Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 92 - Bunga Tidur



Darius mendatangi Dinniar ke rumah sakit. Dia juga memaksa untuk membawa Tasya pergi. Dia ingin hak asuh Tasya menjadi miliknya.


"Mas, jangan gila kamu mas. Hak asuh Tasya itu jatuh ke tanganku. Kamu tidak berhak membawanya." Dinniar mencoba menghalangi Darius.


"Tidak bisa. Selama ini kamu sudah bersamanya, sedangkan aku jarang sekali bersamanya. Karena kamu akan menikah dengan pria itu dan memilih untuk menolak rujuk denganku. Jadi aku mau tidak mau akan membawa Tasya bersamaku." Darius menggendong Tasya yang sedang tidur.


"Mas, turunkan Tasya. Dia masih sakit. Dia butuh perawatan."


"Aku akan memberikan perawatan yang terbaik untuk dia. Aku akan memberikan yang terbaik untuknya." Darius menyingkirkan tangan Dinniar yang sedang berusaha menahannya.


"Mas, yang terbaik untuk Tasya adalah di sini bersamaku." Dinniar berdiri di depan pintu dan merentangkan tangannya. Dia tidak mau Darius membawa Tasya dari rumah sakit dan memisahkannya dari putrinya.


"Minggir." Sekuat tenaga sambil menggendong Tasya Darius mendorong tubuh Dinniar.


Wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu akhirnya menjauh dari pintu dan tersungkur di lantai.


Dinniar kini hanya bisa meratapi nasibnya yang akan hidup terpisah dari putrinya.


"Tasya, Tasya!" teriak Dinniar. linier berteriak dengan sangat kencang dan sangat frustasi pada saat itu.


dia hanya bisa melihat putrinya dibawa oleh mantan suaminya. dengar menangis dan terus memanggil-manggil nama putrinya.


"Tasya Tasya Tasya." ucapnya dalam setiap tarikan nafasnya.


Jonathan yang mendengar teriakan Dinniar langsung masuk ke dalam kamar dan dia membangunkan Dinniar yang sepertinya sedang mimpi buruk.


"Dinniar, bangun." Jonathan menyentuh pundak Dinniar.


Dinniar yang disentuh oleh Jonathan langsung tersadar. Dia kemudian mencari Tasya dan bernapas lega.


"Maaf, aku mimpi buruk tadi." Dinniar menyapu wajahnya.


"Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang shalat subuh dulu. Gantian aku yang akan menjaga Tasya di sini." Jonathan menyentuh tangan Dinniar.


Dinniar melihat tangan yang disentuh pria yang sudah bisa membuat jantungnya berdetak kencang saat ini. Dinniar beranjak dari duduknya.


"Aku shalat di kamar ini saja. Aku ke kamar mandi dulu. Titip Tasya ya, Mas." Dinniar berjalan menuju kamar mandi setelah melihat anggukan dari Jonathan.


Di dalam kamar mandi Dinniar merenungi bunga tidur yang tadi singgah. Dia benar-benar takut kalau Darius mengambil paksa Tasya dan memisahkannya dari Dinniar.


"Ya Allah, berikanlah aku kekuatan. dan jangan pernah pisahkan aku dari putriku." Dinniar bercermin di kaca yang ada di dalam kamar mandi.


Dinniar langsung cepat-cepat keluar dari kamar mandi karena dia takut kalau dia terlalu lama dia akan kehilangan Tasya.


kegelisahan terus-menerus menghantui dirinya.


"aku mohon kamu harus tenang."Jonathan melihat kegelisahan di wajah Dinniar.


"aku sudah berusaha sekuat tenaga. namun sayangnya mimpi itu membuatku semakin takut untuk kehilangan anakku. dia adalah harta yang paling berharga di dalam hidupku. dialah nafasku dan jiwaku. aku tidak sanggup membayangkan hidup tanpa dirinya. Aku tidak mau dia diambil oleh Darius karena kepribadian yang sudah sangat jauh berbeda dari Darius yang dulu." dunia memejamkan matanya dan menyeka air mata yang berjatuhan di pipinya.


