Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
250- Melindungi



Raka memeriksa satu persatu ruangan yang ada di resort yang sekiranya tidak lagi di gunakan. dia tidak menyerah dan tak akan pernah menyerah. baginya kini keselamatan Alesya adalah yang paling utama.


meski dia hampir saja kehabisan napas. namun, dia harus tetap cepat dalam berlari kesana dan kemari mencari ruangan yang sekiranya Alesya berada.


Raka membuka satu persatu pintu ruangan yang tidak di gunakan lagi. dan saat dia sedang mencari terdengar suara Isak tangis. suara itu berasal dari ruangan yang berada di dekat lorong.


Raka langsung berlari ke sana. dia dengan teliti dan berhati-hati melihat sekeliling. dia lalu mencari suara dengan menempelkan daun telinganya di daun pintu. suara itu semakin dekat dan Raka menemukan arah suara. dia tidak langsung membuka pintu. dia mematikan dulu ada siapa saja di dalam sana. dia intip dari celah jendela yang sedikit terbuka. dia melihat Alesya sedang menangis dan wajahnya ketakutan. Raka mengepalkan tangannya dia begitu geram.


kepalan penuh amarah itu langsung dia bawa dengan mendobrak pintu ruangan. kedua wanita yang ada di dalam ruangan itu langsung terkejut dengan melihat seorang pria menghampiri mereka.


"Raka." panggil Alesya.


"Owh ... owh ... owh. jadi kamu sudah punya pahlawan ke siangan di sekolah? sangat menarik sekali." Cornelia memandang Raka dengan wajah penuh menantang.


Raka langsung mendorong tubuh Cornelia sehingga wanita itu terhuyung.


"Lo enggak apa-apa kan, sya?" tanya Raka seraya berjongkok untuk membantu Alesya berdiri.


"Lo ngapain di sini?" tanya Alesya.


"ya nyariin Lo lah. gue diminta mami dan papa Lo buat jagain Lo selama di sini. jadi Li adalah tanggung jawab gue." jelas Raka.


"Kita keluar dari sini." Raka hendak memapah Alesya, tapi sayang di cegah oleh dua anak buah Cornelia yang ternyata bersembunyi di balik tirai yang ada di dalam ruangan itu.


"tidak ada yang boleh mengacaukan rencana ku. anak kecil sepertimu hanyalah semut yang mengganggu." sindir Cornelia.


Anak buah Cornelia bersiap untuk menghadang Raka. mereka meregangkan tubuh seperti orang yang siap untuk bergulat.


Raka membawa Alesya mundur. "tunggu di sini. jangan takut." Raka lalu maju ke depan dan siap untuk melawan dia orang preman sewaan Cornelia.


"Haaaaah!" Raka melawan.


Satu anak buah Cornelia terkena tinjunya. Raka lalu langsung di serang dua orang itu. Raka berusaha untuk bertahan dan berusaha untuk tetap menjaga Alesya agar aman.


"Raka awas!" Alesya memperingati Raka dengan berteriak.


salah satu dari anak buah Cornelia membawa pisau lipat. dia tarik pisau dan diacungkan kepada Raka. Raka menghindar dengan cepat agar tidak terkena tajamnya pisau itu.


Raka terus berusaha untuk melawan mereka berdua. dua pria itu bertubuh kekar. sedangkan dia Kanya berisi dan tinggi saja. meski dia selalu berlatih tinju, tapi dia belum pernah berkelahi langsung tanpa pengawasan pelatihnya.


Raka lalu menyerang keduanya dengan tinju dan berhasil kembali mengenai kedua orang sekaligus. Raka berusaha bertahan.


Raka terus melihat ke arah pintu seakan sedang menunggu. teman-teman Raka sedang dalam perjalanan menuju resort mungkin saat ini. mereka akan membantu Raka untuk bisa menyelamatkan Alesya. Raka sudah memasang aplikasi untuk melacak keberadaannya.


"cepat ringkus anak itu dan bawa anak perempuan itu ke mobil." perintah Cornelia yang langsung keluar ruangan menyerahkan semuanya kepada anak buahnya.


