
Jonathan dan Dinniar sampai di rumah. Mereka pergi ke kamar kedua putrinya untuk melihat apa yang sedang dikerjakan kedua putri manisnya.
Ternyata Kedua anak manis itu sudah terlelap. mungkin mereka kelelahan karena sibuk sekolah, belajar dan bermain bersama.
"Kita ke kamar saja. biarkan mereka tidur dengan nyaman." Jonathan menautkan tangannya kepada Dinniar.
Keduanya masuk ke dalam kamar dan saling membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Dinniar dan Jonathan naik ke atas tempat tidur.
Jonathan meminta istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya. Jonathan lalu menggenggam tangan Dinniar.
"Aku mencintaimu. Hari ini adalah hari ke lima belas kita bersama. itu artinya sudah lima belas hari kita pacaran setelah sah menjadi suami istri. ternyata pacaran setelah menikah itu lebih indah ya." Jonathan semakin memeluk Dinniar erat.
"Aku juga mencintaimu. Aku harap kamu adalah cinta sejatiku."
Mendengar penuturan istrinya membuat Jonathan memberanikan diri kembali mengecupnya. kini kecupan itu bukan hanya sekedar kecupan saja. Jonathan mendudukkan Dinniar diatas tubuhnya sambil terus menciptakan kecupan yang manis.
Dinniar membalas kecupan suaminya dengan sangat lihai.
"Setelah acara promosi di sekolahmu selesai. Kita akan berbulan madu. Kita lakukan perlahan-lahan saja. Aku ingin kita tidak terburu-buru. bercumbu denganmu membuat aku ingin merasakan setiap inci dari dirimu. hanya saja aku akan menahannya." Jonathan kembali menautkan bibirnya.
Pagutan demi pagutan mereka lakukan bersama dengan penuh kemesraan. Rasa cinta kepada Jonathan sudah membuat Dinniar memberikan lampu hijau untuk Jonathan melakukan apapun kepada dirinya.
Mereka kini sudah lelah dan memutuskan untuk tidur sambil terus berpelukan sampai menjelang pagi.
...****************...
Darius kini selalu kesepian, dia tidur sendirian setiap hari. Malam ini Darius memutuskan untuk mencari jawaban atas permintaan Cornelia kepadanya.
"Apa aku bisa mempercayainya lagi? Apa mungkin dia bisa membantuku untuk mendapatkan Tasya?" Darius penuh dengan kebimbangan.
Dia ingin hak asuh Tasya jatuh ke tangannya. dia ingin Tasya kembali menyayangi dirinya seperti dulu dan bergantung kepadanya.
"Aku tidak mau kehilangan Tasya lebih jauh lagi. aku tidak mau dia tumbuh dengan rasa benci dihatinya untukku. aku harus mendapatkannya. aku akan membahagiakan putriku." Darius menatap gelas yang ada di depannya.
Darius sudah memutuskan permintaan Cornelia. Dia akan berusaha mempercayai Cornelia yang selama ini terbukti bisa mendekati keluarga Jonathan.
Darius menaruh gelas slokinya dan juga menutup botol minuman kerasnya. Dia kini sering minum-minuman keras sebelum tidur untuk memberikan kehangatan dan juga menjadi obat agar dia tertidur pulas tanpa beban pikiran.
Waktu berjalan begitu cepat. Darius yang merasa baru saja tertidur sudah bisa merasakan sorotan sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarnya.
Susi sepagi ini sudah membangunkan putranya dengan membuka gorden kamar Darius. dia melihat botol minuman keras dan gelas di meja dekat jendela.
"Kamu habis minum lagi semalam?" tanya Susi.
Darius hanya menggeliat tanpa menjawab pertanyaan ibunya. dia enggan menimpali ibunya.
"Kenapa kamu malah tambah merusak hidupmu dengan mengkonsumsi minuman keras seperti ini? kamu tahu ini adalah minuman yang bisa merusak tubuh dan juga pikiranmu. kamu memili Tasya seorang putri dan kamu juga akan segera memiliki anak dari istri barumu. ibu mau kamu sadar dan memperbaiki hidupmu Darius." Susi mulai mengoceh.
