Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
253- Ucapan terima kasih



Hari menegangkan telah berlalu. semua orang sudah pulang dari resort demi kenyamanan dan keamanan bersama. Dinniar menemani anak gadisnya tidur. malam ini dia menginap di kamar Alesya karena takut putrinya masih menyimpan trauma.


"tidurlah. mami akan menemani kamu di sini." Dinniar mengelus kepala Alesya sambil memeluknya erat.


"Mami tidur di kamar aku?" tanya Alesya sambil mendongak untuk melihat wajah maminya.


"Iyah sayang. saat ini pasti kamu masih ke takutan sekali. mami khawatir kamu trauma."


"Papa tidak apa-apa tidur sendiri?" tanya Alesya.


"papa sudah besar kak. kakak yang lebih butuh mami saat ini. benarkan?" tanyanya.


Alesya lalu mengangguk. benar memang maminya. Alesya masih sangat ketakutan. dia masih di kejar bayangan kejadian tadi siang di resort. dia masih terngiang-ngiang perkataan Cornelia dan masih sangat terbayang seramnya wajah Cornelia yang rusak.


Dinniar terus memeluk putri sulungnya. dia terus berdoa dalam hati meminta kepada tuhan yang maha esa untuk menghilangkan kesusahan dan kesakitan yang dialami oleh putrinya.


"Mami akan lebih menjaga kalian. ini sungguh sudah sangat keterlaluan. aku akan menangkap mu dengan kedua tanganku sendiri Cornelia. aku tidak akan membiarkan dirimu menyakiti bahkan menyentuk anak-anakku lagi." gumamnya di dalam hati sambil matanya terpejam.


perbuatan Cornelia memang sudah diluar nalar. dia bisa sampai ke resort dengan cepat dan tanpa dicurigai oleh orang lain. dia benar-benar matang dalam memperhitungkan segala sesuatunya. Untung saja semua bisa langsung teratasi.


.


.


.


Pagi menjelang karena hari ini adalah hari Minggu semua orang berkumpul di rumah. selesai sarapan dan berbincang sedikit. Alesya duduk di ruang televisi. dia mencari acara-acara yang bisa membuatnya lupa akan kejadian kemarin.


"sya, tadi Raka bilang mau ke rumah. mungkin sama Alvi dan Ica juga." Dinniar memberitahukan informasi yang dia dapat dari Raka.


"Iyah, mih. aku juga kemarin belum sempat bilang terima kasih ke Raka." kata Alesya.


"Kalau begitu, mami buatkan pasta untuk kalian semua. mami mau kalian menjadi akrab. Raka adalah anak yang bertanggung jawab. benarkan pa?" tanya Dinniar.


"mami benar banget. papa terharu dengan tindakan Raka. dia bisa bergerak cepat dan berpikir cepat juga. papa selidiki di sekolah lamanya. ternyata dia itu salah satu murid berprestasi berturut-turut. papa rasa alasan dia menjadi anak nakal adalah kedua orang tuanya yang mulai sibuk dan tidak memperhatikan dia sejak mengurus penuh perusahaan." jelas Jonathan.


"Kalau begitu kita bisa mengandalkan dia untuk menjaga Alesya kalau di sekolah." usul Dinniar.


"Mamih, apa-apaan sih. Kakak udah besar. enggak perlu di titipin ke orang kayak begitu." protes Alesya.


"Papa tahu sayang. tapi apa salahnya berjaga-jaga seperti halnya kemarin. Untung saja papa langsung tanggap mencari solusi saat mengizinkan kamu pergi." ujarnya.


"Ada Alvi dan Ica kok mih, pah." sergahnya lagi.


"okeh-okeh papa mengalah untuk sementara waktu." Jonathan menunjukkan sikap menyerah.


Alesya tersenyum melihat tingkah papanya dan dia tahu itu hanya mengalah bukan artinya kalah. papanya selalu punya cara untuk melindungi mereka semua.


