Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 10 - Makanan Favorit



Dinniar, Darius dan tasya mencicipi hidangan makanan yang sudah di sediakan diatas meja mereka, Dinniar merasa masakan ditempat ini adalah beberapa makanan yang dulu penah tidak disukai oleh suaminya, tapi sekarang suaminya menyentuh makanan itu.


"Mas, kamu suka makanan di sini?" tanya Dinniar.


"Hmm, Masakannya menurutku enak, jadi aku mencoba untuk menyukainya." Darius tampak enteng menjawab pertanyaan istrinya.


"Dengan siapa kamu biasa makan di sini, Mas?" tanyanya lagi.


Mungkin malam ini akan banyak pertanyaan yang akan diajukan oleh Dinniar terkait hidangan makanan hari ini.


"Dengan teman-temanku dan beberapa karyawanku," jawab Darius tanpa menatap.


Dinniar memperhatikan tingkah suaminya saat bicara. "Ternyata kamu sedang berbohong, Mas. Jangan kamu pikir aku tidak tahu kebiasaanmu. Dengan siapa kamu kemari? Apa dengan model itu?" Banyak pertanyaan masuk ke dalam otak Dinniar, tapi dia tidak bisa mempertanyakannya, karena pasti akan merusak suasana.


Dinniar menahan diri, dia tidak mau keceriaan yang dirasakan oleh putrinya saat ini sirna karena keingin tahuannya yang besar terhadap apa yang dilakukan suaminya saat ini.


Berpura-pura memang mudah, tapi mudah jika bukan dihadapan orang yang begitu mengenal kita, mudah jika saat berhadapan dengan orang baru tapi sulit jika berada dihadapan seseorang yang sudah mengenal dan mengamatimu sejak lama.


"Maafkan aku Dinniar, andai aku tidak bermain api, mungkin saat ini keluarga kita masih tetap harmonis." Darius berkata dalam hati sambil terus menyupi putrinya.


Penyesalan hanya sebuah penyesalan tidak berarti tanpa perbuatan yang mencerminkan penyesalan itu, Darius memang menyesal tapi dia tetap menikmati penyesalannya. Darius sedang menyelam dalam lautan besar yang di dalamnya terdapat dua terumbu karang yang begitu indah, dia tidak dapat memilih diantaranya jadi dia memutuskan untuk memiliki keduanya.


Dinniar terus memperhatikan sikap suaminya, meski dia biasa melihat pemandangan ceria antara suami dengan anaknya, tapi tetap dia bisa melihat raut wajah yang sedang disembunyikan oleh suaminya, begitulah kata orang, wanita begitu peka, dia bahkan bisa mencium hal tak biasa yang ada pada pasangannya, meski Dinniar tidak mendengar perkataan dari beberapa karyawan suaminya, tapi dia sudah menaruh curiga terlebih dahulu sebab suaminya sekarang lebih senang bekerja dari pada menghabiskan waktu dengan keluarga.


"Sayang, kamu enggak makan?" tanya Darius yang melihat istrinya sama sekali tidak mencolek makanannya.


"Mas, aku kira kamu masih tidak enyukai hidangan ini, jika aku tahu sekarang kamu menyukainya, mungkin aku bisa membuatkannya untukmu," kata Dinniar.


"Aku mengajakmu kemari, justru ingin memberitahukanmu, kalau aku sekarang menyukainya," ujar Darius.


Darius tidak paham dengan maksud dan tujuan dari istrinya mempertanyakan hal itu. Pertanyaan itu membuat Dinniar semakin yakin, kalau suaminya sudah berbagi hati.


"Jadi, sekarang kamu sudah menyukainya? Apa yang kamu tidak suka sekarang kamu menyukainya." Dinniar sungguh tidak tahan lagi, rasanya dia ingin menangis tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya di sini.


.


.


Pemotretan selesai, Cornelia yang sudah sangat naik daun, kini namanya dan karirnya semakin bersinar, Cornelia sekarang bekerjasama dengan sebuah televisi swasta, salah satu televisi swasta membuka ajang model bergengsi, dia menjadi salah satu juri dari acara tersebut.


"Okeh, semua sudah selesai," kata seorang pria yang langsung mendekati Cornelia.


"Bagus sekali, posemu pas untuk seorang model yang sedang bersinar terang." Puji orang itu.


