Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 77 - Permintaan



Dinniar berhasil mengusir Darius dari rumahnya. Dia juga meminta Darius untuk bersabar. Sebab pengobatan Tasya memang belum tuntas. Dia akan memberikan waktu kepada Darius jika kondisi putri mereka telah dinyatakan baik-baik saja. karena menurut dokter nanti juga akan ada sesi terapi bersama sang ayah yang merupakan orang yang saat ini dia sedang hindari.


Dinniar terduduk di sofa. Air mata kukuh lantah menggenang di pipinya. Dia lelah karena harus terus bertengkar dengan pria yang dulu sangat dia cintai ya. Darius adalah pria pertama yang mampu merebut hati Dinniar hingga dia mau dinikahi oleh pria yang saat itu belum jadi apa-apa, dibandingkan keluarga Dinniar yang memang sudah terpandang.


Sonia keluar dari kamar Tasya sendirian. Dia duduk di samping Dinniar dan membawa sahabatnya itu kedalam pelukannya.


"Sudah, jangan lagi di tangisi. Kamu harus kuat demi Tasya." Sonia menghapus air mata yang sudah membasahi seluruh wajah cantik sahabatnya.


"Kenapa dia sulit sekali mengerti apa perkataanku. Aku sudah memintanya untuk bersabar. Aku lelah dia terus membuat Tasya menjadi begini. dokter sebenarnya belum mengizinkan mereka saling bertatapan. karena setiap kali mereka bertemu maka Tasya akan mengigau dan ketakutan." Cerita Dinniar.


"Dia memang benar-benar baru. Pria yang tidak sabaran. aku baru tahu kalau ternyata tabiat aslinya seperti ini. Tidak sabar, mudah marah dan tidak pengertian. berarti semua yang dulu dia perlihatkan itu sebuah kepalsuan!" hardik Sonia sangking kesalnya.


"jangan bicara sembarangan. kamu sedang mengandung. ingat wanita yang sedang mengandung banyak pantangannya. biar nanti anaknya lahir dengan selamat dan bisa menjadi kebanggaan keluarga." Dinniar mengelus perut rata yang sudah berada janin di dalamnya.


...****************...


Darius terus uring-uringan di apartemen miliknya. Dia nampak gusar dan banyak pikiran.


"Aku tidak bisa seperti ini terus. aku harus mencari cara agar Dinniar mau memaafkan ku dan mau menerimaku lagi."


Darius terus *******-***** rambutnya sangking frustasi dengan keadaannya sendiri. dia merasa sangat menyesal karena harus berpisah dan lebih memilih Cornelia.


Darius meraih kunci mobilnya dan beranjak pergi. Dia dengan sangat bersemangat menginjak pedal gas dan kijang besinya langsung melaju pesat membelah jalanan.


"Aku harus menemui Dinniar lagi. aku tidak bisa terlalu lama berpisah dari Tasya."


Tepat di dekat sebuah gerbang dia melihat seorang wanita yang masih tersimpan lekat di hatinya memasuki pintu gerbang sekolah.


Darius memarkir mobilnya di bahu jalan dan langsung masuk ke dalam sekolah untuk menghampiri Dinniar.


"Dinniar aku mau bicara denganmu sebentar." Darius meraih tangan Dinniar dengan cepat.


"Mas, maaf. Aku banyak sekali pekerjaan yang harus di mulai. ditambah ini adalah hari Senin. ada upacara bendera. kamu seharusnya tahu itu!" Dinniar berusaha melepaskan tangannya. Namun, Darius tak mau melepaskan.


"Mas, lepaskan tanganku. Kalau sampai ada yang lihat. Akan timbul fitnah nantinya." Pinta Dinniar.


"Aku tidak perduli. Aku hanya minta waktumu untuk bicara sebentar saja. ini tentang Tasya." Pekiknya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan tentang Tasya?" tanya Dinniar dengan mata yang penuh amarah.


"Tasya butuh sosok seorang ayah di sisinya. aku mau kita kembali seperti dulu lagi. membina rumah tangga dari awal lagi." Pinta Darius dengan sedikit memaksa.


