Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 210 - Begitu banyak pertanyaan



Banyak teman Jonathan yang sedang bekerja sama dengannya dari luar kota datang ke Jakarta untuk berlibur karena mereka kebetulan juga sedang membangun bisnis di Jakarta bersama dengan Jonathan.


tasya sedang menonton sebuah acara berjudul jejak suku Sakai yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi nasional. Tasya sangat tertarik melihatnya ada anak sebaiknya yang tidak pernah mengenal sekolah rumahnya pun sangat sederhana.


"Mami lihat itu." Tasya menarik-narik ujung lengan baju Maminya.


sebentar Sayang Mami sedang memberikan asi untuk adik Devano." jawab Maminya. kali ini Tasya tidak sabar agar maminya melihat ke arah televisi. perhatian Tasya begitu tercurahkan pada acara yang barusan dia tonton.


"Mami ayo lihat dulu." pinta Tasya yang masih menarik lengan baju Maminya.


Dinniar langsung merapihkan pakaian depannya setelah Devano selesai untuk diberi asi.


"Ada apa Tasya Mami kan sedang memberikan ASI untuk Devano apa tidak bisa Tasya menunggu sebentar?" tanya Dinniar dengan lembut. Tasya menggelengkan kepalanya. rambutnya yang lurus turut bergoyang-goyang karena gerakan kepalanya.


"Aku mau Mami menonton televisi bersamaku


"tugas Tasya.


"sekarang Mami sudah bisa untuk menonton televisi bersama dengan Tasya. Jadi Tasya tunggu dulu sebentar ya."


mereka yang berada di jarak yang berbeda membuat Tasya menjadi tidak sabar untuk membawa maminya duduk dan menonton bersama dengannya.


akhirnya maminya mau juga menuruti perintahnya setelah Tasya menyebut-nyebut tentang suku Sakai.


maminya akhirnya menonton acara itu bersama dengan Tasya televisi sedang menayangkan beberapa anggota suku sedang bertani mereka hidup di sekitar sungai Rokan.


tiba-tiba Dinniar teringat dengan sahabat Jonathan yang tinggal di sana.


"itu adalah tempat tinggal teman papa. Teman papa juga berasal dari suku Sakai. kalau tidak salah namanya om Juna." Dinniar mengerutkan k Ning mengingat-ingat nama teman suaminya yang tinggal di sana dan pernah dikenalkan kepadanya.


"oh om Juna ya mih." Tasya jadi mengingat nama itu juga.


Dinniar mengangguk dengan cepat ketika putrinya sudah mengingatnya.


"jadi Om Juna itu adalah orang sakai ya Mami?" tanyanya.


"benar sayang." sahut Dinniar.


"Mami tapi om Juna itu kan sekolah. kenapa anak yang ada di televisi itu tidak sekolah seperti om Juna?" tanya Tasya.


pertanyaan Tasya semakin mendetail karena apa yang dilihatnya berbeda dengan apa yang dia ketahui. karena memang Juna teman dari Jonathan adalah seorang dokter dan untuk menjadi seorang dokter tentulah harus sekolah tinggi.


Dinniar tertawa mendengarnya lalu menjelaskan kalau tidak semua suku Sakai hidup terasing. Tasya mendengarkan cerita mamia tentang suku Sakai.


"umumnya suku Sakai hidup di pedalaman provinsi Riau kebanyakan dari mereka berladang dan bertani namun kini sudah banyak suku Sakai yang hidup di kota besar jumlah mereka tidak banyak hanya beberapa ribu orang." jelas Dinniar.


"suku Sakai sebenarnya keturunan Minangkabau mereka melakukan migrasi dari kerajaan Pagaruyung Sumatera Barat menuju Kepulauan Riau." lanjut Dinniar.


Dinniar mengusap kepala anaknya dengan lembut. "migrasi itu perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya tujuannya untuk menetap bukan hanya berpindah sementara waktu."maminya kembali menjelaskan.


