Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 35 - Kewalahan



"sudah berapa lama kamu berhubungan dengannya, Mas?" dinniar bertanya sambil menatap lamat-lamat wajah tirus suaminya.


Dinniar bertanya begitu, sebab mana mungkin suaminya bisa sedekat itu dengan modelnya kalau bukan hubungannya sudah terjalin sangat lama.


"aku,kan sudah bilang, kalau aku tidak lagi berhubungan dengannya." Darius meninggikan nada bicaranya satu oktaf.


"aku bukan tidak percaya denganmu, Mas. Namun, karena aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri. jadi aku berpikir hubungan kalian tidak mungkin usai di hari itu juga." cerocosnya panjang lebar. Sambil melipat tangan di depan dada kemudian terdiam.


Darius mendekati istrinya namun sayangnya Dinniar tidak menghiraukannya. ia berbaring di tempat tidur. membenamkan wajahnya ke bantal dan menutup matanya rapat-rapat.


"ya Tuhan rasanya sakit sekali mendapatkan perlakuan seperti ini." batin Dinniar.


sikap lemah lembut yang dulu pernah diberikan oleh Darius kepadanya. perhatian dan juga limpahan kasih sayang sudah tidak terasa lagi itu semua karena Dinniar mengetahui perselingkuhan suaminya.


"aku tahu Mas dia adalah perempuan yang sangat cantik mungkin kamu tergoda olehnya dan mungkin dia akan menggantikan posisiku di hatimu untuk selamanya," batin Dinniar.


malam kian merangkak larut Dinniar dan Darius saling tidur memunggungi satu sama lain.


.


.


Keesokan harinya. Dinniar menghadiri rapat antar sekolah di dinas pendidikan. hari ini ada evaluasi tentang sekolah yang harus ia laporkan juga ke dinas.


Dinniar pergi bersama Adrian selaku kepala yayasan. karena di acara rapat hari ini haruslah dihadiri oleh kepala yayasan dan juga kepala sekolah itu membuat Dinniar dan Adrian harus bersama seharian ini.


"bagaimana kabar Darius dan Tasya?" tanya Adrian sebelum acara rapat dimulai.


"mereka sehat-sehat. kamu sendiri gimana kabarnya sudah seminggu tidak terlihat di lingkungan sekolah?" tanya Dinniar.


"ada urusan yang harus aku urus. jadi belum bisa ke sekolah," kata Adrian


Obrolan mereka akhiri. rapat segera dimulai mereka yang hadir duduk secara tertib dan tidak ada satupun orang yang berbicara selain narasumber dan juga moderator di depan.


narasumber di sini memberikan kiat-kiat khusus dalam menjalankan pendidikan di sekolah. serta mensosialisasikan bagaimana cara kepala sekolah mengatur sekolah dengan baik agar guru dan murid selaras di dalam lingkungan sekolah.


"saya dengar ada beberapa sekolah yang mengatakan, bahwa salah satu sekolah terdapat anak yang dibully atau dicela oleh teman-temannya. itu adalah hal yang sangat fatal karena bisa menyebabkan kerugian bagi guru, sekolah dan kepala sekolah terutama untuk yayasan. bukan hanya segi materil tapi juga dari segi kualitas sekolah itu akan menjadi pertanyaan untuk mereka yang ingin menyekolahkan anaknya di sana," kata narasumber tersebut.


mendengar narasumber itu berbicara tentang bullying. Dinniar langsung tersentak. dia tahu pasti itu adalah sekolahnya, pasti semua orang sudah mendengar beritanya, tidak ada yang tidak bisa disebarkan dengan cepat di zaman seperti ini.


"mohon maaf saya di sini bukan ingin menyindir, salah satu instansi sekolah atau kepala sekolahnya atau gurunya. saya di sini hanya ingin kita sama-sama memperbaiki apa yang kurang. dan bagaimana cara menanggulanginya ketika hal ini terjadi di lingkungan sekolah kita." narasumber itu melanjutkan pembicaraannya.


.


.


