Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 209 - mendapatkan ikan itu mengingatkanku saat mengejarmu.



Jonathan dan Dinniar duduk bersampingan sedangkan papanya sudah pergi ke kolam lain untuk mencari ikan yang berbeda.


Jonathan duduk berdua dengan istrinya yang sangat cantik itu dan dia mengajarkan Dinniar caranya memancing.


"pertama-tama kamu gulung dulu benangnya lalu kamu lempar seperti ini." Jonathan mengajarkan istrinya.


Dinniar sangat senang sekali saat diajarkan pertama kalinya bagaimana cara memancing oleh sang suami.


"kamu tahu sayang. memancing itu sudah-sudah gampang. sama halnya seperti mengejar dirimu. aku harus sangat berusaha dan bahkan hampir menyerah, tapi rasanya masih begitu sangat penasaran dengan dirimu. hal itu yang membuat aku menjadi kembali bersemangat dan akhirnya bisa juga memiliki dirimu sebagai seorang istri.


Dinniar malah terkekeh dengan gombalan suaminya kepada dirinya. dia tak bisa menahan rasa yang menggelitik hatinya.


"kenapa kamu malah tertawa sayang? aku serius dengan perkataanku tadi. mendapatkan kamu itu sulit meski ada mudahnya. itupun disaat terakhir karena orang tua mu yang memaksa kita menikah." tutur jonathan.


"sebenarnya kamu sudah dengan cepat mendapatkan hatiku, mas. hanya saja aku yang masih bingung harus bagaimana karena aku pun masih sangat trauma dengan pernikahan." jelas Dinniar


"jadi sebenarnya kamu juga sudah menyimpan rasa kepadaku? wah aku baru tahu akan hal itu sayang." serunya dengan wajah yang sangat senang.


"benar." Dinniar tertawa kecil menahan malu.


mendengar hal itu membuat Jonathan memeluk Dinniar "terima kasih sayang. ternyata kamu mencintai aku sebelum kita menikah. aku senang dengan pengakuanmu itu." bisik Jonathan.


di saat mereka tengah sibuk dengan kisah perasaan mereka. Tasya dan anaknya Jason yang bernama Julita tengah asik berbincang-bincang. Tasya yang mudah akrab dengan teman sebayanya membuat mereka berdua saling bertukar cerita.


Julita terpesona menatap wajah Tasya yang cantik Ini pertama kalinya Julita berlibur di Jakarta dia tinggal di Bukittinggi Sumatera Utara. Jason ayahnya sengaja mengajak Julita untuk pergi ke Jakarta berlibur bersama dengan keluarga sahabatnya.


"selamat datang Julita." kata Tasya sambil tersenyum


"terima kasih." balas Julita sambil memeluk Tasya.


mereka memang sering berbicara melalui telepon genggam sehingga mereka sudah cukup akrab.


Julita membagikan oleh-oleh yang dia bawa dari buku tinggi Sumatera Utara Tasya mendapatkan oleh-oleh jam gadang.


"ini apa namanya?" tanya Tasya kepada Julita


"namanya jam gadang gadang itu artinya besar." jelas Julita kepada Tasya


Tasya mengangguk-ngangguk matanya berbinar menunjukkan kalau dia sangat tertarik.


"mesin jam gadang sama seperti yang digunakan pada jam big Ben di dunia hanya ada dua buah jamnya sendiri didatangkan khusus dari kota Rotterdam." kata Alesya yang memberitahukan dua anak kecil itu.


"wah jadi jam gadang ini sama seperti big Ben ya Kak?"tanya Tasya kepada kakaknya.


"ya benar Tasya."


Tasya semakin tertarik dengan jam yang diberikan oleh Julita kepadanya sebagai oleh-oleh.


Alesya kemudian cerita banyak tentang jam gadang. Tasya dan juga jelita mendengarkan dengan penuh perhatian meskipun tinggal di Bukittinggi Julita masih tetap senang ketika mendengar banyak tentang daerahnya.


"bangunan jam gadang itu terbuat dari apa Kak?"tanya Tasya


"bangunan jam gadang itu dibuat tanpa semen."


"memakai kapur, putih telur dan pasir putih." jawab Julita memberitahu kepada sahabatnya Tasya


"putih telur?" kata Tasya penuh ketidak percayaan.


