Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 134 - Rindu yang tertahan



Dinniar, Jonathan dan Tasya sampai di tempat Erika seorang psikolog anak.


"Kamu sana Tasya masuk duluan saja. aku parkir mobil dulu," kata Jonathan saat menghentikan mobilnya di depan pintu klinik.


"Ya sudah, nanti kamu ikut masuk ya, mas. aku khawatir Tasya ...,"


Jonathan mengecup pipi Dinniar sehingga istrinya berhenti bicara. "Tidak perlu khawatir. aku percaya Tasya akan baik-baik saja." Jonathan meyakinkan.


Dinniar mengajak Tasya turun dari mobil dan mereka langsung masuk ke dalam klinik untuk menemui Erika yang merawat putrinya.


"selamat datang Tasya." Erika menyapa pasien kecilnya.


"Hai, Tante Erika." Tasya ikut menyapa.u


"Sudah siap dengan sesi hari ini?" tanya Erika sambil merendahkan posisinya agar sejajar dengan Tasya.


Tasya mengangguk menjawab pertanyaan dokternya. dan tak lama Erika menatap Dinniar. Dinniar yang mengerti isyarat dari Erika langsung menggelengkan kepalanya.


Erika mengerti setelah melihat rauh kecemasan di wajah temannya. Erika langsung memegang dengan lembut jari-jari Tasya dan menatapnya.


"Sayang, hari ini sesi kita tidak hanya Tasya dan Tante Erika saja. ada satu orang lagi yang akan datang dan bergabung dengan kita. Tasya bisa tebak siapa yang akan bergabung dengan kita?" tanya Erika dengan sangat hati-hati.


Erika bukan ragu untuk memberitahukan Tasya secara langsung. hanya butuh pendekatan dan juga kehati-hatian agar Tasya merasa siap bertemu dengan Darius.


"Siapa Tante? Tasya tidak tahu. mami dan papa tidak beritahu apa-apa ke Tasya." Tasya bicara dengan sangat lugunya.


"Tasya, kamu mau'kan bisa bertemu dan memeluk Papi lagi?" tanya Erika.


Tasya mengangkat kedua alisnya hingga jelas matanya terbuka lebar. Tasya kemudian mengangguk ragu.


"Tasya, papi akan bergabung dengan kita hari ini. Tasya jangan takut ya. ini agar Tasya lebih baik dan juga agar Tasya bisa bertemu dengan papi lagi. papi sangat rindu dengan Tasya pastinya. Tasya juga rindu papi'kan?" tanya Erika sambil menyentuh rambut poni pasiennya.


Tasya menoleh dan melihat ke arah maminya. dia yang mendengar derap langkah papanya juga langsung menoleh ke belakang. terlihat Jonathan mengangkat tangannya untuk menyemangati sang putri. melihat Jonathan, Tasya langsung tersenyum. Dinniar begitu haru melihatnya. sang putri bahkan bisa berubah raut wajahnya saat melihat pria yang menjadi papa sambungnya.


"Aku siap Tante Erika. papa dan mami akan ikut menemani'kan?" tanyanya.


"Tenang. papa dan mami akan ikut bersama kita masuk ke dalam. Tasya bersiap ya. ayo kita masuk ke ruangan rawat." Erika dan Tasya masuk sambil saling berpegangan tangan.


Dinniar dan Jonathan juga ikut masuk ke dalam ruangan. Mereka kemudian bersiap dan menunggu ke datangan Darius.


tok tok tok


suara ketukan pintu terdengar. Mendengar suara pintu terketuk Tasya terlihat mengkerut. Erika langsung menghampiri dan memegangi lagi tangannya untuk memberikan kekuatan.


"Jangan takut." Erika berbisik.


"Silahkan masuk." Erika mempersilahkan tamunya masuk.


Pintu perlahan-lahan terbuka dan wajah tampan Darius terlihat dari balik pintu yang belum terbuka sepenuhnya.


"Selamat datang, Pak Darius. silahkan duduk di bangku yang sudah disediakan." sambut Erika sambil menunjuk ke arah bangku dengan ibu jarinya.


Darius langsung duduk tanpa menyapa pasangan suami istri yang ada di hadapannya.


"Baik karena semua orang sudah datang. kita akan mulai sesi siang ini. sebelumnya saya akan jelaskan tata tertibnya. Di sini saya yang mengendalikan situasi. Saya harap kita semua bisa bekerja sama demi kenyamanan Tasya." Erika menatap tajam ke arah Darius.


