Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 93 - Obrolan antar pria



Hartono dan Juwita sampai di rumah sakit. Mereka langsung mencari kamar perawatan cucunya. Dia ingin segera melihat dan mengetahui kondisi cucu kesayangannya itu.


"Mah, Pah." Dinniar menyalami kedua orangtuanya.


Jonathan ikut menyalami pasangan suami istri yang akan menjadi mertuanya kelak.


"Terima kasih Jonathan. Kamu telah menjaga anak dan cucu kami." Hartono menepuk pundak Jonathan.


Hartono sudah sangat percaya kepada pria yang akan menjadi menantunya segera.


"Din, mama mau lihat Tasya. Mama sangat khawatir kepadanya." sorot wajah penuh cemas terlihat.


Dinniar dan mamanya masuk ke dalam ruangan Tasya. Tasya masih belum membuka matanya sampai pagi ini.


"Kapan kata dokter Tasya bisa sadarkan diri?" tanya Juwita.


"Kemungkinan beberapa jam lagi. Estimasi sampai jam sebelas siang ini. Semoga saja tidak meleset." Harap Dinniar.


"Tasya. Ini Oma. Tasya buka matanya ya. Oma kangen banget pengen lihat mata indah Tasya dan mendengar celotehan Tasya." Juwita mengelus tangan cucunya.


"Mama tidak menyangka, Darius bisa sebodoh itu. Dia benar-benar tidak memikirkan sebab dan akibat dari perbuatannya. Mama tidak terima dengan semua yang telah dia lakukan kepada Tasya. Seharusnya dia memposisikan dirinya sebagai seorang ayah di kala putrinya sedang dalam kondisi yang tidak stabil." Juwita memijat keningnya.


"Mah, sudahlah. Jangan dibicarakan lagi dan jangan bahas tentang mas Darius lagi. Aku lelah dengan semua kelakuan mas Darius. Jadi aku enggak mau denger namanya lagi." Dinniar duduk di kursi yang ada di ruangan VVIP.


Dinniar merasa kalau dia sudah tidak sanggup mendengar nama pria yang sudah begitu besar menyakitinya.


Darius memang sangat tidak memikirkan apa yang diperbuat oleh dirinya adalah suatu kesalahan besar. Dia membawa paksa Tasya ke rumahnya sedangkan Tasya memberontak. Dia juga bahkan mengurung Tasya di dalam kamar sehingga putrinya itu mengalami sesak akibat kecemasan berlebihan yang dia rasakan.


Dinniar sudah sangat jengkel mengetahui sikap Darius yang seperti anak kecil. Darius memang keras kepala. Namun, Dinniar tidak menyangka dia juga keras sekali kepada Tasya sangking ingin membuktikan kalau dia bisa menjaga Tasya.


"Mama harap, kamu lebih kuat. Kita pikirkan solusi agar dia tidak bisa mengusik hidupmu lagi. Mama tidak mau kamu terus berurusan dengannya." Juwita memeluk putrinya.


Dinniar menyandarkan dirinya di pundak sang ibu. Dia sangat nyaman ketika berada di dalam pelukan mamanya. Dinniar yang seorang anak tunggal berusaha sekali memposisikan dirinya menjadi wanita yang begitu mandiri dan dewasa. Padahal kedua orang tuanya selalu memfasilitasi dan memanjakannya. Namun, semua itu tidak membuat karakter Dinniar menjadi anak mami. Dia malah sejak dulu selalu mandiri dan berusaha sendiri. Kini sepertinya dia butuh sentuhan mamanya dan sosok mamanya. Dinniar menumpahkan semua kesedihannya di pelukan sang mama.


Seorang anak akan selalu membutuhkan orang tua di sisinya meski sudah menjadi orang tua. Bagi Dinniar dia tidak bisa terlepas dari kasih sayang mama dan juga papanya. Meski dia sudah tumbuh menjadi anak mandiri dan sudah menjadi ibu dari satu orang putri. Dinniar tetap merasa nyaman ketika berada di dekat mamanya dan berada di dekapan seorang ibu.


"Terima kasih, mah. sudah mau menemani Dinniar saat Dinniar sedang kesulitan dan merasa terpuruk. Dinniar beruntung memiliki nama seperti mama." Dinniar semakin mengeratkan pelukannya.