"Ya, itulah keahlianku, makanya aku bisa mendapatkan orang itu, karena poseku yang menarik." Cornelia berjalan dengan sangat bergaya.


Cornelia merapihkan riasannya, dia akan diwawancarai sebagai juri dan sebagai model papan atas.


Sesi wawancara.


Pembawa acara : "Hallo Miss Cornelia, bener kan ya, kalau maunya di panggil Miss?"


Cornelia : "Iyah bener banget."


Pembawa acara : "Kenapa sih kak, mau dipanggil Miss?"


Cornelia : "Karena aku bercita-cita menjadi sesuatu dalam hidup seseorang danĀ  ingin setelah kata Miss adalah nama orang itu."


Cornelia melakukan sesi wawancara itu sebenarnya juga memiliki tujuan, dia ingin pria yang disukainya segera meminangnya, yaitu 'Darius'.


.


.


Darius mendangi putrinya dengan penuh perasaan bersalah, dia pasti sangat mengecewakan putrinya jika suatu hari perselingkuhannya terbongkar.


Melangkah pelan keluar dari kamar putrinya, saat sudah diluar, ternyata Dinniar menunggunya.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?" tanya Dinniar.


"Kita bicara di ruang kerjaku." Ajak Darius sambil meraih tangan istrinya.


Hati Darius begitu berdebar. Rasanya dia ingin kabur untuk menghindari percakapan dengan istrinya, tapi sayang hal itu tidak bisa dilakukan.


"Duduk." Darius dan istrinya duduk berdampingan di sofa.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Darius yang sebenarnya sangat takut.


"Ada yang ingin aku tanyakan." Dinniar tersenyum kaku.


"Apa?" Darius mengecup punggung tangan istrinya.


"Ini tentang, Tasya." Pandangan Dinniar menerawang jauh.


"Menurutmu, dimana kita akan menyekolahkannya?" tanya Dinniar.


"Se-sekolah?" Darius terbata.


"Hmm ... sekolah, menurutmu apa yang akan aku tanyakan kepadamu?" tanya Dinniar dengan wajah pura-pura tidak tahu.


Dinniar mencoba membangun percakapan yang cukup membuatnya bisa melihat ekspresi suaminya, dia ingin memastikan bahwa suaminya masih perduli dengan istri dan anaknya. Dinniar yang berprofesi sebagai seorang Kepala Sekolah, harus bisa membaca ekspresi harus bisa memprediksi situasi.


.


.


Pagi harinya, Dinniar bangun dengan mendapati kasur hanya ada dirinya seorang. Dinniar beranjak dan mencari keseluruh sisi kamarnya.


"Kemana, Mas Darius?" tanyanya kepada diri sendiri.


Dinniar memakai Outernya dan langsung berlari ke ruangan bawah.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Darius langsung menyadari kehadiran istrinya, dia langsung mengantongi ponselnya.


"Aku kira kamu pergi." Dinniar turun tangga dengan perlahan.


"Kemana? Ini kan hari sabtu." Darius membantu Dinniar menuruni anak tangga terakhir.


"Hari ini, aku akan meluangkan waktu lagi." Darius tersenyum.


"Ingin rasanya aku seperti diriku yang dahulu, tidak menaruh curiga, tidak pernah mendengar selentingan tentangmu. pasti saat ini aku bahagia karena tidak mengetahui kalau senyum itu palsu." Dinniar meneratap.


Sungguh sudah nasib seorang istri yang suaminya bekerja dengan banyak model cantik. Di kantor Darius bahkan dirinya lah yang paling terlambat untuk mengambil keputusan berpaling dari para istri.


Banyak diantara para karyawan saling bertukar pandangan, saling bertukar sapaan bahkan bertukar pasangan. Tanpa mereka sadar itu akan merusak rumah tangga mereka dan merusak kepercayaan anak-anak mereka. Dengan berselingkuh kita akan dicap sebagai seorang pengecut. Tidak ada seorang yang pernah selingkuh satu kali akan bertaubat, dia pasti akan kembali tergoda, meski ditahan pasti akan tetap terpancing.


Dinniar menyadari dirinya sudah kehilangan sosok suami yang begitu dia percaya, tapi dia akan tetap bertahan,demi putrinya. Dinniar tidak akan menyerah, dia akan menata kembali rumah tangga yang telah dirusak.


.


.