Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 33 - Menunggu



Darius dan Dinniar sudah selesai dengan kunjungan mereka. Darius masih terus terdiam. Mungkin dia tidak menyangka karena selama ini ibunya selalu bilang kalau ayahnya telah meninggal dunia. Ternyata selama ini pria itu masih hidup dan mencampakkan dirinya.


"Aku tidak akan menjadi seperti pria itu Ibu. Aku akan selalu menjaga, melindungi dan membesarkan putriku penuh cinta." Darius masih saja merasa dia bisa menjadi sosok pria yang adil.


Dalam agama saja sudah di jelaskan. Bahwa manusia tidak akan pernah bisa bersikap adil. Pasti ada saja celah yang akan merubahnya.


Darius dan Dinniar sudah berada di dalam mobil. Darius tidak langsung menyalakan mobil. Dia terdiam sejenak lalu memandang istrinya.


"Sayang. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku tidak akan mengkhianatimu lagi." Darius kembali memohon.


"Aku tidak yakin," Kata Dinniar sambil memasang safety belt.


"Aku akan berusaha meyakinkan dirimu." Darius menggenggam tangan Dinniar untuk meyakinkannya.


"Buktikan saja dulu." Dinniar bicara dengan wajah datarnya.


Mendengar penuturan istrinya. Darius seperti memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.


.


.


Keesokan harinya, Jonathan tidak seperti biasanya. Pria itu rela menunggu seseorang tak jauh dari pintu gerbang.


Dia terus memasang kedua matanya agar tidak terlewatkan.


"Dimana dia, Kenapa belum juga datang."


"Ini masih pukul 06:15 Pak, anda terlalu pagi menunggunya," ujar seseorang yang duduk bangku kemudi.


Jonathan yang tidak sabar ingin memberitahukan Dinniar perihal apa yang dia ketahui tentang lelaki yang dinikahi Dinniar.


Jonathan menunggu sampai waktu yang cukup lama. Sudah pukul tujuh pagi. Bahkan keponakannya pun sudah masuk ke dalam sekolah.


"Kenapa dia tidak terlihat?" Jonathan mulai gelisah.


Dia tidak sabar ingin memberitahukan berita perselingkuhan Darius dengan seorang model.


"Kamu turun. Tanyakan kepada satpam, jam berapa biasanya kepala sekolah datang." Jonathan yang kesal menunggu memerintah supirnya untuk bertanya.


Supir itu keluar dari mobil dan menemui satpam. Jonathan memperhatikan mereka yang sedang berbincang. Baru saja supirnya turun tidak lama, tapi Jonathan sudah tampak tak sabar.


"Kenapa lama sekali?" tanyanya geram.


"Maaf, Pak. Satpamnya butuh konfirmasi dulu ke guru piket." Jelas pria itu yang masuk kembali ke dalam mobil.


"Lantas apa katanya?" tanya Jonathan tak sabar.


"Hari ini Kepala sekolah tidak hadir. Karena mengurus ibu mertuanya yang sedang sakit." Jelas sang supir.


Jonathan memainkan jemarinya. Dia tampak kesal sekali.


"Dasar pria tidak tahu diuntung. Punya istri sebaik dia malah diselingkuhi. Pria bodoh!” Jonathan ngedumel sendiri di dalam hatinya.


.


.


Dinniar hari ini bersama dengan suami dan anaknya mengurus Susi. Susi meminta agar dia tinggal bersama dengan Darius dan Dinniar. Dia bilang ingin menghabiskan waktu bersama. Dia tidak mau lagi di berada di rumah sakit. Sudah dua bulan dia di rawat.


"Bu, apa tidak sebaiknya ibu tinggal di rumah saja? Karena Atika pasti menunggu kepulangan Ibu," kata Darius.


"Kalian hubungi saja Atika. Bilang kalau ibu akan tinggal dengan kalian sementara waktu. Lagipula dia sedang skripsi, kalau ada ibu akan mengganggunya." Susi tetap memaksa.


Atika adalah sepupu dari Darius yang tinggal dan mengurus ibunya di rumah. Atika anak yatim piatu jadi ibu Darius mengangkatnya menjadi anak dan dibiayai kuliah oleh Darius.


"Ibu akan tinggal di rumah kalian. Jangan halangi ibu. Apa kamu tidak suka ibu tinggal di rumah kalian?" Susi menjadi marah.


