Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
BAB 1



Universitas Wijaya. Universitas elit kedokteran yang dapat dimasuki oleh siswa pilihan yang cerdas. Bangunan nya begitu luas, bahkan untuk jalan dari gerbang menuju gedung menaiki bus pribadi kelas mereka.


Wanita bersurai hitam legam keluar dari mobil pribadinya yang terparkir. Senyumnya begitu lebar, kedua tangannya dimasukan ke dalam jaket denim miliknya. Kemudian melangkahkan kaki ke dalam gedung.


Banyak mahasiswi yang berbisik mengenai dirinya. Mulai dari kagum hingga iri dengan kecantikan nya. Meski wanita itu menggunakan kacamata, tapi tak menutupi paras ayu nya.


"Gila cantik banget."


"Gue iri banget sama dia. Dia udah cantik, pinter, uaaaa."


"Cantikan gue!"


"Primadona nya masih Alea disini. Walau doi gue udah nikah sama cowok lain.."


"Gue lebih suka Silla, naturalnya bikin gue pingin halalin."


Silla membusungkan dada nya, tatapan lurus ke depan. Wanita itu menulikan telinganya seolah tak perduli.


Langkahnya sampai didepan kelas bertuliskan "Kedokteran 2". Wanita itu langsung duduk dan meletakan tasnya dilaci mejanya.


"Woy." Teriakan dari belakang membuat wanita itu sebal dan menoleh jengah.


"Apasih Dimas!" Jawab Silla jutek.


"Gue pinjem catatan lo." Laki - laki bernama Dimas meringis duduk di atas meja.


"Ogah. Minggir!" Usir Silla jutek.


"Nenek lampir, gue aduin ke bokap lu yaa. Lu nelantarin gue."


"Gue tampol lo pake sepatu mau?!"


"Buset galak banget, gue yakin nggak akan ada yang mau sama lo."


Silla mengibaskan rambut nya ke arah Dimas dan menatapnya tajam.


"Heloww, seluruh kampus banyak yang ngantri buat jadi pacar gue. Mau apa lo!"


"Ngimpi! Hanya orang yang sehat mata nya pun yang naksir sama lo."


Dimas turun dari atas meja dan pergi ke tempat duduknya.


"Dih."


Wanita itu kembali duduk dan membuka catatan miliknya. Tak lama setelah itu dosen pun datang.


"Selamat pagi semuanya."


Dosen itu berdiri didepan kelas menyapa hangat. Seketika ruang kelas menjadi heboh.


"Huaaa!!!!"


"Dosteng.. dostengg.. hangat banget rahim gue ****.."


"Punya gue!"


"Bukan Nda, punya gue titik."


Silla merasa terganggu memutuskan melihat siapa dosen yang membuat mereka mendadak gila teriak histeris.


Wanita tersebut mendongak. Tatapannya terarah sosok laki - laki berkemeja putih dengan buku yang ada ditangannya. Wanita itu menelan salivanya. Dosen tersebut seperti jelmaan dewa yunani. Tak ada celah yang ada di wajahnya. Muka tampan, rahang yang tegas, kulit bersih bersinar, mata biru yang menghipnotis dan juga senyum yang sangat sexy.


Silla menggelengkan kepala dan merubah ekspresinya dari terkejut menjadi datar kembali.


"Saya Louis Kaggen, dosen baru yang mengajar kalian." Laki - laki bernama Louis itu tersenyum hangat ke seluruh ke penjuru kelas.


Semua wanita dikelas menjerit, bahkan yang lucu nya seorang wanita pingsan dan juga mimisan melihat senyum milik Louis.


Silla yang melihat reaksi lebay teman - teman nya tak suka. Memang benar dosen baru nya boleh dikatakan tampan, tapi mereka lebay. SANGAT LEBAY.


"Oke, saya akan memulai kelas saya sekarang."


Louis mulai menerangkan materi. Wanita - wanita dikelasnya melototkan matanya memperhatikan sambil berbisik - bisik manja.


"Mas!" Panggil Silla kesal.


"Apa lo." Dimas yang sedang mencatat menoleh.


"Gue heran cewek - cewek hobi nya jerat - jerit. Gue aja yang liat tuh orang biasa aja."


"Sirik tanda tak mampu!"


"Enak aja! Sirik apaaan nggak ada yang gue sirikin dari cewek kaya mereka."