Juwita menyunggingkan senyumannya dan mengelus sayang kepala putrinya.


"Kamu adalah anak mama dan papa. Sudah pasti mama akan selalu berada di pihakmu dan juga di sisimu. Kamu adalah anak yang berharga untuk kami berdua. Tasya juga sangat berharga untuk mama dan papa. dia cucu yang sangat menggemaskan dan sangat membuat mama bahagia." Juwita melepaskan pelukannya dan menyentuh lembut pipi sang cucu yang masih tertidur lelap.


Juwita sangat berharap cucunya segera sadarkan diri dengan membuka matanya. Juwita tidak mau melihat air mata terus menetes di pipi sang putri.


...****************...


"Jonathan, om harap. kamu bisa menjaga anak dan cucu, om. Om mau kamu melindungi mereka dengan segenap jiwa dan ragamu. Om tidak mau. Hati yang telah hancur itu semakin hancur karena tersakiti untuk kedua kalinya." Hartono seperti sedang memberikan ultimatum dengan bahasa yang halus kepada Jonathan.


Hartono memiliki kekhawatiran kepada Dinniar putrinya yang pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga.


Hartono tidak mau ada luka lagi dalam kehidupan masa depan putrinya.


"Saya akan mengingat kata-kata, Om. Saya pastikan. Tidak akan pernah membuat Dinniar menangis dan tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menyakitinya. Saya begitu mencinta Dinniar. Saya akan menjaganya dan juga Tasya." Jonathan bicara dengan begitu tegas.


"Om akan pegang kata-kata mu Jonathan. Pria itu yang dipegang adalah kata-katanya dan yang di lihat adalah tindakannya."


Memang tidak mudah bagi Jonathan yang akan masuk ke dalam kehidupan seorang janda beranak satu. Selain karena sang wanita yang tersakiti, juga karena banyak pria yang tidak bisa menepati janjinya.


Jonathan mengerti betul kecemasan dari pria yang akan menjadi ayah mertuanya itu. Jonathan akan berusaha keras untuk membuktikan kata-katanya dengan tindakan dan juga kesungguhannya.


...****************...


Hari-hari di dalam jeruji besi begitu gelap. Tidak ada cahaya sedikitpun yang menyinarinya. Seperti hati Cornelia yang gelap tanpa penerangan dari suaminya. Darius tidak pernah mengunjunginya sejak kejadian itu. Cornelia begitu merasa terkhianati oleh Darius.


Cornelia mengelus perutnya yang masih rata. Dia merasa semua ini tidak adil baginya.


"Cornelia. Ada yang ingin bertemu dengan anda." Petugas kepolisian membuka sel tahanan dan membawa Cornelia menemui tamunya.


Cornelia mengetahui siapa yang datang menemuinya dan apa tujuannya.


"Bagaimana, kamu sudah mendapatkan informasi?" tanya Cornelia.


"Sudah, saya mendapatkan banyak informasi."


Pria itu membeberkan semua yang dia ketahui tentang Darius. Cornelia meminta kepadanya untuk mengawasi semua pergerakan Darius. Meski dia di penjara, tapi tidak mematikan langkahnya. Banyak orang-orang yang setia kepadanya dan mau mendapatkan pekerjaan darinya.


Uang Cornelia bisa bicara dan bisa membuat mereka mereka mengerjakan semua perintah darinya.


"Jadi sekarang anaknya di rawat di rumah sakit. Darius kamu memang tidak pintar mengatur strategi. Kamu terlalu mudah tersulut emosi. Kalau saja kamu mau mengeluarkan ku. Akan aku pastikan kamu bisa mendapatkan hak asuh anakmu itu." Cornelia menyeringai.


"Kamu terus awasi dan berikan informasi kepadaku dua hari sekali. Ingat jangan terlalu terlihat mencurigakan. Kamu harus melaksanakan semuanya dengan sangat rapih. Untuk uang kamu bisa memintanya kepada managerku." Cornelia meninggalkan pria itu dan kembali ke dalam sel tahanan.


Pria itu juga ikut pergi setelah selesai berbicara dengan wanita yang menjadi bosnya.