Raka kini terkena pukulan. kedua orang itu sekarang sudah mulai bersungguh-sungguh untuk melawan Raka. Raka sudah cukup babak belur. dan Alesya merasa kasihan sekali.


"Cukup! jangan sakiti temanku lagi!" teriak Alesya histeris.


Tidak lama terdengar suara sekelompok orang berlari di sekitar lorong. dan Raka serta Alesya beruntung sekali di temukan oleh guru dengan membawa pihak polisi juga.


"Jangan bergerak! diam ditempat." perintah polisi sambil mengarahkan pistol ke arah kedua pria bertubuh kekar itu.


Alvi dan Ica langsung menghampiri Alesya untuk menenangkannya.


"Sya, gimana keadaan Lo. apa yang terluka?" Ica memeriksa tangan, kaki dan wajah sahabatnya itu untuk melihat apakah Alesya terluka.


Alesya menggeleng dan menangis. "gue takut banget ca." Alesya menangis di pelukan sahabatnya.


Raka melihat hal itu dan tangannya kembali dikepalkan. ada rasa aneh di dalam hatinya melihat Alesya menangis penuh kesedihan.


"Raka Lo baik-baik saja kan?" tanya dua teman Raka yang ternyata juga sampai tak lama dari kedatangan polisi.


"Sorry kita telat. di jalan macet banget. dan si Beno punya ide buat hubungin polisi terdekat di resort. makanya mereka tiba di sini lebih dulu."


"terima kasih ya bro. kalian emang sahabat gue yang paling keren." kata Raka sambil mengelap sedikit darah dari bibirnya yang terluka.


Raka terkena dua kali pukulan keras dari para preman itu. sehingga wajahnya pipi sebelah kirinya terdapat memar dan sedikit mengeluarkan darah segar.


"Raka. terima kasih udah nemuin Alesya. Lo emang keren!" Alvi bicara penuh semangat.


"Sama-sama bro." Raka menjadi tersanjung.


"Raka, terima kasih kamu sudah menemukan Alesya. bapak sangat bersyukur kamu dengan cepat mencarinya." kata Adrian yang ada di tempat itu juga.


"Alesya, mami dan papamu dalam perjalanan. sekarang. kamu ke ruangan saya dulu." Adrian bicara dengan formal kepada Alesya. dia tidak mau orang berpikir kalau dirinya memprioritaskan Alesya di lingkungan sekolah.


Alesya ikut dengan Adrian ditemani oleh Ica. sedangkan Raka bersama teman-temannya dibawa oleh petugas resort ke ruang perawatan kesehatan.


"Silahkan masuk. saya akan obati dulu lukanya." ujar seorang petugas kesehatan.


Raka mendapatkan pertolongan pertama di sana. meski bagi Raka luka itu ringan. tetap saja mereka semua meminta Raka untuk diobati lukanya.


"Baru kali ini terjadi hal buruk seperti ini. apakah anak perempuan itu bermasalah?" tanya seorang petugas kesehatan ketika sedang mengolesi Betadine di luka Raka.


"jangan asal bicara!" katanya sambil menepis tangan petugas.


"maafkan saya. saya hanya menduga-duga." ujarnya ketakutan.


"Lain kali kalau bicara dipikir dulu." Raka beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang perawatan dengan perasaan kesal.


"Bro, lu kenapa sih? jadi sensi begitu." tanya Beno.


"Lo berdua balik lagi ajah ke Jakarta. terima kasih banyak ya dah bantu gue. nanti setibanya di jakarta gue bakal traktir kalian makan." janji Raka.


kedua temannya hanya bisa mengangkat kedua bahunya karena heran dengan sikap sahabatnya itu.


"yaah, kita dicuekin deh. ya udah deh kita balik ke Jakarta yuks." ajak Beno.


"Yakin? enggak mau jalan-jalan dulu nikmati Koba Bogor?"


"Boleh tuh. ide yang bagus juga. kenapa enggak kepikiran ya?"


mereka lalu berjalan sambil saling merangkul satu sama lain.