
Dinniar sampai di rumahnya. Asisten rumah tangganya dan baby sitter Tasya heran karena Dinniar pulang sendirian tanpa Tasya bersamanya.
"Bu, Non Tasya kemana?" tanya Surti.
"Ambilkan saya minum."
Dinniar duduk dengan lemar dan wajah yang masih sangat kusut.
Surti memberikan segelas air putih ke tangan Dinniar. Dinniar langsung meraihnya dan meneguk habis air di dalam gelas. Dinniar meletakkan gelas di atas meja dengan sangat kasar.
"Bi, besok kamu ke rumah Pak RT. Laporkan kalau Tasya hilang." Dinniar menarik napas panjang.
"Hilang?" teriak ke dua wanita itu tak percaya.
"Bi, ini enggak bercanda'kan?" tanya baby sitter Tasya.
"Ya, tidak lah. Masa iyah keselamatan anak saya dibuat lelucon." Dinniar sedikit sewot.
Kedua wanita itu saling bertatapan dan kembali menatap wajah Dinniar yang terlihat sangat menyedihkan.
Surti tidak percaya kalau malaikat kecil di rumah ini hilang begitu saja.
"Bu, sebaiknya istirahat saja. Agar tubuh ibu segar besok saat bangun. Mumpung baru jam dua pagi." Surti memberi nasehat.
Dinniar mengikuti apa perkataan Surti. Dia menghargai nasehatnya.
Dinniar beranjak dari tempat duduknya dan dia menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dinniar melihat kamar putrinya dari atas. Dia sangat merindukan putrinya yang sudah berpisah dari dirinya beberapa jam lamanya.
Dinniar duduk di salah satu anak tangga sambil menangis penuh harap kalau anaknya pulang malam ini.
Kedua wanita yang melihat kesedihan di wajah cantik Dinniar. Dengan cepat mereka menaiki tangga dan memeluk Dinniar erat. Dinniar bersandar kepada Surti yang sudah bersamanya lama sekali.
Dinniar terisak. Mata indahnya sudah sembab. Hidungnya yang mancung sudah sangat merah dan wajahnya yang cantik sudah dibanjiri air mata.
"Bu, sudah. Sabar, kami yakin Non Tasya baik-baik saja. Dia anak yang kuat dan juga pintar. Kami berdua yakin kalau Non Tasya akan kembali." Surti mengusap punggung Dinniar.
Berat sekali bagi Dinniar untuk bersikap tenang. Dia bahkan tidak tahu dimana dan bagaimana kondisi putri semata wayangnya.
Dinniar mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan segera menghubungi teman-temannya.
Adrian bahkan langsung meminta beberapa temannya untuk membantu juga.
Sonia yang suaminya seorang detektif swasta juga mengerahkan beberapa anak buahnya untuk turut membantu.
Semua berusaha membantu Dinniar.
Violin meminta bantuan kepada Samuel agar bisa mengerahkan beberapa anak buahnya untuk ikut mencari.
Mereka bergerak dengan cepat agar Tasya cepat ditemukan. Mereka sangat sedih mendengar berita hilangnya Tasya.
...****************...
"Aku tidak habis pikir. Bisa-bisanya seorang ayah mengabaikan putrinya sendiri dan lebih mementingkan pelakor itu." Violin sangat emosi mengingat cerita Dinniar yang singkat itu.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah meminta tolong seseorang untuk mencarinya." Samuel menenangkan istrinya yang sedang hamil tua.
"Ya aku tahu, tapi rasanya ...,"
"Shuuut." Samuel membawa istrinya duduk sebelum menuntaskan perkataannya.
"Sayang, ingat kamu sedang mengandung anak kita. Jangan dengan masalah ini kamu malah jadi stress. Dokter bilang apa? Kamu tidak boleh stress. Dua Minggu lagi kamu akan melahirkan." Samuel mengelus lembut bahu istrinya.
"Sekarang, tarik napas panjang. Buang perlahan." Samuel membantu istrinya untuk tenang.
Violin mengikuti arahan suaminya dan dia sekarang sudah sedikit lega. Napasnya tidak diburu lagi karena rasa kesalnya.
"Kita harus membantu Dinniar." Pinta Violin.
"Sayang, kamu dengar'kan tadi aku bilang? Aku sudah meminta tolong kepada orang yang tepat." Samuel mengulangi perkataannya yang sempat terabaikan oleh istrinya karena panik dan emosi.
"Siapa?" tanya Violin.
Samuel mendekat ke telinga istri ya dan membisikan satu nama.
Violin merasa geli karena hembusan napas suaminya, tapi dia senang ternyata Samuel cukup peka.
"Kamu memang pintar sayang " Violin memeluk suaminya senang.