
Dinniar memapah suaminya di bantu oleh supir taksi online hingga masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian asisten pribadi suaminya sampai juga di rumah mereka. Rendy ikut memapah Jonathan hingga ke dalam kamar. mereka membaringkan Jonathan di kasur dan berusaha untuk menyadarkannya.
"Mas, aku mohon sadarlah." Dinniar berusaha membangunkan suaminya.
Minyak angin sudah di balurkan ke hidung Jonathan, tapi pria itu tak kunjung membuka matanya. Hingga pada akhirnya Rendy mengambil tindakan.
"Halo, pak. tolong datang ke rumah pak Jonathan." Pinta Rendy kepada dokter khusus keluarga.
Dinniar hampir tidak kepikiran untuk menghubungi dokter sangking dia sangat panik. dan dia lalu terlintas Alesya.
"Pak Rendy. Alesya belum pulang sejak sore tadi dijemput oleh supir. saya tidak bisa menghubungi supir karena dia tidak membawa telepon selulernya." kata Dinniar.
Rendy dengan cepat meminta anak buahnya menyusul ke rumah yang di kunjungi oleh Alesya untuk belajar kelompok bersama.
Di sekolah Alesya memang mewajibkan belajar kelompok seminggu dua kali. Sekolah memberlakukan hal itu untuk mempererat pertemanan dan juga kelompok belajar dibuat bergiliran bertujuan mengenal semua teman dan tidak hanya teman itu-itu saja dalam pergaulan sehari-hari mereka.
Di sekolah Alesya tidak ada gank atau kelompok pertemanan. semua di wajibkan berteman. meski akan ada teman yang sangat dekat, tapi sekolah tidak memperbolehkan membentuk gank.
Rendy mulai mendapatkan kabar perihal kondisi mobil dan juga supir yang menjemput Alesya.
mengingat waktu sudah malam dan Alesya tidak diketemukan oleh anak buahnya dimanapun. Membuat Rendy menjadi bingung bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada Dinniar.
Dinniar yang sedang merawat Jonathan di kamarnya pastinya hati dan pikirannya bercabang kemana-mana.
Rendy mengetuk pintu kamar Dinniar dan Jonathan.
"Masuk." Dinniar menjawab ketukan pintu dengan mempersilahkan masuk.
Rendy perlahan membuka pintu kamar dan dia lihat Jonathan masih belum sadarkan diri. Rendy menundukkan wajahnya tak berani memandang wajah istri bosnya.
"Bagaimana pak Rendy? apa Alesya dan supir sudah di temukan?" tanya Dinniar.
Rendy terdiam mendengar pertanyaan itu.
"Pak Rendy?" Dinniar memanggil Rendy.
"be-begini, Bu Dinniar. Anak buah saya menemukan lokasi dimana supir berada. Hanya saja kondisi mobil dan juga supir tidak dalam keadaan baik-baik saja." tutur Rendy.
"Maksudnya?" tanya Dinniar sambil memeras handuk kecil dari dalam rantang air.
"mobil dalam kondisi kaca pecah dan supir juga seperti habis di pukuli hingga wajahnya penuh lebam. Sedangkan nona Alesya. tidak ada di sana dan sudah di cari sekitarnya juga tidak diketemukan."
Penuturan Rendy membuat Dinniar berhenti sejenak untuk menyeka keringat yang timbul di dahi suaminya.
"Maksudmu Alesya hilang?" katanya sebelum tangan dan tubuhnya menjadi lemas.
"Benar Bu. Namun, anak buah saya sedang bergerak mencari kembali sampai nona Alesya ditemukan." Tegas Rendy.
"Apa supir sudah di bawa pulang?" tanya Dinniar.
"Supir sedang di bawa ke klinik terdekat Bu. karena dia juga sempat pingsan saat ditemukan." jelas Rendy lagi.
Dinniar semakin tidak mengerti dengan kondisi saat ini. dia tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi begitu bersamaan dengan kondisi suaminya yang tidak sadarkan diri. Dinniar seakan sendirian menghadapi keadaan ini.
Dinniar kini hanya bisa mengandalkan Rendy saja. dia sangat berharap sekali kalau anak buah Rendy bisa menemukan Alesya sebelum suaminya bangun.
