Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
305 - Pemotretan



Tim pelaksana dan juga tim pemasaran mulai sibuk. Mereka akan melakukan sesi pemotretan hari ini. Evelin sedang didandani oleh make up artist. Wajahnya begitu berseri dan bercahaya. Kecantikan Evelin dan kemolekan tubuhnya membuat dia selalu diagungkan oleh kaum adam. Bahkan tak jarang kaum hawa juga mengaguminya.


Di hotel tidak hanya staff dan juga model yang bersiap. Akan tetapi fans club Evelin's juga sudah bersiap untuk memenuhi hotel. Mereka berbondong-bondong ingin melihat langsung sang idola.


"Tim keamanan tolong selalu siaga. Jangan sampai ada orang tidak dikenal atau selain staff masuk ke dalam area pemotretan." ujar tim pelaksana kepada petugas keamanan yang berjaga di area pemotretan.


Mereka sangat matang. Karena tak jarang fans juga nekat karena ingin melihat idolanya dari dekat. Kadang juga mereka suka bertindak brutal demi bisa berfoto atau lain sebagainya.


Melinda berjalan menuju area pemotretan. Dia mengawasi setiap kegiatan karena memang dia adalah penanggung jawab bagian promosi kali ini.


"Kalian harus perhatikan detailnya. Jangan sampai kalian lengah. Saya mau hasilnya sangat memuaskan." pinta Melinda sambil melihat layar yang terhubung dari kamera.


di sana tidak hanya ada tim Melinda saja. Jonathan juga ikut hadir begitu pula dengan Samuel sebagai penanggung jawab taman yang dibuat olehnya.


Selama pemotretan jonathan hanya mengamati saja. Dan mereka menggunakan model pria untuk menjadi pasangan Evelin.


"Ren, terus awasi. Dan minta mereka totalitas dalam berakting saat pengambilan video." perintah Jonathan.


Jonathan harus pergi ke perusahaannya sendiri. dia langsung keluar area pemotretan dan pergi menuju ke parkiran VIP.


Jonathan hari ini memiliki agenda untuk meeting dengan seorang klien penting. Dia tidak bisa terus mengawasi hotel. Jadi dia membagi tugas dengan asisten pribadinya.


Jonathan menghubungi istrinya sebelum dia sampai di perusahaan.


"Halo sayang. Kamu sedang apa?" tanya Jonathan.


"Aku sedang memasak untuk makan siang. Kamu hari ini jadi ke perusahaan?" tanya Dinniar sambil terus memasak.


"Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Kalau kamu senggang hari ini. Tolong mampir ke perusahaan. Aku butuh bantuanmu." pinta Jonathan.


"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Dinniar yang terkejut suaminya meminta bantuan darinya.


"Bantuan untuk menaikkan moodku. Hari ini aku ada dua klien yang harus di temui. Sebelum aku bertemu dengan mereka aku perlu booster. Dan kamu adalah mood booster aku."


Dinniar menjadi senyum-senyum sendiri selama memasak dan kedua asisten rumah tangganya yang mendengar percakapan itu tak menyangka tuan mereka sebegitu manjanya. padahal kalau terlihat dari luarnya. Jonathan begitu tegas dan sangat dingin.


Dinniar menjadi malu ketika sadar kalau kedua asistennya sedang menatapnya.


"sayang, sudah dulu teleponnya. Nanti aku akan ke perusahaan sekalian membawakan makan siang untuk kita." Dinniar segera memencet gambar merah di layar ponselnya dan telepon terputus.


"wah, saya enggak nyangka kalau pak Jonathan begitu romantis." ujar bibi.


"bibi, bisa saja." Dinniar menjadi tersipu malu.


Dinniar dan kedua asisten rumah tangganya kembali memasak untuk makan siang dan juga untuk malam mereka semua.


"Bi, nanti yang untuk makan malam tinggal di oseng saja. Takutnya saya dan pak Jonathan pulang setelah makan malam. Dan tolong jaga anak-anak." pesan Dinniar setelah masakan selesai dibuat.


"Baik, Bu. Tenang saja serahkan kepada bibi." ujar bibi.


Dinniar berjalan melangkah keluar dari dapur dan pergi menuju kamarnya. Dia mandi dan segera merias diri agar bisa sampai di perusahaan suaminya sebelum jam makan siang.


