
Darius mengantar kembali Cornelia untuk melakukan syuting video. Cornelia akan mencontohkan cara berjalan yang benar di atas Catwalk.
"Ok, Mulai."
Cornelia berjalan di atas panggung dan kemudian dia berhenti tepat di tengah panggung.
"Hai semuanya, Saat ini saya sedang berjalan di atas Catwalk. Bagaimana sih cara yang benar untuk bisa menjadi model profesional? Banyak pertanyaan seperti itu. Hari ini saya akan memberikan beberapa tips agar kalian bisa berjalan dengan sempurna di atas Catwalk." Cornelia bicara di depan lensa kamera.
Cornelia mulai mempraktekkan cara mengatur tubuh agar bisa sempurna diatas Catwalk.
Cornelia meluruskan pandangannya ke depan. Meluruskan kepala dan juga dagunya. Dia meletakkan satu kaki didepan kaki lainnya. Dia siap untuk berjalan lurus di atas garis yang diletakkan untuk para model berlatih.
"Ayunkan tangan secara alami dan perhatikan gerak pinggul kita. Jika semua sudah kalian pahami dan kuasai. Kalian akan menjadi model sejati." Cornelia selesai dengan syuting videonya.
Darius merengkuh pinggang Cornelia dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
.
.
Ditempat lain, Dinniar sedang asik dalam mengerjakan tugasnya. Akan diadakan lomba cerdas cermat dan sekolah mereka terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara.
"Untuk acara cerdas cermat nanti. Usahakan orang tua murid datang semua. Saya harap acara ini akan menjadi penyemangat orang tua untuk lebih memperhatikan putra dan putrinya saat belajar." Dinniar sedang memberikan pengarahan.
Jam pelajaran sekolah sudah usai, jadi mereka segera mendiskusikan tentang acara lomba.
Dinniar sangat serius saat mendiskusikan semua itu. Guru-guru juga sangat antusias dengan adanya acara cerdas cermat ini, terlebih mereka menjadi tuan rumah.
"Terima kasih untuk semuanya. Saya harap kerjasama yang baik agar acara ini sukses " Dinniar menutup rapat guru hari ini.
Guru bubar dan Dinniar bersiap untuk pulang ke rumah. Dia sudah tidak perduli lagi apa yang akan dilakukan oleh Darius. Sulit untuk dirinya kembali bersikap baik-baik saja.
.
.
Jonathan yang sudah mengingat siapa pria itu. Mulai merasa curiga, sebab dia melihat pria itu bersama dengan kepala sekolah keponakannya.
"Apa dia berselingkuh? Lalu siapa selingkuhannya? Apa model itu atau Si kepala sekolah? Keduanya memang cantik." Jonathan menjadi ingin tahu kebenarannya.
Jonathan memanggil Rendy personal asistennya.
"Ada bisa saya bantu, Pak?" tanyanya saat tiba di ruangan.
"Kamu selidiki pria ini." Jonathan memberikan ponselnya.
"Apa yang harus saya selidiki?" tanya Rendy.
"Semua tentang pria ini, siapa wanita yang sedang dekat dengannya dan apa hubungannya. Saya mau tahu secara detail tentang dia."
Rendy melihat lagi dengan seksama pria yang ada di layar ponsel itu.
"Tunggu ...," Rendy menjeda perkataannya demi memastikan dugaannya.
"Ada apa? Kamu mengenal dia?" tanya Jonathan.
"Dia seperti pemilik Agency Modeling. Agency Gemilang. Benar sayan tidak salah. Mereka bekerja sama dengan kita." Papar Rendy.
Jonathan mengambil kembali ponselnya dan melihat lagi dengan seksama.
"Ah. Iyah kamu benar sekali. Aku baru ingat kita tempo hari pernah meeting dengannya. Kenapa aku bisa lupa." Jonathan mengingat jelas Darius.
"Namanya Darius, benar?" tanya Jonathan kepada Rendy.
"Benar, Pak."
"Kamu selidiki tentangnya. Saya melihat ada hal ganjal padanya." Jonathan bicara sambil menyipitkan matanya.
Rendy tidak mengerti kenapa bosnya meminta dia menyelidiki tentang kehidupan pribadi rekan bisnis. Biasanya dia hanya meminta untuk menyelidiki tentang bisnis saja. Namun, Rendy tetap memenuhi permintaan bosnya dengan menghubungi team mereka.
