi Tasya.


"Tasya sayang mami dan papa." Tasya memeluk Jonathan lagi dengan lebih erat.


Dinniar dan Jonathan berpamitan dengan Erika. mereka juga akan segera pulang. Jonathan menggandeng tangan Dinniar sedang tangan satunya menggendong Tasya.


Erika melihat mereka dengan wajah yang sangat bahagia. dia juga berharap agar pernikahannya bisa segera dikaruniai seorang anak. dan bisa bahagia seperti keluarga Dinniar.


****************


Darius mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan di jalan raya. membuat Cornelia menjadi takut. satu tangan Cornelia berpegangan pada hand grip. sedangkan tangan satunya memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Mas, kamu apa-apaan sih? kenapa mengendarai mobilnya ngebut seperti ini!" tanya Cornelia sambil menahan rasa takutnya.


Darius hanya diam saja dan terus menjalankan mobilnya tanpa perduli dengan kondisi istrinya.


"Mas, kamu kenapa sih?" teriak Cornelia dengan sangat keras.


Darius mengedarkan pandangannya kepada Cornelia. Tatapan Darius membuat ngeri Cornelia. Dia bahkan tidak berani berkata-kata lagi. dia akhirnya memendam sendiri ketakutannya.


Darius memang tidak suka jika apa yang sudah dia usahakan harus diganggu oleh orang lain. apalagi semua kejadian ini adalah atas dasar kesalahan Cornelia.


Mereka tiba di rumah dan Darius segera masuk ke dalam rumah mereka. Cornelia mengekor di belakangnya dengan langkah yang cukup tertatih. kepalanya sedikit pusing karena aksi Darius membawa mobil.


Darius melempar jas yang dikenakannya. dan dia langsung menyeret Cornelia yang baru saja menutup dan mengunci pintu rumah.


"Mas, apa-apaan sih kamu. jangan kasar begini dong." Cornelia berusaha melepaskan diri dari Darius.


"duduk kamu di sana. dan dengarkan semua perkataanku." Darius memberi perintah kepada istrinya.


Cornelia hanya bisa mengikuti apa kemauan Darius. mata Darius yang sudah mulai memerah menunjukkan kalau dirinya sedang dalam kondisi marah.


"Kamu ini. apa-apaan muncul di hadapan Tasya? kamu sudah tahu kalau Tasya tidak baik-baik saja ketika bertemu dengan kamu. kamu juga tahu aku sedang memperbaiki hubunganku dengan Tasya. seharusnya kamu tidak merusak suasana yang sudah mulai hangat." teriak Darius.


"Mas, aku juga mau mengakrabkan diri dengan Tasya. apa salah? aku juga mau memulai kembali lembaran baruku dengan Tasya. dia juga bagian dari hidupku." Sanggah Cornelia yang tidak mau di salahkan.


"Kalau kamu menganggap dia adalah bagian dari hidupmu. kamu tidak akan pernah melakukan hal buruk dan keji kepadanya. bukan begitu cara memperlakukan orang yang sudah dianggap sebagai bagian dari hidup kita." Darius menunjuk Cornelia dengan telunjuknya dan pergi meninggalkan istrinya setelah selesai berbicara.


Melihat Darius begitu kesal dan memperlakukan dirinya dengan sangat kasar membuat Cornelia memperlebar rasa bencinya kepada Tasya dan juga Dinniar.


"Lihat saja kamu mas. aku akan pastikan hubungan kalian semakin memburuk. aku tidak rela kamu membagi perhatianmu kepada anakmu yang terlahir dari rahim Dinniar." gumamnya saat Darius sudah tak terlihat oleh matanya.