Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 194 - Sikap tegas



Pihak kepolisian belum juga bisa menemukan jejak dari cornelia. Hal itu masih membuat setiap orang cemas dan juga membuat seorang dokter psikolog akan terancam karirnya.


"Mereka tidak akan pernah menemukan ku benar bukan Karolina?" tanya Cornelia.


"Hem, benar." Karolina menimpali perkataan temannya.


"Kamu seperti orang yang banyak pikiran. ada apa?" tanya Cornelia.


"tidak." Karolina menyembunyikan perasaannya.


karolina sepertinya memiliki banyak hal yang ada di kepalanya karena sikap temannya yang selalu saja semena-mena dan tidak memikirkan orang lain.


"kalau saja bukan dia yang telah membantuku untuk bisa seperti ini. mungkin, aku akan mengabaikannya atau mungkin aku akan melaporkannya kepada pihak polisi. agar bisa memasukkan dia kembali ke dalam penjara dan membuat dia sadar, kalau Apa yang dia lakukan itu semua adalah salah." gerutu karolina di dalam hatinya.


"Aku harap kamu akan selalu setia kepadaku karolina. kamu sudah mendapatkan kehidupan yang nyaman dariku. Aku tidak suka seorang penghianat."


kornelia bicara seakan-akan dia bisa membaca pemikiran karolina sahabatnya. karolina langsung terlihat wajahnya pucat pasi. dia terhenyak ketika Cornelia bicara seperti itu.


"aku tidak mungkin menghianatimu. karena kamu adalah sahabatku. bukan hanya seorang penolongku." ujar karolina.


Bak simalakama Karolina memberikan hati kepada Cornelia dan menerima hati dari cornelia. Andai waktu bisa di putar mungkin dirinya tidak akan pernah mau mendapatkan bantuan dari sahabatnya itu.


Menyembunyikan penjahat atau tahanan kepolisian sama saja melakukan tindakan kejahatan.


"Apa kalian sudah menemukan jejaknya?" tanya seorang petugas kepolisian kepada temannya.


"Sepertinya kita juga harus mencari kaki tangan dari tahanan itu. Sebab tidak mungkin jika dia merubah semua surat sendiri." Ujar petugas kepolisian.


Mereka kembali menyisir beberapa daerah di sekitar rumah sakit jiwa. Mereka sudah menyisir dua daerah yang dekat dengan rumah sakit jiwa, tapi hasilnya masih nihil. mereka belum bisa menemukan Cornelia.


...****************...


Dinniar semakin memperketat semua keamanan untuk kedua putrinya. dengan meminta anak buah suaminya berpatroli di sekolah.


"Apa kita minta anak-anak untuk sekolah di rumah saja ? aku benar-benar khawatir dengan mereka." Dinniar menggigit ujung kuku ibu jarinya.


"Sayang, jangan kamu seperti ini. Kalau kamu terus cemas begini. yang ada nanti anak-anak semakin curiga. kamu tahu bukan kalau anak-anak kita sangatlah cerdas? mereka pasti bisa melihat setiap gerak-gerik yang mencurigakan dari kita." Jonathan memegang kedua bahu istrinya. dia berusaha menyadarkan sang istri yang sedang dikuasai oleh rada cemas.


"Aku akan berusaha lebih tenang dan aku juga akan berusaha mengontrol setiap rasa di dalam hatiku." Dinniar mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap tegas kearah suaminya.


"Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi rasa cemas mu dari situasi ini. kita akan menjaga anak-anak dengan baik." ujar Jonathan.


Dinniar terasa kalau dirinya begitu lemah dan mudah digoyahkan. Dia kini sedang berusaha agar bisa melawan Cornelia. Dia tidak mau masuk dalam jebakan permainan konyol dari wanita yang akan segera menyandang status janda seperti dirinya dulu.


"Aku tidak akan kalah lagi darimu. Aku akan tunjukkan bahwa aku mampu menjaga anak-anakku dan juga menjaga keutuhan rumah tanggaku." Dinniar berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lemah.


Dia tidak akan pernah kalah lagi dari cornelia. dia tidak akan pernah menyerah. dia akan menjaga keutuhan rumah tangganya dengan segenap jiwa raganya.


Dinniar akan menyiapkan dirinya untuk menghadapi Cornelia ketika dia kembali menampakkan dirinya di hadapannya. Bagi Dinniar masih panjang perjalanannya. jadi dia tidak akan pernah merelakan anak-anaknya disakiti lagi oleh orang-orang yang tidak berperasaan.