Darius yang sedang di dalam kantornya terus berusaha agar bisa sedikit menjaga jarak dari Cornelia. karena dia tidak ingin rumah tangganya hancur begitu saja. memang semua ini sudah terlanjur, tapi dia tidak mau semakin hancur lagi. dia tidak mau kehilangan Dinniar dan juga Tasya putrinya.


"Mas, kamu udah berapa hari ini lho nggak ke apartemen aku. aku kangen banget loh Mas sama kamu. apa kamu nggak kangen sama aku?" rengekan dari Cornelia terus-menerus terdengar di telinga Darius.


bukan dia tidak ingin bersama dengan Cornelia. hanya saja dia perlu waktu untuk memperbaiki rumah tangganya dengan Dinniar.


"Dinniar sudah mengetahui perselingkuhan kita. aku tidak mau kehilangan dia dan juga putriku." tegas Darius


"Terus kamu nggak mau kehilangan mereka berdua, lalu kamu mau kehilangan aku?" Cornelia mulai emosi.


"bukan begitu sayang, aku hanya tidak mau kita terlihat bersama saat ini. aku ingin kita sedikit menjaga jarak. setelah hubungan aku dengan Dinniar baik-baik saja. aku pastikan, aku akan kembali bersamamu." Darius membujuk istri keduanya.


"nggak ... nggak bisa Mas! aku ini juga istri kamu, bukan cuman dia yang istri kamu. aku mau menjadi yang kedua, tapi tidak mau menjadi yang diabaikan. kamu harus adil Mas. sekarang kamu mempunyai dua istri, jadi jangan cuman satu istrimu itu yang kau perhatikan, yang kamu khawatirkan. yang kamu jaga perasaannya." Cornelia benar-benar marah kepada Darius.


sebelumnya Darius tidak pernah melihat Cornelia semarah itu. mungkin ini karena Cornelia sudah memiliki Darius seutuhnya. walaupun masih berbagi dengan wanita lain namun, setidaknya Darius kini resmi menjadi seorang suami untuknya dan dia menjadi seorang istri untuk Darius.


"Cornelia aku mohon, berikan sedikit saja pengertianmu sekarang. aku sudah mengalah aku sudah menikahimu. maka aku mohon berikan aku waktu untuk meyakinkan Dinniar bahwa aku tidak lagi mendua," kata Darius


"oh ... jadi begitu Mas. jadi kamu merasa terpaksa menikahi aku? karena aku memaksamu? karena aku ingin kepastian dari dirimu? Mas semua wanita ingin kepastian bukan hanya janji manis." Cornelia kembali menyerocos tanpa henti.


"Sayang Mas mohon. mengertilah posisi Mas, sekarang kita'kan sudah bertemu setiap hari di kantorku dan saat ini. aku ingin pulang lebih awal untuk berjumpa dengan anak dan istriku, berikan aku waktu satu bulan." kata Darius memohon


"apa kamu bilang? satu bulan? itu waktu yang sangat lama Mas! oke aku beri kamu waktu 2 minggu. aku tidak mau tau setelah 2 minggu kamu harus kembali kepadaku. mau dinniar mengetahui kamu masih mencintaiku. masih bersama aku atau tidak. aku tidak peduli, aku tetap mau setelah dua minggu itu kamu menjadi milikku! suamiku yang menemani aku kalau perlu kita berbagi jadwal saja dengan Dinniar," kata Cornelia menyeplos tanpa tahu akibatnya.


"apa kamu bilang berbagi jadwal? bergiliran begitu maksudmu?" kata Darius


"ya iya Mas, sekarang gini aku kan istri kamu. dia istri kamu juga, berarti kamu harus berbagi jadwal dong. aku juga mau bermalam bersamamu Mas, bukan hanya dia. aku juga mau setiap malam ditemani kamu, disayang oleh kamu, bukan hanya dia." Cornelia terus memaksa seperti anak kecil.


Darius makin pusing melihat sekarang suasana tidak kondusif lagi. iya benar-benar bingung bagaimana cara mengatasi Cornelia yang tidak mau mengerti dan hanya memberi waktu dua minggu saja kepada dirinya.