"benar putih telur." jawab Alesya yang membenarkan cerita Julita.


"Tasya kota Bukittinggi itu sangat istimewa kamu tahu tidak kalau wakil presiden pertama Indonesia itu lahir di kota Bukittinggi tempat aku tinggal." cerita julita kepada Tasya.


Julita banyak sekali pemberitahu Tasya tentang betapa indahnya dan istimewanya Bukittinggi Sumatera Utara. ya memamerkan seperti apa kampung halamannya.


"wow!"Tasya tanpa kagum.


"dulu Bukittinggi juga pernah menjadi ibukota negara Indonesia. waktu itu sedang terjadi situasi darurat." cerita Alesya.


"benarkah?" tanya Tasya yang semakin mengagumi tempat tinggal sahabatnya.


"iya benar kata kamu Tasya."


Tasya manggut-manggut sambil membayangkan seperti apa indahnya kota Bukittinggi yang diceritakan oleh sahabatnya Julita.


"Bukittinggi adalah kota yang indah dulu kota itu sempat dijuluki dengan nama Paris Van Sumatra di sana juga ada tempat indah yang bernama ngarai Sianok." jelita semakin senang menceritakan seperti apa indahnya tempat ia tinggal dan besar.


Tasya tampak sedikit bingung mendengar ucapan dari sahabatnya itu namun Alesya menangkap kebingungan Tasya dengan cepat maka dia buru-buru menjelaskan.


"Tasya Kamu tahu grand canyon kan?"tanya kakaknya kepada Tasya dan dibalas dengan anggukan.


papanya pernah menunjukkan beberapa gambar grand canyon di internet dan di buku menurutnya itu merupakan tempat yang sangat menakutkan.


"ngarai Sianok itu mirip green canyon hanya saja memang lebih kecil."seperti itulah Alesya menjelaskan kepada adik kecilnya Tasya.


"semakin banyak aku mendengar cerita dari Julita dan kakak. semakin ingin aku pergi ke sana.


Alesya menunjukkan seperti apa indahnya kota Bukittinggi dari internet. Tasya pun semakin terkagum-kagum dengan pemandangan yang ada di layar ponsel milik kakaknya.


"Kakak ayo ajak Papa dan Mami untuk pergi ke sana. bukankah kita dua Minggu liburan sekolah. berarti cukup waktu untuk kita pergi ke sana."ajak Tasya.


"nanti kita bicarakan dengan papa dan Mami ya Tasya. karena kita kan tahu kalau Papa sedang banyak sekali urusan pada bulan ini. untuk liburan saja kita dipilih yang dekat-dekat saja. karena memang Papa sedang banyak sekali pekerjaan yang harus diurus." Alesya memberikan pengertian kepada adik kecil.


"benar kata kakakmu Tasya." ujar Dinniar yang mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh anak-anaknya.


"Mami tapi aku ingin pergi ke sana. Judika saja pergi ke Jakarta bersama dengan keluarganya. kenapa kita tidak bisa pergi ke Bukittinggi Sumatera Utara?" Tasya masih mempertanyakan hal itu.


"Sayang tunggu semua pekerjaan Papa beres dulu oke. karena jika Papa tidak membereskan pekerjaannya nanti kita tidak bisa pergi jalan-jalan." Dinniar kembali memberikan penjelasan.


"baiklah Mami aku akan menunggu Papa sampai pekerjaannya selesai. Aku berharap apa bisa mengajak kami semua pergi ke kota asalmu Julita. nanti kalau kami ke sana kamu ajak aku berjalan-jalan sekitar Bukittinggi. Aku mau tahu seperti apa indahnya tempat tinggalmu itu." pinta Tasya


"pasti tajam aku akan mengajak kalian semua pergi mengelilingi kota Bukittinggi yang begitu indah. nanti di sana kamu juga bisa berbelanja oleh-oleh untuk teman-temanmu di sekolah. baik sekali aneka makanan dan juga miniatur yang bisa dijadikan sebagai cenderamata untuk dibagikan." tutur julita.


"hore hore asik asik. dan sekarang selama kamu di Jakarta Kami juga akan mengajak kamu berkeliling Jakarta. banyak makanan enak di Jakarta. semua aku suka." cerita Tasya.