
"Good morning, sayang." Jonathan menyapa istrinya dikala melihat sang istri membuka mata.
"Morning, sayang." Dinniar menggeliat lalu memeluk suaminya.
"Masih belum puas pelukannya?" godanya.
"Selalu belum puas. Karena kamu itu kesayangannya aku." Dinniar mengecup pipi suaminya.
Mereka mengeratkan pelukan dan saling bertatapan. Cinta dan kasih sayang yang dimiliki oleh kedua sangatlah kuat. Tanpa berkata, mereka bisa saling mengerti dan merasakan apa yang sedang dirasakan pasangannya.
"Sayang, aku harap kamu selalu percaya kepadaku. Ketahuilah, cintaku bukan cinta biasa. Aku mencintaimu bukan semata karena nafsu atau latar belakang keluarga. Aku mencintaimu karena kamu. Kamu adalah cinta." Jonathan mengecup lembut bibir Dinniar lalu melepasnya kembali.
Dinniar semakin merasa cinta mereka terus bertumbuh.
"aku juga mencintaimu bukan karena siapa kamu dan keluargamu. Aku cinta kamu karena kamu. lagipula cinta tidak perlu alasan kenapa kita jatuh cinta. Karena ketika kita mencintai karena sesuatu hal. Dan sesuatu hal itu hilang apa mungkin cinta kita juga hilang? pasti tidakkan?" Dinniar kembali tersenyum.
selesai bermesraan. Keduanya beranjak dari tempat tidur. Dinniar lalu masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu karena Jonathan harus menerima panggilan telepon dari Rendy.
"Ya, ren. Ada apa?" tanyanya.
Rendy dan Jonathan berbincang-bincang. Jonathan mendengarkan perkataan Rendy dengan sangat serius. Lalu dia mengerutkan keningnya.
"Kenapa model sebelumnya dibatalkan? waktu yang kita miliki sudah mepet sekali. Ada apa dengan Melinda. Lalu apa dia sudah mendapatkan model barunya?" tanya Jonathan.
"Terus pantau pekerjaan di hotel. Untuk di kantor serahkan kepada Amel dulu. Minta dia tangani kontrak kerja sama yang sudah saya tanda tangani kemarin dan minta dia segera kirim email ke klien." titah Jonathan.
Dinniar keluar dari dalam kamar mandi dan melihat wajah kesal suaminya dari kaca lemari. Dia langsung memeluk Jonathan dari belakang.
"Redakan amarahmu. Jangan sampai amarah menguasai mu dan membuatmu tidak bijak dalam bertindak." ujarnya sambil menyandarkan kepalanya di punggung sang suami.
Jonathan langsung menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Perkataan istrinya memang benar. Jika dalam kondisi emosi maka kita akan sulit untuk berpikir jernih sehingga mengambil tindakan yang gegabah. Barusan saja dia hampir menghubungi Melinda dan ingin marah kepada anak angkat omnya itu. Untung saja istrinya memahami situasi hati sang suami. Sehingga Jonathan tidak bertindak keliru.
"Terima kasih sayang." Jonathan berbalik dan memeluk istrinya.
"Aku mandi dulu. Lalu kita pergi ke kantor." ujarnya dengan melepas pelukan mereka.
.
.
.
Jonathan pergi ke kantor dengan ditemani oleh Dinniar. Karena kebetulan sekali hari ini Dinniar sedang tidak ada janji dengan klien. Jonathan yang merasa hari ini senggang sengaja membawa istrinya untuk menemani bekerja. Namun, ternyata situasi tidak terprediksi datang. Dia tidak habis pikir dengan tindakan Melinda yang bisa-bisanya memutus kontrak dengan model yang sudah ditentukan.
dengan kehadiran istrinya di kantor, membuat dia menjadi lebih bersemangat dan berharap kalau Melinda tidak akan pernah mengganggunya.
"Sayang, kita cari cemilan dulu biar kamu enggak bosan nunggu aku kerja." Jonathan mengajak istrinya.
Mereka berdua keluar dari ruangan dan berjalan menuju kantin kantor yang sudah seperti supermarket.
Sedangkan di ruangan lain. Melinda bertemu dengan seorang model yang akan menjadi icon di acara promosi mereka kali ini. Dan setelah selesai pertemuan Melinda mengantar sang model. Tanpa di sangka mereka berpapasan dengan Jonathan dan Dinniar yang akan pergi ke kantin.
