
Malam ini Dinniar mendapati kalau suaminya sedang bicara dengan melakukan panggilan video call.
Dinniar diam-diam memperhatikan dan mencoba untuk mendengarkan percakapannya.
"Mas Darius lagi ngobrol sama siapa sih? Kayaknya serius banget." Dinniar mencoba mengintip tapi tetap tidak terlihat.
"Mas." Dinniar akhirnya mendekati Darius.
"Sayang." Darius menyembunyikan ponselnya.
"Lagi ngobrol sama siapa? Kayaknya seru banget." tanya Dinniar mencoba menyelidiki.
"Oh, ini aku lagi meeting online sama anak-anak di kantor. Besok aku ada acara keluar kota sama mereka." Jelas Darius.
Kebohongan demi kebohongan disampaikan kembali oleh Darius. Begitulah kalau sudah sekali berbohong dan sudah nyaman dengan kebohongan, kita akan terbiasa berbohong.
"Mau kemana? Aku sama Tasya boleh ikut?" tanya Dinniar.
"Aku sebenernya mau ajak kalian, tapi aku kan sibuk banget nih di sana, jadi aku takut kamu enggak nyaman." Tandasnya.
Darius menunjukkan raut wajah penolakan, itu memperjelas kalau ada yang tidak beres.
"Baiklah, aku dan Tasya mungkin ajan jalan-jalan ke Mall saja, karena besok hari Sabtu jadi aku mau shopping dikit." Dinniar tersenyum sambil menyipitkan kedua matanya.
"Kalau begitu, belanja yang banyak, yang kamu dan Tasya suka. Ini kartu aku, kamu bisa belanja sepuasnya." Darius memberikan kartunya.
Dinniar menerima kartu yang diberikan oleh suaminya.
"Aku akan menggunakannya di tempat dimana kamu berada besok Mas." Dinniar keluar dari ruangan suaminya.
Setelah Dinniar keluar dari ruangannya, Darius kembali meneruskan panggilan video yang tertunda.
"Maaf sayang, ada iklan tadi," ujar Darius.
Cornelia sudah tidak sabar ingin bersama dengan Darius.
"Sayang lihat ini," Cornelia memperlihatkan sisi atas tubuhnya saat dia sedang berendam di dalam bathtub.
"Besok kita mandi bersama." Darius mengecup jauh Cornelia.
"Besok aku ingin bersenang-senang denganmu. Besok giliran aku yang harus kamu manjakan." Cornelia membalas kecupan Darius.
Memang kalau baru jatuh cinta, seakan dunia milik berdua, yang lain numpang 🤣. Dimabuk cinta membuat kita akan terasa terbang ke nirwana, dua sejoli itu akan selalu merasakan rindu yang menggebu, waktu yang mereka jalani akan terasa singkat dan kurang.
Darius dan Cornelia bukan hanya berpacaran, tapi mereka sudah berhubungan yang tidak seharusnya dilakukan.
"Mas, punya kamu Kaya begini kan?" Cornelia memperlihatkan replika milik pria.
"Hei! Kamu kok punya kaya begitu sih?" Darius terkejut sambil tertawa ringan.
"Biar kalo kamu sibuk dan enggak bisa ketemu aku, aku bakal masukin dia, terus kirim foto dan pasti kamu bakalan langsung samperin aku ke sini, karena ngiler." Cornelia menunjukkan aksinya.
"Sayang, jangan." Darius mencegah.
"Kenapa?" Cornelia menghentikan aksinya.
"Aku enggak sanggup liatnya, bisa-bisa aku sakit kepala." Darius mulai panas.
"Sini dong kamu. Rumah kamu sama apartemen aku kan Deket cuma lima belas menit ajah." Rengek Cornelia.
"Maaf sayang, karena kita besok mau bersenang-senang. Aku tidak bisa kesana, takut istriku curiga." Darius mematahkan semangat kekasih gelapnya.
"Ya udah, aku terusin mandi dulu. Jangan salahin aku kalau aku kirim video desahanku ke kamu." Ancam Cornelia sambil menutup teleponnya.
"Dia, selalu bikin aku merasa gemas." Darius langsung menuju kamarnya.
Membuka pintu kamar perlahan dan melihat istrinya sudah terlelap. Darius naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau membangunkan tidur nyenyak istrinya.