"Ibu, sabar ya. Ibu akan kami bawa ke rumah. Ibu boleh tinggal di rumah selama ibu mau." Dinniar tersenyum penuh ketulusan.


Darius sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak bisa lagi membantah, karena istrinya mengizinkan. Secara rumah itu sebenarnya adalah rumah yang dibekukan Darius untuk Dinniar dan atas nama Dinniar juga. Jadi pria itu tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Susi di bawa kerumah mereka untuk tinggal bersama. Dinniar mengerti ibu mertuanya sangat takut jika putranya seperti pria yang pernah dinikahinya.


.


.


Jonathan kesal sekali. Dia memukulkan tangannya ke meja kerjanya. Rendy yang melihatnya kembali merasakan ketegangan. Dia merasa bosnya sudah sangat jatuh hati.


"Haaah! Aku tidak akan membiarkan pria menyakiti wanita." Jonathan berteriak.


Jonathan pernah melihat seseorang yang di sakiti oleh pria dan berakhir pada bunuh diri karena tidak siap kehilangan.


Sahabatnya dulu pernah mencintai pria yang salah dan saat kepergok sahabat Jonathan langsung melakukan tindakan bodoh.


Setelah itu terjadi dia sangat benci kepada pria yang mengkhianati pasangannya.


"Kamu lihat Darius, kalau saja dia bukan wanita yang menjadi inspirasi keponakanku. mungkin aku tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Aku tidak mau keponakanku menangis karena sosok kepala sekolah yang dia kagumi bernasib sama dengan sahabatku." Jonathan sangat bertekad ingin membuat Darius jera.


Jonathan pergi ke studio pemotretan. dia lihat di sana hanya ada si pelakor saja. Sedangkan Darius tidak kelihatan batang hidungnya.


"Apa dia juga sedang mengurus Ibunya?" tanyanya dalam hati.


Jonathan rasanya sudah sangat gatal ingin memberi pelajaran berharga kepada Darius.


.


.


Adrian, Violin dan Sonia berkumpul di rumah Dinniar. Mereka sudah lama tidak bertemu dengan ibu mertua dari sahabatnya itu. Dulu mereka sering sekali main ke rumah ibu Darius karena kebetulan dekat dengan keluarga Violin.


Karena dirawat di rumah sakit membuat mereka jarang bertemu.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Mereka bersiap menyambut wanita paruh baya yang baik hati itu.


Violin yang memanggil Uwak kepada ibu Darius sangat tidak sabar untuk memberitahu kabar kehamilannya.


"Assalamualaikum." Susi memberi salam kepada mereka yang sedang menunggunya.


"Waalaikumsalam Ibu." Doni langsung menyalami mertua sahabatnya itu.


Mereka bersama masuk ke dalam dan duduk bersama di ruang tamu.


"Bu, uwak lihat tubuhmu gemukan." Susi menyapa anak tetangganya.


""Iyah Wak. Vi lagi hamil." Violin mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Oh ya? Alhamdulillah uwak senang dengarnya, Vi." Susi terlihat bahagia.


Disaat semua orang berkumpul dan berbahagia. Darius justru terlihat gelisah. Dia terus melihat ke arah jam dinding yang menggantung di ruang tamu rumahnya.


"Kenapa? Apa kamu harus menemuinya?" Dinniar menyadari kegelisahan suaminya.


"Siapa?" tanya Darius pura-pura tidak mengerti.


"Selingkuhanmu lah." Dinniar bicara sedikit sambil meledek.


Darius langsung salah tingkah. Dia takut ibunya mendengar perkataan istrinya. Ingin Darius menutup mulut istrinya, tapi hal itu tidak akan bisa terjadi. Dia dan Dinniar masih dalam mode senyap.


Tidak hanya Dinniar yang menyadari sikap Darius. Namun, ternyata Adrian juga merasakan sikap Darius berbeda.


"Kenapa sih, Dri?" tanya Sonia.


"Aneh ajah sama gelagatnya suami Dinniar. Kayak enggak biasanya gitu. Dulu kalau kita kumpul gini dia seneng dan menjamu kita kayak raja. Kok sekarang rasanya dia berubah ya?"


Bukan hanya orang yang tinggal serumah saja yang menyadarinya, tapi orang yang mengenalnya juga merasakan perubahan sikap Darius.