"banyak yang percaya kalau dulu penduduk di Pagaruyung terlalu padat makanya raja negeri itu pun memerintahkan rakyatnya melakukan migrasi sebagian ada yang menuju Kepulauan Riau mereka inilah yang kelak menjadi suku Sakai yang kita kenal sekarang."urai Dinniar lagi.


"dulu itu suku Sakai lebih suka hidup berpindah-pindah di hutan Mereka hidup berkelompok dan tidak membaur dengan suku lain sayangnya hutan semakin berkurang jumlahnya hutan diubah menjadi perkebunan industri perminyakan atau pemukiman." jelas Dinniar kepada Tasya yang sangat ingin tahu seperti apa itu suku Sakai.


Dinniar menjelaskan sesuai dengan apa yang dia ketahui selama ini. selain memang dia adalah kepala sekolah yang cerdas. dia juga pernah melakukan riset tentang suku Sakai saat masih kuliah.


"suku Sakai juga mulai bergaul dengan suku-suku lainnya di sekitar tempat tinggal mereka. mereka juga menganut animisme yaitu kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda misalnya seperti pohon sungai batu gunung dan banyak lagi. tapi saat ini suku Sakai sudah memeluk agama tertentu, seperti temannya Papa yaitu Om Juna dan keluarganya." Dinniar kembali memberikan penjelasan kepada putrinya yang cantik.


Tasya menganggukkan kepalanya sambil membayangkan rasanya bila hidup di dalam hutan Tasya sangat tertarik dengan kisah suku Sakai apalagi setelah tahu kalau salah satu teman dari papanya berasal dari suku Sakai.


"nanti kalau misalkan Om Juna datang ke rumah kita. aku akan bertanya tentang suku Sakai kepadanya mami. kira-kira mereka paling suka makan apa ya?"


Dinniar hanya tertawa geli melihat tingkah laku anak kesayangannya itu


mereka berdua kembali menonton apa yang disajikan oleh televisi. Dinniar dan Tasya bersama dengan Devano mereka bertiga menonton televisi sambil menunggu Jonathan pulang dari kantornya.


"kira-kira teman Papa akan mampir ke Jakarta atau ke rumah kita tidak mami?" tanya Tasya.


"saat papa pulang nanti kamu tanyakan saja kepada papa. apakah teman papa akan ke Jakarta atau tidak." Alesya tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.


Dinniar menatap wajah anak gadisnya dan mengelus rambutnya sebelum Alesya duduk di samping Tasya.


"Mamih. Kaka lapar sekali. mau makan lagi. main game menguras energi Kaka." Alesya mengusap perutnya yang rata.


"ya sudah sana makan. minta sama Bu Imah atau mbok buatkan makanan apa yang kamu mau. mami mau menaruh Devano dulu ke kamar." Dinniar beranjak dari duduknya perlahan sambil menggendong putra kecilnya.


Devano sudah semakin menggemaskan. anak bayi itu setiap bulan naik timbangannya dan membuat semua orang gemas ketika melihat pipinya yang bulat menyembul. Dinniar saja sebagai ibunya sangat gemas terhadap putranya yang tampan itu.


Tasya dan Alesya memesan kepada bi Imah dan mbak Surti untuk dibuatkan mie instan. mereka sedang ingin sekali menikmati lezatnya kuah mie instan kesukaan mereka.


BI Imah dan mba Surti membuatkan mereka mie instan dengan telur bulat. beberapa lembar Nori. sayuran dan kuah yang lezat.


harum mie instan sudah sangat menggiurkan mereka berdua. dengan cepat mereka berdua mengambil mangkok dan menikmati mie instan sambil menonton acara televisi kesukaan mereka berdua.


"enak ya kak. apa lagi kuahnya."


mereka berdua yang sangat jarang sekali makan mie. membuat keduanya sangat menikmati saat-saat mereka menyantap mie ayam bawang kesukaan mereka berdua.


Tasya dengan lahap menyeruput kuah mie instan sampai-sampai terdengar suaranya dan membuat Alesya tertawa melihat kelakuan. adiknya itu.


"sabar dek. makannya pelan ajah jangan khawatir enggak akan ada ambil." Alesya mulai meledek adiknya.