Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 124 - Film kesukaan dinniar



selesai makan malam Dinniar dan jonatan kembali ke hotel. dia hotel Dinniar kembali asik dengan film kesukaannya.


Jonathan ikut menemani Dinniar untuk menonton film kesukaan istrinya itu. dan nanti malam mereka akan meneruskan pembuatan adik untuk Alesya dan Tasya.


adegan film.


~Hati seorang Ibu~


Jantung kedua pasangan suami istri itu berdetak lebih kencang dari biasanya, setelah dua hari menunggu kepastian dari dokter tentang mata indah yang berwarna biru milik sang buah hati.


Sebuah surat yang mereka baca, mengabarkan hal yang tak terduga, membuat hati seorang ibu rasanya hancur tak tersisa, seorang bayi mungil, yang dia kandung selama sembilan bulan dan sudah hidup di dunia selama satu bulan, harus kehilangan penglihatannya, sungguh suatu takdir yang sangat menyedihkan.


Rea dan Dika pulang kerumah mereka, Rea menangis di samping box bayinya, dia tak bisa menghentikan tangisnya sejak berada di dalam mobil sampai setibanya mereka di rumah.


Dika memarkir mobilnya di garasi, sedangkan Rea menggendong bayi mereka masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di box bayi.


Rea terus memandangi putri mereka yang sudah satu bulan, tidak bisa merespon penglihatannya.


Hati ibu mana yang tidak hancur ketika mendapatkan kenyataan, anaknya tidak sempurna ketika lahir ke dunia.


"Sayang sudah jangan terlalu di pikirkan, nanti  kita sudah mendaftarkan untuk pencari donor kornea, kita pasti mendapatkan orang yang bisa mendonorkan kornea matanya untuk anak kita." Dika berusaha semampunya menenangkan hati sang istri.


"Apa ada? Apa ada, orang yang sengaja akan mendonorkan kornea matanya begitu saja?" Rea malah menjadi emosional.


"Rea, semua ada masanya, kita mungkin tidak akan mendapatkan donor kornea dari mereka yang masih hidup, tapi di luar sana ada beberapa orang yang sudah sakit, diantara mereka pasti ada yang mau menyumbangkan organ tubuhnya untuk orang lain!" Dika memberikan penjelasan kepada istrinya.


"Harus berapa lama bang? Harus berapa lama putri kita menunggu?" Rea melepas pegangan tangannya dari box bayi dan dia pingsan karena kelelahan menangis dan emosi yang cukup tinggi tadi.


Dika langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang, dia merebahkan tubuh Rea dan membiarkannya istirahat.


Dika keluar dari kamar mereka, dia menghampiri kedua orang tua dari pihak masing-masing.


"Bagaimana Dika?" tanya seorang wanita yang melahirkan istrinya.


"Rea, tidak bisa menerima kenyataan pahit ini, Bun, aku bahkan sudah mencoba menjelaskan nanti akan ada masa seseorang menjadi pendonor organ, kita tinggal menunggu hal itu datang." Dika menekan pelipisnya yang terasa mulai berat.


"Sabar sayang, seorang ibu, pasti berharap anaknya tumbuh sempurna, hatinya pasti sangat hancur saat ini." Ibu mertuanya memberikan pengertian.


"Dika mengerti, Bun, Dika pun sama hancurnya!" Dika mulai berkaca-kaca.


"Tidak, Dika, hati seorang ibu jauh lebih hancur dari hati seorang ayah, karena ibu, mengandung selama sembilan bulan, dia bahkan sudah merancang sedikit masa depan untuk anak mereka, dan saat ini, pasti dia sedang memikirkan bagaimana keberlangsungan hidup anaknya, ketika dewasa, tumbuh menjadi gadis buta, bukan masalah mata saja, tapi dia khawatir dengan lingkungan yang akan mencemooh anaknya nanti, yang mungkin akan mencelakai putrinya dengan tindak kriminal! Hati seorang ibu, selalu lebih jauh menyelam dari pada hati seorang ayah, makanya ini adalah pukulan terberatnya!" Papar Sang ibu mertuanya kepada pria yang menjadi suami putrinya.


Dika kini baru sadar, apa yang dikatakan ibu mertuanya benar, seorang ibu selalu berpikir jauh ke depan tentang anak-anak mereka meski belum tentu hal itu terjadi.