Mereka semua mengangguk mengerti dan Erika mulai memberitahukan apa saja yang harus mereka patuhi selama sesi berlangsung.


melihat putrinya Darius begitu senang sejak beberapa bulan setelah kejadian yang menimpa Tasya karena ularnya yang tidak bisa menahan emosi Darius tidak bisa menemui Tasya.


rasa rindu di hati Darius sudah sangat besar dan rindu itu selalu ia tahan karena dia tidak diizinkan untuk bertemu dengan Tasya oleh mantan istrinya.


sejak kejadian yang menimpa Tasya karena ulahnya sendiri Darius merasa bersalah. dia juga tidak bisa menghadapi putrinya. karena Tasya semakin takut ketika berada di dekatnya.


hari ini kerinduan yang begitu besar di hati dari mencair sedikit demi sedikit karena melihat wajah putrinya meski belum bisa memeluk ataupun menyentuhnya.


saat ini saja Tasya bersembunyi di balik badan Erika dokter psikolog anak yang sedang merawatnya.


saat Erika memulai sesi pertama mereka Tasya sama sekali tidak mau menatap wajah Darius. Tasya berpegangan erat di jas dokter yang dikenakan oleh Erika.


Erika mengerti Kalau tidak mudah bagi seorang anak yang mengalami trauma untuk menghilangkan rasa kecemasan di dalam hatinya.


Radika sangat berusaha untuk membuat tas yang nyaman terlebih dahulu di dalam ruangan bersama dirinya dan juga Darius.


meskipun sudah dibujuk berulang kali dengan berbagai macam bujukan oleh Erika. Tasya tetap tidak mau menunjukkan dirinya di depan Darius.


hati Darius rasanya hancur berkeping-keping namun dia mau bagaimana lagi masa lalu tidak bisa diubah tindakan yang bodoh yang membuat anaknya semakin menjauh darinya.


Erika menatap wajah Darius dia tahu Darius begitu kecewa tapi ada rasa penyesalan yang begitu dalam di hatinya juga. tidaklah mudah hidup bercerai ketika ada seorang anak di antara mereka. setiap perceraian memiliki dampak yang berbeda-beda. dan pada kasus perceraian diniar dan Darius dampak yang didapatkan adalah putrinya yang menjadi korban. Meski Tasya menjadi korban bukan karena ulah mereka berdua melainkan karena ulah pihak ketiga tetap saja anak yang menjadi korbannya.


"Tasya Sayang ayo keluar dan temui Papi. Tasya tahu tidak tapi sangat rindu dengan Tasya. tapi sangat menyayangi Tasya. tapi boleh tidak melihat wajah Tasya sedikit saja. tante Erika akan menemani Tasya." Erika kembali membujuk Tasya.


Tasya tetap menggelengkan kepalanya menandai bahwa dia tidak ingin bertemu dengan Darius. bagi Tasya saat ini mungkin Darius adalah monster. Erika sangat menyayangkan di sesi awal ini beberapa menit terbuang karena Tasya bersikukuh tidak ingin menampakkan dirinya di depan Darius.


"Aku mau Mami dan papa."ujar Tasya kepada Erika.


"Mami dan papa Tasya menunggu di depan. mereka mau masuk ke dalam kalau Tasya sudah mau berani bertemu dengan Papi. Pasti mami sangat senang kalau Tasya mau bertemu dengan Papi. Tasya pasti kangen kan sama papi?"tanya Erika untuk membujuknya.


Tasya sedikit menyembuhkan wajahnya dari balik tubuh Erika. Erika menyadari bahwa anak itu sudah mulai tertarik dengan situasi.


Erika tersenyum ketika Tasya perlahan mulai menampakkan dirinya. Erika membiarkan Tasya bergerak sendiri agar situasinya lebih terlihat natural.


"Papi tidak akan marah-marah seperti dulu lagi kan?"tanya Tasya.


"tidak akan sayang papi tidak akan marah kepada Tasya. papi kan sayang sama Tasya. Tasya sapa papinya." Erika meyakinkan Tasya lagi.


Darius begitu tampak senang. wajahnya berseri-seri dan senyumannya mengembang perlahan. Dia sangat merindukan putrinya. dia juga hampir menitikkan air matanya.