"kamu tidak perlu takut Dinniar. Aku akan berusaha keras agar kamu dan Tasya merasa aman. Kalau perlu aku akan membuat beberapa anak buahku menjaga di depan pintu kamar perawatan Tasya. jika memang itu bisa membuatmu jauh lebih tenang." Jonathan benar-benar berusaha untuk melindungi Dinniar dan juga Tasya.


"kamu juga harus menyerahkan segala sesuatunya semua kepada Allah subhanahu wa ta'ala. aku yakin Allah akan memberikan perlindungan kepada kalian berdua. tak ada orang yang bisa melawan kehendaknya. aku yakin saat ini Darius tidak akan mengganggumu dan juga Tasya."Jonatan menepuk pundak dunia untuk meyakinkan wanita itu.


Jonathan sangat tidak tega melihat Dinniar yang begitu ketakutan. wanita yang dicintai tidak boleh merasakan kekacauan di dalam hatinya. Jonathan berusaha begitu keras untuk membuat linear jauh lebih tenang. Jonathan akan memastikan memberikan yang lebih baik dan penjagaan yang lebih ketat untuk berjaga Dinniar dan juga Tasya.


"dunia kamu juga harus semangat. aku yakin kamu bisa melewati ini semua. aku juga tidak akan membiarkan dari menyentuh kalian berdua lagi. aku merasa kamu dan juga tas yang sudah menjadi tanggung jawab untuk aku lindungi. Kamu tidak usah takut lagi aku mohon."


"terima kasih Jonathan. kamu selama ini sudah sangat banyak membantuku dan juga Tasya. sudah banyak hal yang membuatmu repot tentang kami berdua. aku merasa tidak enak kepadamu Jonathan." duduk di tepi kasur sambil menatap putrinya.


"kamu tidak perlu merasa tidak enak kepadaku. seorang pria bukan hanya perlu mengumbar berjanji. seorang pria juga harus membuktikannya dengan tindakan. jika tidak seperti itu aku rasa bukan seperti seorang pria sejati. aku tidak hanya ingin memberikan janji-janji manis kepadamu dan juga Tasya. pengen membuktikan keseriusan ku sebagai seorang laki-laki yang sudah memintamu kepada kedua orang tuamu untuk menjadi pasangan hidupku. jadi aku berjanji akan melindungimu dan menjagamu seumur hidupku."


Jonatan bicara begitu sangat serius. dia tidak mau terlihat seperti orang yang hanya mengumbar janji manis tanpa membuktikan semua perkataannya.


...****************...


Mobil sudah di nyalakan, Juwita dan Hartono bersiap untuk pergi ke Jakarta. Mereka akan melihat kondisi cucu tercintanya.


"Pah, ayo cepetan." Ajak Juwita yang sudah duduk di kursi sebelah kursi supir.


"Iyah, Mah. Sabar, Tasya juga sudah di tangani oleh dokter." Haryono berusaha tenang dan menenangkan istrinya.


Hartono mengendarai mobilnya tanpa didampingi supir pribadinya yang kebetulan hari ini izin untuk cuti.


"Si Darius itu benar-benar keterlaluan ya, Pah. Mama tidak menyangka kalau dia sekarang bertindak tidak logis lagi. Dia sekarang lebih mudah emosi dan bertindak diluar kendali." Juwita mulai membicarakan sikap menantunya itu.


"Sudah kita tidak perlu memikirkan dia. Sekarang lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya agar Dinniar dan Tasya terbebas dari bayang-bayang Darius. Papa khawatir hal seperti ini akan terulang lagi." Hartono begitu mengkhawatirkan putri dan cucunya.


"Mama juga khawatir, Pah. walaupun Bu Susi bilang Darius tidak akan bertindak gegabah lagi. Namun, mama tidak bisa menjaminnya. Setelah kita sampai di Jakarta. Kita pikirkan apa solusinya. Mama mau tidur dulu Pah. Ngantuk semalaman enggak tidur mikirin Tasya." Juwita membenarkan posisi duduknya agar mendapat posisi yang nyaman untuk sejenak memejamkan matanya.


"Dasar si mama. Emang dasarnya ajah suka tidur di dalam mobil. Kalo kata orang enggak bisa kena bau bensin langsung ngorok." Hartono tertawa ringan melihat kelakuan istrinya sendiri.