Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 91 - Masa kritis



Jonatan dan Dinniar membaringkan Tasya di atas ranjang rumah sakit. Perawat langsung membawanya ke layanan unit gawat darurat.


Dinniar dan Jonathan diminta untuk menunggu di luar ruangan. Dinniar hatinya harap-harap cemas. Dia sangat takut terjadi sesuatu hal yang fatal kepada putrinya.


Dinniar terus menangisi semua yang telah terjadi. Dia benar-benar frustasi dengan keadaannya.


"Andai aku membawanya bersamaku. Hal ini tidak mungkin terjadi." Dinniar menyesali keputusannya meninggalkan Tasya di rumah.


"Jangan menangis. Semua ini sudah menjadi takdirnya. Kita tidak bisa mengulangnya. Yang terpenting sekarang, kita berdoa agar Tasya bisa segera membuka matanya." Jonathan berusaha memberikan kekuatan kepada wanita yang usianya terpaut dua tahun di bawahnya.


"Aku takut, aku tidak mau kehilangan Tasya." Dinniar mulai terlihat panik akut.


"Dinniar, lihat aku." Jonathan memposisikan wajah Dinniar agar melihat matanya.


Dinniar mulai memfokuskan dirinya ke mata Jonathan.


"Jangan pernah berpikir yang macam-macam. Kita tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Sekarang waktunya kita bersimpuh kepadanya dan meminta pertolongannya. Bukankah kita manusia yang beragama? Sudah pasti hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan." Jonathan berusaha menyadarkan Dinniar.


Dinniar terduduk lesu. Dia mencerna semua perkataan Jonatan. Dia benar-benar kalut tadi sehingga bertindak seperti orang yang tidak punya tuhan.


"Sekarang kita shalat dan berdoa kepada Allah. Kita memohon kepadanya untuk menyelamatkan Tasya dan mengembalikannya kepadamu." Jonathan meraih tangan Dinniar dan mengajaknya pergi ke mushala yang ada di rumah sakit.


Dinniar dan Jonathan mengambil air wudhu secara terpisah. Mereka juga melaksanakan shalat masing-masing di dalam mushala. Mereka shalat hanya terpisahkan oleh pembatas saja. Dinniar melaksanakan shalat dengan sangat khusuk dan berdoa kepada Allah memohon pertolongan dan keselamatan untuk putri kecilnya yang begitu dia cintai.


"Ya Allah. Berikanlah kesembuhan dan kesadaran kepada putri hamba. Dia adalah satu-satunya harta yang paling berharga di dalam hidup hamba. Dia cinta pertama yang engkau titipkan kepadaku. Dia adalah nafasku, nyawaku dan kekuatanku. Aku mohon kepadamu, sadarkan lah malaikat kecilku. Aku tidak sanggup melihatnya terbaring lemah dan tak sadarkan diri. Ya Allah kabulkan lah doaku. Aamiin." Dinniar menutup doanya dengan bersujud sekali lagi.


Dia melipat mukena yang di gunakannya untuk shalat. Dinniar keluar dari mushala dan melihat Jonathan sudah menunggunya di luar.


"Sudah jauh lebih tenang?" tanya Jonathan.


Dinniar hanya bisa mengangguk dan mereka kembali berjalan menuju ruang unit gawat darurat.


Sonia dan suaminya menghampiri kedua sejoli yang baru saja selesai menunaikan shalat isya di musholla.


"Din, tadi dokter mencarimu dan Jonathan. ada hal yang ingin mereka bicarakan kepada kalian. Temui dokter segera. Kalian lurus lalu belok kiri di sana ada ruangan dokter ahli saraf." Sonia menunjukkan arah kemana Dinniar dan Jonathan harus lalui.


Dinniar dan Jonathan bergegas menuju ruangan dokter saraf. Mereka berdua sangat takut terjadi sesuatu kepada putri kecil yang begitu menggemaskan.


"Masuk." kata dokter setelah mendengar ketukan pintu.


Dokter langsung mempersilahkan Dinniar dan Jonathan duduk.


"Ibu dan bapak. Sebelum saya menyampaikan sebuah berita. Saya ucapkan selamat, karena putri kalian sudah melewati masa kritisnya. Tasya putri kalian berhasil tertolong sebab kalian langsung membawanya ke rumah sakit." Dokter memberikan kabar gembira.


"Syukurlah, terima kasih dokter. berkat anda yang piawai dalam mengobati pasien. Putri kami bisa terselamatkan." Jonathan mengambil alih pembicaraan.


Jonathan melihat Dinniar masih mencerna perkataan dokter dan masih merasakan senang di dalam hatinya sampai tidak bisa berkata-kata.


"Berita selanjutnya. putri bapak dan ibu belum bisa sadarkan diri karena obat yang kami berikan. Kami harap anak bapak dan ibu bisa kembali sadar besok pagi. Jika tidak ada kendala." Dokter memberitahukan kalau Tasya masih dalam kondisi tidak sadar.


Dinniar menitikkan air matanya. Rasa senang dan sedih datang secara bersamaan kepadanya. Dia tidak bisa berkata apapun. Dia bersyukur putrinya kuat dan sudah bisa melewati masa kritisnya. Di samping itu Tasya masih harus menutup matanya rapat hingga waktu yang belum pasti.