"Tidur yang nyenyak, I Love You." Darius berbisik di telinga Dinniar.
Mendengar bisikan suaminya, Dinniar langsung mengubah posisi tidurnya. Kini dia sudah menghadap ke suaminya. Darius menatap wajah istrinya dan seketika hasratnya terbangun, kan.
"Apa?" Dinniar menjawab.
Dengan cepat Darius langsung memeluk dan merangsang istrinya agar mau melayaninya.
Dinniar menggeliat ketika Darius menyentuh setiap inci tubuhnya. Darius tidak sabar untuk tenggelam dalam lautan yang dalam.
"Sayang, bukalah matamu." Darius menyentuh lembut wajah Dinniar.
Sungguh Dinniar tidak ingin melayani suaminya dalam kondisi hatinya yang meragu, tapi apa boleh buat, jika suaminya ingin maka tidak akan bisa menolak, sentuhan suaminya sangatlah dahsyat.
.
.
Darius yang sudah lelah dan tertidur bersama Dinniar. Mendengar suara dering ponselnya, dia langsung mencari ponselnya dan dia lihat Cornelia sedang asik dengan replika pria.
Tidak rela kekasihnya bermain dengan replika. Darius beranjak dari tempat tidurnya, dia menutup pintu kamar perlahan. Dinniar sudah sangat terlelap sehingga tidak mendengar suaminya keluar kamar.
Darius membuka pintu pagar rumah dan mengeluarkan sepeda miliknya. Jarak tempuh dari rumahnya ke apartemen Cornelia tidak jauh, sehingga dia bisa menghilang sepeda sebagai alat transportasi.
Darius menyimpan sepedanya di parkiran sepeda. dia berlari masuk ke dalam gedung dan langsung pergi ke apartemen milik Cornelia.
Cornelia mendengar suara ketukan pintu.
"Itu pasti kamu, Mas." cornelia langsung membuka pintu apartemen.
"Ayo, cepat." Darius langsung menyerobot masuk dan membuka semua pakaiannya.
Dia bahkan sangat mudah tergiur ketika Cornelia menunjukkan kepemilikannya. Cornelia yang sejak tadi memakai lingerie sudah siap memberikan servis untuk pria yang dia cintai.
Cornelia dan Darius bermain penuh nafsu.
Sungguh setan sudah merasuki mereka berdua. Darius bagaikan kucing liar yang tengah diberi makan ikan setelah tidak makan berhari-hari. Padahal dia baru satu jam lalu selesai bermain dengan istrinya.
Pria mana yang tidak mengeluarkan air liurnya saat dia di beri pancingan yang menggiurkan. Darius dan Cornelia saling berburu napas.
Jeritan nakal keluar dari bibir Cornelia dan Darius begitu menyukainya apa lagi, saat Cornelia membisikkan lenguhannya di telinga.
satu jam lebih mereka sudah berburu napsu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melakukan pelepasan.
Permainan kembali panas ketika Cornelia memimpin permainan, saat itu Darius tidak bisa menahan dirinya. Lahat panas langsung membasahi pengaman yang di dikenakannya dan Cornelia juga mencapai puncaknya.
"Saat kita di Bandung nanti. Jangan pakai pengaman." Cornelia berbisik di telinga Darius sebelum beranjak dari tubuh kekasihnya.
Darius tersenyum meski lesu. "Kamu masih harus berkarir, jika nanti hamil itu akan meredupkan karirmu."
"Aku bisa minum Pil KB, apa Dinniar tidak KB?" tanya Cornelia.
"Tidak."
"Apa dia tidak hamil?" tanya Cornelia penasaran.
"Dia sulit hamil anak kedua. Begitu kata dokter yang memeriksanya, makanya selama empat tahun kamu tidak pernah memakai KB." Cerita Darius sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan jam lima subuh. Darius bergegas untuk pulang ke rumahnya. Dia tidak mau Dinniar curiga dengan kepergiannya.
.
.
Darius kembali pulang, dia mengendap-endap masuk ke dalam halaman rumah, menyimpan sepeda di garasi dan kembali ke kamarnya.
Dilihatnya Dinniar masih terjaga, dengan tubuh yang lelah, Darius langsung berbaring dan memeluk tubuh istrinya.
Dinniar yang merasakan suaminya memeluknya, langsung membuka matanya.
"Good Morning," sapa Darius.