Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 53 - Pendapat yang berbeda



Dinniar dan Adrian menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan tentang kehilangan Tasya. Dinniar menceritakannya dengan tetesan air mata.


Adrian merasa pilu melihat sahabatnya begitu menderita kehilangan putrinya. Dinniar masih berbicara dengan polisi. Adrian mengelus punggung sahabatnya agar lebih tenang.


Adrian memang belum memiliki keluarga, tapi dia tahu rasa yang saat ini dirasakan oleh wanita yang tengah terisak di sampingnya.


Adrian juga menyayangi Tasya. Putri kecil itu sudah seperti anak baginya. Tasya adalah anak yang sangat manis dan menggemaskan yang mampu mencuri hati siapapun yang berada di sekitarnya.


Adrian yang menemani Dinniar merasa kalau ini bukan hanya hilang karena tersesat, tapi ini adalah penculikan.


"Pak, saya rasa ini bukan hanya tersesat." Adrian menjeda perkataannya sebelum mengutarakan pendapatnya.


"Maksudmu?" tanya Dinniar sambil menoleh ke arah sahabatnya itu.


Dinniar mengerutkan dahinya dan dan tatapannya membuat Adrian tak mampu mengungkap apa yang ada di pikirannya saat ini tentang hilangnya Tasya.


"Dri. Teruskan apa yang mau kamu bicarakan." Dinniar memaksa.


"Saya rasa Tasya di culik."


Perkataan Adrian membuat Dinniar terkejut dan membekap mulutnya sendiri. Dinniar semakin merasa ketakutan saat ini.


"Kenapa anda berpikir seperti itu?" tanya polisi kepada Adrian.


"Karena saya yakin. Tasya tidak mungkin salah jalan. Dia anak yang cerdas. Saya pernah pergi dengannya dan dia ternyata hafal jalan kembali ke rumahnya. Jadi saya kira itu cukup membuktikan kalau Tasya tidak tersesat. Apalagi dia hanya ke toilet saat di restoran. Itu semakin menguatkan alibi saya." Adrian menjelaskannya.


Dinniar baru menyadari hal itu. Dia juga pernah membawa Tasya pergi ke luar komplek rumah dan menuju ke pasar swalayan. Baru satu kali dibawa, Tasya sudah mampu hafal jalan kearah pulang rumahnya.


"Apa itu bisa terjadi, Pak?" tanya Dinniar yang sudah sangat tak bisa berpikir apapun lagi.


Dinniar berharap jika memang Tasya di culik. Para penculik akan menghubungi dirinya dan dia bisa mendapatkan kembali putrinya.


"Pak, tolong cari keberadaan putri saya. Saya mohon, berapapun mereka meminta tebusannya. Saya sanggup, asalkan putri saya kembali ke dalam pelukan saya dengan selamat." Dinniar bicara dengan menggebu.


Baginya tidak ada yang lebih berharga selain putrinya. Tasya adalah napasnya, jiwanya dan hidupnya. Baginya hanya Tasya satu-satunya yang mampu membuat dia bertahan menjalani hidup tanpa seorang suami.


Adrian memeluk Dinniar. Dinniar menangis di dalam pelukan sahabatnya itu.


"Kenapa mereka malah saling berpelukan? Apa kini mereka menjalin hubungan?" Darius bergumam dalam hatinya sendiri.


Dia mendapatkan kabar kalau Dinniar pergi ke kantor polisi dari baby sitter putrinya. Darius langsung menyusul Dinniar dan saat dia tiba ternyata Dinniar sedang berada di pelukan seorang pria yang sangat dia kenal. Pria yang selalu menyembunyikan rasa cintanya untuk sang mantan istri.


"Meski kami sudah bercerai. Aku tidak akan membiarkan dirimu memiliki Dinniar. Tidak semudah itu. Aku tidak mau dia dimiliki siapapun."


Keegoisan Darius masih sebesar dulu. Dia tidak rela jika Dinniar dekat dengan pria manapun. Dia selalu cemburu dengan Adrian, sahabat Dinniar yang sejak dulu selalu ada untuk wanita yang sudah terputus hubungannya dengan dirinya.


Darius melayangkan kakinya untuk sampai ke hadapan mereka yang masih terbawa suasana.


Bagi Darius, Dinniar masih miliknya. Jadi dia tidak mau siapapun mendekati Dinniar.


"Dinniar." Panggil Darius dengan menepuk pundak mantan istrinya.


Dinniar dan Adrian menoleh ke arah suara terdengar. Darius berdiri tepat di belakang mereka.


Tatapan Darius tertuju kepada satu orang yaitu Adrian. Pria yang sedang memeluk wanita yang masih ada di hatinya itu.


Dinniar dan Darius mengurai pelukan mereka. Memang dari segi orang lain lihat pelukan itu biasa saja. Namun, bagi Darius itu tidak biasa.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Dinniar.


"Aku ya ingin mendampingi mu. Aku juga mau melaporkan tentang hilangnya putriku. Aku juga khawatir." Darius bicara dengan sangat meyakinkan.


"Khawatir katamu? Kalau kamu khawatir seharusnya kamu ke rumah pagi sekali seperti mereka semua. Lihat mereka yang tidak ada ikatan darah saja pagi buta sudah ikut mencari keberadaan Tasya. Sedangkan kamu, jam segini baru nongol!" Dinniar meluapkan semua kekecewaannya kepada Darius.


Dinniar begitu kecewa sebab Darius seperti tidak perduli. Seharusnya saat ini mereka berdua lah yang kompak mencari Tasya.


"Maafkan aku. Aku ada urusan mendesak tadi." Tandasnya.


"Urusan semendesak apa, Mas? Yang sampai kamu mengabaikan pencarian anak kita? Urusan ranjang?" Teriak Dinniar.


Dinniar tahu betul seperti apa pria yang sudah hidup dengannya lima tahun lalu. Darius selalu tidak bisa menunda urusan ranjang sejak awal-awal pernikahan.


Darius mematung, lidahnya kelu. Dan wajahnya pucat pasi setelah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Dinniar.