Dokter mempersilahkan Dinniar dan Jonathan untuk meninggalkan ruangannya. Jonathan memapah Dinniar untuk keluar dan kembali ke ruangan unit gawat darurat.


Sonia membantu Dinniar duduk di ruang tunggu yang sudah tersedia. Jonathan berbincang mengenai Tasya kepada suami Sonia.


"Din, kamu harus kuat. Kamu juga tahu'kan kalau Tasya anak yang kuat. Dia pasti sekarang sedang berjuang untuk kembali kepada maminya." Sonia berusaha memberi support kepada sahabatnya.


"Dokter bilang dia sudah melewati masa kritisnya dan kita tinggal menunggu Tasya membuka matanya. Aku harap dia sadarkan diri sesuai estimasi dokter. Aku takut kalau Tasya tidak sadarkan diri terlalu lama." Dinniar masih sangat mencemaskan kondisi putrinya.


"Ini semua karena mas Darius. Dia begitu bodoh sebagai seorang ayah. Dia lebih mementingkan emosinya dari pada kesehatan mental putrinya. Dia terus menyalahkanmu atas semua yang terjadi." Dinniar memeluk Sonia.


...****************...


Susi terus mengawasi gerak gerik putranya. Dia tidak mau Darius mencari tahu dimana putrinya di rawat. Susi khawatir kalau kehadiran putranya akan memperkeruh suasana dan membuat cucunya semakin parah kondisinya.


"Aku mau mencari Tasya." Darius sudah menyambar kunci mobilnya.


"Darius, duduk. Kita tunggu kabar dari Dinniar saja. Kamu tidak perlu mencari tahu dimana putriku di rawat." Susi bicara penuh dengan ketegasan.


"Bi, aku mau mencari Tasya. Ibu malah melarang. Apa ibu tidak lagi menyayangi cucu ibu?" tanya Darius.


"Jaga bicaramu Darius. Justru karena ibu sangat menyayangi putrimu. Ibu tidak mau kamu semakin memperparah kondisinya. Apa kamu belum sadar semua ini terjadi akibat keegoisan dirimu? apa kamu masih mau melihat kondisi Tasya yang lebih parah dari ini? apa kamu mau perlahan-lahan membunuhnya?" Susi tak kuasa mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia benar-benar marah kepada putranya.


Darius mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk dan meratapi semua yang telah dia lakukan.


"Maafkan Papi sayang. Papi telah berbuat salah kepadamu. Papi harap kamu baik-baik saja. Bertahanlah sayang. Papi mau kamu sembuh dan kembali ceria." Darius memijat dahinya sambil terus meneteskan air mata.


Susi melihat putranya menyesal dengan semua yang telah diperbuatnya. Susi berharap putranya kini bisa sadar dan tidak bertindak gegabah lagi.


Susi mendapat panggilan suara dan dilihatnya itu dari Dinniar. Dia langsung mengangkatnya.


"Halo." Sapa Susi dengan perasaan campur aduk.


"Bu, Tasya sudah melewati masa kritisnya, tapi sekarang belum sadarkan diri. Dinniar mohon kepada ibu untuk mendoakan Tasya. Dinniar takut Bu." Dinniar menyampaikan semua yang dokter sampaikan kepadanya tadi.


Susi meneteskan air matanya. Dia sangat mengerti kecemasan yang melanda hati dan pikiran menantunya itu. Susi juga mendapati nada bicara seperti orang yang sedang putus asa.


"Nak, insyallah. Allah akan membuat Tasya membuka matanya. Ibu yakin kita akan kembali berkumpul dengan Tasya. Kamu harus kuat dan percaya dengan keajaiban dari Allah." Susi menutup mulutnya dengan satu tangannya. Dia tak mau terdengar sedang menangis demi menguatkan hati menantunya.


Setelah telepon tertutup, Susi menyingkirkan tangannya dari bibirnya dan menangis kencang sekali. Darius menjadi panik dan berusaha bertanya kepada ibunya tentang apa yang terjadi kepada Tasya.


"Bu, Bu ada apa dengan Tasya?" tanya Darius.


Susi masih terus menangis tanpa menghiraukan pertanyaan yang berulang kali putranya tanyakan kepadanya.


Darius semakin buntu dan frustasi. Dia ikut menangis karena rasa cemasnya kepada sang putri.


Darius terduduk di lantai sambil mendekap kedua lututnya. Dia takut kehilangan Putrinya. Beberapa kali dia menghubungi Dinniar namun tidak kunjung diangkat. Darius semakin merasa khawatir, tapi dia tidak bisa berbuat apapun kali ini.


Penyesalan memang sering kali datang dan membuat kacau pikiran. Penyesalan terjadi akibat ulah manusia yang tidak sabar dalam bertindak dan tidak berpikir panjang. Penyesalan tidak akan terjadi kalau kita berpikir panjang dan bersabar.


Darius kini mengalami goncangan yang teramat keras. Dia tidak tahu harus mencari kemana putrinya di rawat dan dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya yang dia lontarkan kepada ibunya.