"Mas, kamu pikir pernikahan bisa kamu permainkan? dulu saat kamu belum resmi dengannya, kamu sangat memujanya dan tidak pernah memikirkan perasaan putrimu. kenapa sekarang kamu memikirkan Tasya?" Dinniar berusaha bicara dengan nada biasa karena tidak mau orang mendengar pertengkaran mereka berdua.


"Mas, kamu sudah memilihnya dan sudah terikat pernikahan dengan dia. Aku tidak mau lagi kembali kepada pria sepertimu. Dimana pria santun yang dulu aku kenal dan sangat menjaga hati wanitanya? kini kamu dengan mudahnya berganti pasangan dan kamu bahkan mau meninggalkan dia. Ini semua dia lakukan sebab cinta kepadamu, Mas. Ini semua sebenarnya murni kesalahanmu juga yang mudah terkena bujuk rayunya. jadi sekarang lepaskan aku. aku harus ikut kegiatan upacara."


"Dinniar aku mohon. berikan aku kesempatan." Darius terus memohon hingga beberapa orang banyak yang memperhatikan.


"Pak Darius. Apa anda tidak bisa melepaskan Bu Dinniar?" tanya Jonathan yang tiba-tiba datang tanpa terlihat.


"Ini bukan urusan anda. anda tidak perlu ikut campur!" Darius membentak Jonathan.


"Saya bukan ingin ikut campur, tapi apa yang anda lakukan saat ini tidak pantas. ini sekolah bukan pasar yang bisa anda jadikan tempat untuk berdebat masalah pribadi. apa anda tidak lihat mereka semua memperhatikan tingkah anda yang seperti anak kecil." Jonathan berusaha menyadarkan Darius.


Darius tidak terima. Dia tatap Jonathan dengan bengis. Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun karena Jonathan selalu datang saat dia sedang dekat dengan Dinniar.


"Saya tahu, sejak awal anda menyukai Dinniar kan? saya tahu kalau anda bahkan menunggu Dinniar bercerai dari saya, agar anda bisa memilikinya!" Darius menunjuk wajah Jonathan dengan tatapan garang.


Jonathan berusaha sabar menanggapi Darius yang masih tersulut emosi.


"Cukup, Pak Darius. saya bukan tipe orang yang menginginkan kehancuran rumah tangga orang lain. pernikahan kalian semua'kan hancur karena ulah pak Darius sendiri. jadi tidak perlu mengkambing hitamkan orang lain!" Jonathan bicara tegas kepada Darius.


"Kalau memang anda tidak menginginkan istri saya sejak awal. kenapa anda memberitahukannya mengenai pertemuan saya dengan Cornelia? itu jelas menandakan anda punya maksud!" Darius semakin emosi.


"Hentikan Darius! sikapmu ini tidak mencerminkan dirimu yang aku kenal dulu. dimana Darius yang tidak mudah marah?" Adrian muncul dalam perdebatan dua pria itu.


"Tidak perlu ikut campur kamu! kamu juga salah satu pria yang menginginkan Dinniar!" Darius tak kunjung redam amarahnya.


"Darius, saya sudah muak dengan sikapmu ini. tidak paham kah kamu kalau ini lingkungan kerjanya? dia bisa kehilangan reputasinya karena dirimu. jadi jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini lagi." Kesal Adrian.


"Diam kamu! aku juga tahu kalau kamu sangat menginginkan Dinniar. namun, kamu tidak akan pernah mendapatkannya. dia hanya cinta kepadaku!" Darius semakin menjadi-jadi.


"satpam!" panggil Adrian kepada dua satpam yang sedang berjaga dan menikmati tontonannya.


"Bawa orang ini keluar. hapalkan wajahnya dan jangan biarkan dia masuk area sekolah atau berkeliaran di sekitar lingkungan sekolah!" perintah Adrian saat kedua satpam datang.


Satpam itu memedang tangan Darius dan memintanya keluar dengan cara halus. Darius yang tidak terima langsung berontak dan tidak terima.


"Dasar kalian lelaki munafik!" kata Darius sambil mengeluarkan air liur dari mulutnya dengan kasar.


Darius dibawa keluar sekolah oleh kedua satpam.


"Terima kasih telah menyelamatkan Dinniar hari ini."