"Bilang aja lo ngga suka Pak Louis jadi rebutan."


"SUDI!" teriak Silla dengan menggebrak buku kencang.


Silla merasa menjadi pusat perhatian sekarang. Bahkan Louis pun menatap tajam ke arah nya.


"Kamu!" Tunjuk Louis.


Silla menelan saliva nya susah dan meringis.


"Maju ke depan!"


"Terangkan semua materi yang saya jelaskan."


"Tapi pak-"


"Terangkan atau saya hukum kamu!"


"Yahh jangan dong pak."


"Kalau kamu tak membutuh kan materi yang saya berikan pintu keluar berada disana."


Louis menunjuk pintu kelasnya dengan dagu. Membuat Silla kesal setengah mati.


"Terus masa matkul bapak nilai saya kosong. Saya nggak bisa lulus terbaik dong Pak.. " Silla memelas menatap Louis. Sedang kan dosen tampan itu tak peduli.


"Saya tidak peduli. Keluar dari kelas saya!"


"Pak-"


"Keluar atau saya coret dari daftar mahasiswi saya?"


"Iya iya!"


Silla keluar dengan ekspresi jutek. Dimas tertawa puas melihat wanita itu diusir.


"Apa lo!"


Setalah diusir, wanita itu tak ambil pusing dan menuju kantin.


"Bodo amat lah, gue nggak beban matkul. Dosen resek itu harus gue kasih pelajaran liat aja ntar!!"


***


Satu jam wanita itu menghabiskan dikantin. Dengan melihat jam ditangannya, wanita itu menunggu mata kuliah Louis selesai.


Pukul 11.00 tepat mata kuliah milik Louis selesai. Dengan santai wanita itu kembali ke kelasnya. Sampai dilorong menuju kelas, dia berpapasan dengan Louis. Wanita tersebut terkejut dan berbalik cepat menjauhi dosen menyebalkan itu.


Jalan wanita itu dirubah menjadi cepat. Berharap Louis tidak menemukannya dan memberi hukuman yang lain.


Bug.


"Kamu punya salah sama saya? Kenapa menghindar nona Sisillia?"


Silla melongo, orang yang dihindarinya sudah berada dihadapannya. Entah laki - laki itu menggunakan jurus spiderman atau apalah itu namanya. Yang jelas dirinya mati ditangan dosen itu.


"Sa-saya nggak melakukan kesalahan apapun pak." Silla meringis menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Yakin?"


"I-Iya."


Sial! Ia terbata - bata dihadapan Louis. Kenapa harus gugup. Bahkan dibelakang laki - laki itu ia menyumpahi Louis seenak jidatnya. Tapi kenapa saat dihadapan laki - laki itu dirinya menciut seperti tikus yang takut tertangkap.


"Apa perluh saya perkarakan ke pengadilan?" Louis berkata dengan santai.


Silla yang mendengar pun panik.


"Ma-maksud bapak?"


"Kamu merusak mobil saya."


"Ahh, bapak jangan ngaco deh.." Silla tertawa mendengar ucapan Louis yang menuduhnya.


"Ikut saya."


Louis menarik lengan Silla menuju sebuah ruangan. Ia tahu jika ini tempat dimana seluruh CCTV kampusnya dipantau.


Silla mati kutu! Disana dirinya terekam sedang mencoret dan mumukul spion mobil milik Louis.


"Masih pura - pura?"


"Pak.. maaf, saya khilap. Jangan laporin saya kepolisi. Saya bakal ganti kerugian mobil bapak. Suerr."


Wanita itu mengacungkan ibu jari dan jari tengahnya membentuk simbol janji. Louis tersenyum miring.


"Kamu kira saya seperti membutuhkan uang kamu?"


"Yaa terus, tapi jangan laporin saya pak.."


"Saya akan tetap melaporkan kamu. Itu sudah tindak kriminal!"


"Jangan pak please.. saya bakal lakuin apapun asal bapak nggak laporin saya ke polisi.."


Silla berkeringat dingin dan memohon. Sementara Louis tersenyum licik melihat ketakutan dimata Silla.


"Kamu harus menjadi asisten saya selama sebulan penuh. Ingat, sebulan penuh!"


"Ha??"


Silla melongo tak percaya mendengarkan ucapan Louis. Jatuh sudah neraka untuknya.


Welcome to the hell Silla!