Tidak lama seorang dokter masuk ke dalam kamar dengan dikawal oleh salah satu asisten rumah tangga Dinniar. Dokter mulai memeriksa kondisi Jonathan.
"Bu Dinniar tenang saja. pak Jonathan hanya dalam pengaruh obat bius saja. dan untungnya dosisnya tidak terlalu tinggi sehingga satu atau dua jam lagi akan segera siuman." jelas dokter setelah memeriksa kondisi Jonathan.
"Terima kasih dokter. saya sangat khawatir karena suami saya tidak kunjung sadarkan diri." tutur Dinniar.
"Tidak apa Bu. ini kondisi biasa saat orang dalam pengaruh obat bius. sebaiknya pak Rendy mencari tahu kenapa bisa terjadi hal seperti ini. karena saya tidak mau bos besar menjadi khawatir tentang kondisi putranya." Pesan dokter kepada Rendy.
Dinniar belum menghubungi ibu mertuanya itu. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kondisi yang kacau balau hari ini.
"Pak, coba cari tahu juga siapa yang membuat suami saya seperti ini. dan tolong perketat penjagaan di rumah." pinta Dinniar.
Rendy menyiapkan segalanya dengan secara matang. dia sudah meminta beberapa anak buahnya untuk berjaga dan siaga.
Di rumah Dinniar sangat sibuk dengan kondisi Jonathan dan juga memikirkan Alesya yang sedang menghilang. sedangkan di sebuah lokasi, Alesya sedang terikat dengan mulut yang tersumpal.
"Hai, anak cantik. bagaimana kabarmu hari ini? apa kamu sudah makan?" tanya seseorang melalui telepon.
"Siapa kamu? kenapa kamu memerintahkan orang untuk menculik saya?" tanya Alesya dengan sangat berani ketika seseorang sudah melepaskan penutup mulutnya.
"Kamu tidak perlu tahu siapa saya. yang jelas saya adalah suruhan seseorang. Saya adalah orang yang diperintahkan untuk membuatmu menghilang. Karena orang itu tidak menyukai kehadiranmu dalam kehidupannya." tutur orang tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Alesya.
Sambungan telepon langsung terputus. orang yang bicara dengannya di telepon tidak menanggapi pertanyaannya. gak tersebut membuat Alesya menjadi bingung sekali.
"Kamu mau tahu siapa yang menyuruh kamu?" tanya salah satu wanita yang tadi membawanya ke gedung kosong itu.
"Siapa? siapa yang mau membuatku hilang?" Alesya berteriak.
"Dia orangnya." Perempuan itu memperlihatkan foto seseorang kepada Alesya.
Mata Alesya sontak membulat sempurna. Dia lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya akan hal itu.
"Kamu pasti tidak percaya bukan? perangainya yang sangat baik bahkan hampir seperti bidadari. pasti membuat dirimu tidak menyadari akan terjadinya hal seperti saat ini." ucapnya sambil menarik kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Jangan bohong. tidak mungkin. aku sangat kenal seperti apa mami." teriak Alesya.
Wanita itu memperlihatkan wajah Dinniar kepada Alesya. mereka menegaskan bahwa semua ini adalah rencana dari Dinniar untuk menyingkirkan Alesya. agar Alesya tidak menghalangi dirinya untuk menguasai bisnis keluarga Jonathan.
"Dengar anak cantik. wanita yang kamu panggil mami saat ini saja tidak menghubungimu dan tidak mencarimu. Itu karena dia tahu dimana kamu berada." orang itu kembali memasukkan racun ke dalam otak Alesya dengan kata-katanya.
Alesya masih tidak percaya akan semua yang dikatakan oleh wanita tersebut. Dia saat ini hanya bisa menangis di tengah kebingungan dan ketakutannya. Dia sangat ingin pulang.
"lihat ini juga. bahkan pria yang kamu sebut papa itu sedang tertidur lelap. kalau memang semua ini bukan rencana wanita itu. pasti seisi rumah mu akan mencarimu bukan sedang asik tertidur."
Wanita itu menunjukkan foto Jonathan yang sedang tertidur lelap tanpa beban dan di foto itu tertera juga tanggal dan jam kapan diambilnya foto tersebut.
Alesya semakin ketakutan. dia tidak pernah mendapati omnya setenang itu saat dia tidak ada. Alesya sudah mulai di rasuki oleh perasaan negatif akibat hasutan yang di berikan kepadanya.