Rendy mengirimkan foto Darius kepada teamnya agar bisa diselidiki dengan cepat.
.
.
Darius hari ini pulang ke rumah tepat jam pulang kantor. Dia membawa beberapa makanan kesukaan Tasya dan juga Dinniar.
"Tasya. Papi bawa sushi kesukaan kamu." Darius membuka kotak sushi.
"Wah, makasih Papi." Tasya sangat senang.
Sejak Papinya ada di Bali, dia terus merengek kepada Dinniar untuk pergi ke restoran Jepang.
Darius mendekati istrinya yang masih cuek dan tidak perduli dengan keberadaannya. Darius.
"Sayang. Masih marah?"
Darius mendekati istrinya dan bicara seakan masalah mereka hanya hal kecil saja. Dia benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun.
Dinniar tetap tidak perduli Darius yang terus memepet dirinya. Tasya memperhatikan kedua orang tuanya.
"Mamih sama Papih lagi berantem ya?" tanya Tasya.
"Enggak sayang." Dinniar menjawab pertanyaan putrinya.
"Mamih, Papih. Kata Nenek tidak boleh berantem. Kalau ada masalah harus dibicarakan." Tasya seperti tak bisa dibohongi.
Dinniar menatap putrinya. Saat dia ingin menjawab ponselnya berdering.
"Suster Asri?" ujarnya.
Dinniar langsung mengangkat teleponnya dan tersambung.
"Halo." Dinniar menjawab panggilan telepon.
Dinniar bicara dengan suster Asri di telepon.
"Baik, Kamu akan ke rumah sakit segera."
Dinniar berjalan ke arah Darius. Dengan cepat Darius juga menghampiri istrinya hingga tak sengaja mereka bertabrakan. Darius dengan cepat menangkap tubuh istrinya. Mereka saling bertatapan dan Dinniar langsung salah tingkah.
"Lepaskan aku." Pinta dinniar.v
"Tidak mau." Darius menolak permintaan istrinya.
"Lepaskan aku atau kita akan terlambat ke rumah sakit."
"Rumah sakit?" Darius membenarkan posisi berdiri mereka.
"Ada apa dengan Ibu?" tanya Darius.
"Kita jalan sekarang. Aku ceritakan nanti di jalan." Dinniar segera mengambil kunci mobilnya.
"Kenapa tidak pakai mobilku?" tanya Darius.
"Aku tidak mau naik mobil yang pernah di naiki selingkuhanmu."
Perkataan istrinya sungguh sangat menamparnya. Dia tidak sangka ternyata selama di Bandung Dinniar sudah melihat semua perbuatannya bukan hanya saat di restoran saja.
Darius mengikuti langkah Dinniar menuju mobil dan mereka langsung berangkat menuju rumah sakit dimana ibunya Darius di rawat.
"Ceritakan apa yang terjadi?" tanya Darius.
"Ibu drop. Saat kamu di Bali bersama selingkuhanmu. Ibu sempat menelpon ku, dia terlihat sangat gelisah dan ibu sangat ingin bicara denganmu. Kata suster Asri kondisi ibu mulai turun saat hari itu." Jelas Dinniar.
"Kenapa kamu terus bicara kalau aku di Bali sedang selingkuh. Aku bekerja Sayang. Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan dia." Darius terus meyakinkan istrinya.
Dinniar menghentikan percakapan mereka. Dia tidak mau meneruskan percakapan yang akan memperkeruh suasana.
"Suster Asri memang beberapa kali menelpon. Andai aku angkat telepon darinya. Mungkin Ibu tidak akan drop."
Darius menjadi merasa kalau semua ini akibat perbuatannya. Dia merasa ini adalah karmanya. Namun, semua tidak bisa diulang lagi. Dia sudah menikahi kekasih gelapnya itu dan tidak mungkin menceraikannya, sebab dia cinta.
Mobil Darius terparkir sejajar di parkiran pengunjung rumah sakit. Darius dan Dinniar lalu turun dari mobil. Mereka menuju kamar perawatan kenanga dengan segera.
Dinniar membuka pintu kamar dan melihat ibu mertuanya sedang menunggu mereka berdua.
"Ibu ... Ibu kenapa?" tanya Dinniar.
"Ibu tidak kenapa-kenapa. Ibu hanya ingin bicara dengan kalian berdua."