Darius menarik bantal yang menyanggah kepalanya dan menaruhnya di atas wajahnya dan menutupi kedua telinganya dengan bantal tersebut. Dia malas mendengar ocehan ibunya sepanjang hari di setiap pagi.
Mendengar pintu tertutup. Darius yang kesal mulai melempar bantal yang di pakainya tadi. Dia melempar bantal hingga menyentuh lemarinya.
"Ibu terlalu banyak bicara. apa dia tidak pernah bisa sekali saja memahami perasaan putranya? dia terlalu egois dan hanya memikirkan Dinniar saja selama ini. Dia bahkan lebih menyayangi Dinniar ketimbang anak kandungnya sendiri." Darius kesal kepada sikap yang ditunjukkan ibunya setiap pagi.
Darius turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk bersiap bekerja. Dia memang sudah satu Minggu ini tidak pergi ke kantor dan mengurus semua pekerjaan.
Selesai mandi dia langsung pergi ke kantornya tanpa berpamitan lagi dengan ibunya.
Susi yang mendengar suara mobil menyala langsung melihat ke depan rumah. dia lihat Darius sudah mengendarai mobilnya dan pergi.
"Dasar anak itu. tidak bisa sekali diberitahu yang benar." Kesal Susi sambil menutup kembali gordennya.
Darius sibuk mengendarai mobilnya. dia terus menginjak pedal gas dengan kuat. Mobil melintas di jalan raya dengan begitu cepatnya. Darius ingin segera sampai di kantornya.
Darius menghentikan mobilnya di sebuah gedung dan memarkirnya. Dia turun dari mobil dan masuk ke dalam.
Darius melihat beberapa pegawainya berkerumun. Lantas dia langsung menghampiri mereka. dan tidak di sangka dia melihat sosok seorang model yang begitu dia inginkan masuk di dalam agencynya.
"Kamu?" tanya Darius.
"Hai. aku kemari atas rekomendasi dari sahabatku. dia meminta aku untuk bekerja sama dengan kalian semua." Tuturnya.
"Sebaiknya kita bicarakan saja di ruanganku. karena di sini terlalu ramai orang."
seorang model mengikuti langkah Darius masuk ke dalam ruangan kerja.
"Kamu jadi ingin menjadi modelku? bukannya kamu adalah ...," Darius menghentikan perkataannya ketika mendengar suara ponselnya berdering kencang.
"Halo?" sapanya.
"Kamu tidak perlu bicara tentang kontrak kerjasamanya dengan stasiun televisi swasta itu. aku sudah mengatur semuanya. kamu tinggal nikmati saja hasilnya." Ujar Cornelia yang bicara di telepon.
Darius menyunggingkan senyumannya. dia kini tahu kenapa model ini bisa ada di kantor agencynya.
"Ada satu film yang bisa kamu bermain peran. saya harap kamu bisa memainkannya dengan sangat bagus. meski bukan peran utama. namun, tokoh antagonis ini begitu memberikan warna di dalam film tersebut." Tutur Darius.
Darius masih begitu mengagumi kepintaran Cornelia. dia bahkan tidak pernah kepikiran tentang hal tersebut. Namun, ternyata Cornelia dengan mudahnya mengatur siasat dan menjalankannya. itu membuat diri Darius semakin yakin dengan rencana Cornelia.
"Baik, kita akan mulai menanda tangani surat perjanjian kerja hari ini. Aku akan memintanya untuk mempersiapkannya." Darius menelepon sekertarisnya.
Model itu tersenyum ramah kepada Darius. Model itu kini akan Darius orbitkan secara cepat agar bisa langsung terkenal di dunia perfilman dan juga modeling.
"Silahkan di tanda tangani. Ini adalah kontrak yang sangat memberikan untung kepada kita berdua." Darius menyodorkan beberapa lembar kertas yang berada di dalam map dokumen.
Darius menatap model cantik itu. dan dia merasa kalau kini bisa kembali merasakan kejayaan seperti dulu lagi.