"Sudah selesai." Dinniar menatap dirinya di cermin.


Saat hendak mengambil tasnya. Dia mendengar suara telepon genggamnya berdering. Dinniar mengangkatnya segera.


"Halo, mah." Dinniar menyapa mamanya.


Mereka berbincang di telepon dan sepertinya pembicaraan yang cukup serius. Dinniar lebih banyak menyimak dan sedikit merespon.


Dinniar menghembuskan napasnya. Sepertinya dia sedang ada beban pikiran yang cukup serius. Tak lama dia berdiam diri. Dinniar teringat dia harus ke perusahaan.


"Saya pergi dulu." pamit Dinniar kepada bibi yang mengurus rumah.


Dinniar keluar dari rumah dan pergi bersama supir menuju ke perusahaan pribadi milik suaminya.


Di perjalanan, Dinniar teringat kalau hari ini ada jadwal pemotretan di hotel. Dia laku membuka telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, ren. Bagaimana proses pemotretan?" tanya Dinniar.


"Pemotretan berjalan dengan lancar. Sebentar lagi kita akan menuju sesi pengambilan gambar untuk video promosi." jawab Rendy.


Saat sedang menerima panggilan telepon. Rendy dipanggil oleh samuel.


"Maaf, bu. Pak Samuel memanggil saya. Saya harus kembali bekerja." tutur Rendy dengan sopan.


Rendy mengakhiri panggilan telepon dan pergi menghampiri Samuel.


"Ren, kira-kira Jonathan akan kembali ke hotel atau tidak?" tanya Samuel.


"pak jonathan ada dua meeting dengan klien yang berbeda. Sepertinya akan memakan waktu. Jadi kemungkinan besar tidak akan kembali ke hotel." jawabnya.


"Kalau begitu untuk sesi pengambilan gambar jonathan akan dilaksanakan besok?" tanya Samuel lagi.


"Benar, pak. Besok juga masih ada sesi pemotretan bersama model." jelas Rendy.


"Baiklah kalau begitu. Saya besok akan kembali ke sini. kamu tolong berikan rangkaian acaranya kepada anak buah saya. Karena besok saya tidak bisa ke hotel. Sefya harus melakukan pengecekan rutin jadi saya menemaninya ke dokter." terang Samuel.


"Baik, pak. Nanti akan saya berikan jadwalnya." Rendy dan Samuel kembali memperhatikan proses pemotretan.


Melinda dan Evelin sedang duduk bersama. Evelin matanya menjelajahi area pemotretan.


"kamu mencari kakak sepupuku?" tanya Melinda.


Evelin yang kepergok sedang mencari keberadaan jonathan hanya bisa mengangguk pelan. Dia malu mengakui kalau masih menanti Jonathan.


"Dia tidak ada di sini. Menurut informasi katanya dia sedang ada meeting dengan klien penting yang tidak bisa diwakilkan." cerita Melinda. Dan Evelin kembali mengangguk lemah.


Evelin yang tadinya semangat melakukan sesi pemotretan seakan kini kehilangan empat puluh persen energinya. Tadi pagi dia benar-benar terisi penuh semangatnya karena melihat Jonathan di pagi hari meski tak bertegur sapa.


"Kita ambil sesi video." ujar seorang sutradara iklan yang bertugas.


"Silahkan." manager Evelin menepuk bahu artisnya yang sedang melamun.


Evelin benar-benar tak lagi bersemangat. Beberapa kali pengambilan gambar dia salah dalam mengucapkan kalimat yang sudah di rangkai dan sudah dia hapalkan. Tidak biasanya Evelin seperti saat ini.


"Ada apa dengannya? Kenapa beberapa kali melakukan kesalahan dialog?" Melinda menjadi kesal.


"Mungkin dia lelah sehingga tidak fokus dengan dialognya. Saya akan menghampirinya." manager Evelin langsung berlari.


Evelin menghela napas panjang dan tak lama asistennya datang menemuinya.


"Apa yang membuatmu tidak fokus? apa pria itu" tanyanya.


"Maaf, aku akan berusaha fokus. Aku sedang tidak memikirkan pria manapun." sanggahnya.