Dika melihat raut wajah mamanya, dia sudah bisa tahu, pasti mamanya semakin kesal dengan keadaan ini, Dika menikahi Rea saja sudah merupakan mimpi buruk untuk mamanya, apalagi sekarang harus di hadapi dengan kondisi cucunya yang tidak sempurna, sudah pasti suatu hari nanti mamanya akan berkata menyakitkan kepada istrinya.


"Mah jangan pernah menyalahkan istriku suatu hari nanti, ini semua bukan kesalahan Rea atau kesalahan cucu Mama, ini semua bukan kesalahan siapa-siapa, ini adalah takdir, takdir yang harus kita jalani dan terima dengan baik. Aku berterima kasih, hari ini Mama mau menjaga emosi itu," batin Dika.


Mama Dika memang kurang menyukai Rea, gadis kampung yang di pilih oleh putranya untuk menjadi pendamping hidup, Dika menolak di jodohkan oleh wanita pilihan orang tuanya, dia sudah kepincut wanita cantik yang pernah menjadi kembang desa.


Dika bukan mempermasalahkan paras cantik, tapi dia sudah mengetahui kebaikan hati Rea saat Dika pertama kali melihat Rea, wanita itu bekerja di kantin balai desa, tempat Dika menjalani pekerjaan dinasnya.


Dika selama dua tahun ditugaskan di balai desa kota Bandung, Dika menjabat sebagai sekertaris desa, dan kini dia menjabat sebagai Camat di tempat tinggalnya.


***


"Aku kesal sekali, wanita itu benar-benar membawa sial untuk putra ku!" Salma mendengus kesal sesampainya di rumah.


"Sudah lah Mah, ini semua kan di luar kehendak mereka berdua, mana mereka tahu kalau putri mereka akan mengalami kebutaan," kata Darma ketika melihat istrinya kesal.


Darma dan Salma adalah pasangan suami istri yang menjadi orang tua bagi Dika, Salma sangat kesal dengan pernikahan putranya, nerneda dengan Darma, dia bersyukur putranya memiliki istri yang pengertian dan sangat baik seperti Rea.


"Kalau dulu kita nikahkan Dika dengan wanita itu, mungkin saaat ini cucu kita terlahir normal, tapi aku tidak yakin kalau kita tidak ada penyesalan, aku sudah pernah menyaksikan perilaku gadis itu dulu, saat itu juga, aku menyetujui Dika yang mau menikahi Rea," batin Darma.


Sebagai orang tua, Darma lebih memilih putranya menikahi wanita yang tindak tanduknya baik, bukan memilih wanita yang memiliki status keluarga yang tinggi tapi kurang bermoral, bagi Darma memiliki istri yang berperangai baik adalah aset di masa depan.


"Andai dulu aku tidak mengukuti perintah orang tuaku, mungkin ...,"


"Pah, Papah kenapa jadi bengong sih, mama dari tadi ngomong apa enggak di dengerin? kesel banget sih punya suami enggak pengertian kayak kamu." Salma langsung mengehntak kakinya dan mulai melangkah berjalan ke kamarnya.


Darma yang mendengar keluhan istrinya langsung tersadar dari lamunannya, namu terlambat, istrinya sudah terlanjur kesal kepada dirinya dansudah pasti cerita selanjutnya adalah dia akan kena ocehan istrinya kalau ikut masuk ke dalam kamar, maka dia memutuskan untuk beristirahat di sofa saja, dari pada  istirahat di kamar yang akan membuatnya menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


Dalam rumah tangga, tidak ada pasangan yang sempurna, maka dari itu, tuhan membuat kita berpasang-pasangan, untuk membuat kita saling melengkapi, ketika kita saling menerima pasangan kitamasing-masing, maka di situlah tercipta rumah tangga yang harmonis, yang di dalamnya akan ada kebahagiaan.


...****************...


film sudah selesai. Dinniar dan Jonathan melakukan malam panjang mereka lagi. Ini adalah malam kedua mereka melakukan penyatuan.


"Dinniar. kamu sangat cantik." pujinya di sela-sela permainan mereka berdua.


"Teruskan sayang." pinta Dinniar yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan.


Jonathan semakin liar melakukannya dengan Dinniar setelah mendengar istrinya yang ketagihan dengan permainannya.