Dinniar menyiapkan masakan pasta. dia tahu betul anak remaja sangat suka dengan menu itu apa lagi, spaghetti carbonara dan pasta lasagna. Dinniar membuatnya untuk ucapan terima kasih kepada teman-teman Alesya yang sudah berusaha menyelamatkan anaknya.


Raka menyalakan mesin motor dan sebentar memanaskan mesinnya sebelum mengendarainya. Raka memakai helm, dan sarung tangan terlebih dahulu sebelum menarik gas motor.


"Semoga dia sudah baikan dan mau menerimaku bertamu ke rumahnya." Raka pergi ke rumah Alesya.


selama perjalanan menuju ke rumah Dinniar dan jonathan. Raka bersenandung dengan bersiul. dia nampak sangat senang dan bersemangat.


Tiga puluh menit sudah diperjalanan dan dia berhenti di rumah dengan pagar besar yang pernah dia singgahi tanpa sengaja. namun, sejak itu membuat dia dan Alesya menjadi sedikit akrab.


"Den Raka ya?" tanya petugas keamanan rumah Alesya.


"Benar pak. boleh tolong di bukakan pintu gerbangnya?" tanya Raka dengan sopan.


Pintu gerbang terbuka dan Rama memasukkan motornya ke dalam rumah Alesya. saat dia sudah masuk dan memarkir motornya, sebuah mobil ikut masuk ke dalam pekarangan rumah. ternyata itu adalah Ica dan juga Alvi.


"Lo dah Dateng, Raka." sapa Alvi yang turun dari dalam mobil.


Ica juga ikut turun dan mobil mereka di bawa supir untuk memarkir mobil. Ica menghampiri Raka dan Alvi.


"ayo masuk. kenapa pada ngobrol di sini sih?" tanya Ica.


"ini nih dia ngajakin ngobrol." jawab Alvi.


mereka lalu masuk ke dalam rumah Alesya dan di sana mereka sudah di tunggu ternyata. Alesya dan keluarga sudah siap untuk menyambut kedatangan mereka bertiga.


"Selamat datang." sambut Alesya kepada ketiga temannya itu.


"tumben banget di sambut. biasanya juga teriak. masuk ajah enggak di kunci." tutur Ica sambil diiringi gelak tawa.


"yeey. suka nginget masa lalu ajah." terangnya.


Alesya dikunjungi ketiga temannya. Raka, Alvi dan juga Ica. mereka bertiga janjian untuk melihat keadaan Alesya. setelah menyambut kedatangan ketiga temannya mereka duduk di ruang tamu. Jonathan juga ikut menemani keempat anak-anak itu untuk mengobrol.


"Raka, om sangat berterima kasih sekali karena kamu sudah menolong menemukan Alesya. Alvi dan Ica, om juga terima kasih sekali. Untung kalian sadar kalau Alesya tidak ada." tutur jonathan.


Jonathan sangat bersyukur sekali karena putrinya dikelilingi orang baik yang perduli kepada dirinya. diusia mereka yang masih remaja terkadang sering kali tidak perduli dengan kondisi sekitar. namun, berbeda dengan anak-anak ini. tingkat kepekaan mereka terhadap sekitar dan teman perlu di acungi jempol.


"Sama-sama om, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan sebagai seorang teman." sahut Alvi.


Jonathan tersenyum mendengar penuturan Alvi. anak-anak sekolah menengah atas ini ternyata tumbuh menjadi anak-anak yang sangat baik, dewasa dan perhatian. sulit mendapatkan teman yang baik dan tulus di zaman sekarang ini. namun, Alesya mendapatkannya. teman yang siap ada di garda terdepan demi menyelamatkan dan melindungi dirinya. Alesya sangat beruntung memiliki mereka di sisinya.


Alesya bercanda dengan Alvi dan Ica. sedangkan Raka sedang mengobrol dengan Jonathan di teras samping.


"kayaknya, bokap Lo siap punya menantu nih." ujar Ica sambil melirik ke teras samping.


Alesya ikut melihat di mana papa dan Raka berdiri. mereka memang terlihat sangat serius. entah apa yang sedang diperbincangkan oleh dua pria itu.