Evelin sangat terkejut melihat pria yang pernah mengisi hari-harinya dan masih ada di dalam hatinya. Ada di tempat yang sama dengannya.
"Nathan?" panggilnya dengan sebuah senyuman yang begitu lembut.
Panggilang sayang dari Evelin untuk Jonathan adalah Nathan. Evelin selalu senang dan merasa hatinya penuh cinta ketika menyebut nama itu.
"Mas, ini Evelin. Model yang akan menjadi icon hotel. Sepertinya kita nanti perlu berbincang bersama untuk konsepnya." ujar Melinda.
Melinda menatap Jonathan dan Evelin yang saling bertatapan tanpa berkata-kata. Melinda merasa ide ini bisa berjalan dengan lancar.
"Mas, kamu kenal sama evelin-kan?" tanya Melinda yang membuat Jonathan menatapnya.
"Ya, aku mengenalnya. Aku permisi dulu." Jonathan lalu menggandeng Dinniar untuk meninggalkan Evelin dan juga Melinda.
Melinda tersenyum menyeringai. Dia puas rencana awalnya berhasil. Mempertemukan Jonathan dan Evelin adalah langkah awalnya. Namun, dia tidak menyangka kalau ada Dinniar juga.
"Semakin menarik." imbuhnya.
"Apa yang menarik?" tanya Evelin yang samar mendengar gumaman Melinda.
"Ah, tidak. Aku hanya merasa pertemuan kamu dan mas Jonathan seperti takdir. Jadi sangat menarik." ujar Melinda dengan berbohong.
"Mari aku antar ke parkiran." Melinda dan Evelin melanjutkan perjalanan mereka.
.
.
.
Selama perjalanan menuju kantin. Suaminya diam seribu bahasa. Dinniar juga merasakan gandengan tangan suaminya tidak selembut biasanya. Bahkan Dinniar merasa tidak nyaman. Dinniar seperti melihat amarah dari sikap suaminya. Namun, dia tidak ingin bertanya. dia lebih suka Jonathan mengungkapkannya sendiri kepadanya. Dia tahu, suaminya akan bercerita jika sudah waktunya.
"Mas, aku ke toilet dulu." Dinniar berkata agar Jonathan melepas gandengan tangannya.
"Maaf, aku memegang tanganmu terlalu kuat." Jonathan menyadari perbuatannya.
"enggak apa kok, mas." Dinniar lalu pergi ke toilet. Sedangkan Jonathan memilih makanan untuk istrinya.
Melihat bosnya masuk ke dalam kantin. Rendy segera menyusul dan menemuinya.
"Maaf, pak. Ada yang saya ingin bicarakan sebentar." ujar Rendy saat berpapasan dengan Jonathan.
"Ada apa, ren?" tanyanya.
"Saya sudah mendapatkan laporan kalau model baru kita bernama Evelin Carmenia. Dia salah satu model yang sedang viral karena banyak menyumbangkan donasi untuk panti asuhan dan korban bencana alam. Mungkin Bu Melinda melihat ke arah sana sehingga merasa ini peluang besar untuk menarik perhatian semua orang." tutur Rendy.
Jonathan hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar. Dia merasa bukan itu yang sedang direncanakan oleh Melinda dengan membuat kontrak dengan Evelin.
"Kita lihat saja ke depannya. Apa kamu sudah memeriksa dokumen pemutusan kontrak model yang kemarin?" tanya Jonathan.
"Sudah, pak. Menurut catatan di dokumen. Model tersebut melanggar kontrak karena menandatangani dua kesepakatan kontrak dengan hotel lain."
"Ada yang aneh. Kamu periksa lagi dengan benar dan segera informasikan kepada saya. Saya yakin bukan itu alasannya." Jonathan menaruh rasa curiga kepada tindakan Melinda.
"Lihat saja Melinda. bangkai yang tertutup rapat pasti akan tercium juga baunya. Sepandai-pandainya kamu memanipulasi keadaan. Kamu akan ketahuan juga." gumamnya saat asisten pribadinya sudah tidak bersamanya.
Melinda memang memiliki rencana dibalik dia ingin bekerja sama dengan Evelin dan memutus kontrak dengan model yang sudah mereka sepakati bersama.
"Aku sudah mengirim uang untukmu. Dan segera datangi hotel itu. Aku sudah mengaturnya untukmu. Kamu akan menjadi model di sana." tutur Melinda sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya.