
Darius kembali disibukkan dengan urusan pekerjaannya yang sudah menumpuk dan sangat padat. dia berusaha fokus meskipun nyatanya dia tetap memikirkan istrinya yang belum pulang sejak kemarin. Darius masih terus berusaha menghubungi istrinya, tapi hasilnya tetap sama. wanita memang jika sudah marah pasti akan berkepanjangan. apalagi jika dia memiliki tempat untuk menghilangkan kemarahannya. sudah pasti akan semakin sulit dibujuk.
"Aku harus bagaimana lagi. kamu terlalu keras kepala jika sudah marah. semua ini karena ulah Jonathan. kenapa dia mempercayai hal yang belum tentu benar kenyataannya. lagipula bagaimana bisa orang selembut istriku sebenarnya adalah Cornelia. sifat dan sikap mereka benar-benar sangat berbeda 180 derajat." gerutunya sambil terus memeriksa beberapa dokumen penting.
Salsa memang seorang model dan sekarang dia sudah menjadi model yang sukses. persamaan salsa dengan Cornelia hanyalah itu bagi Darius. selebihnya bagi dia istri ketiganya adalah sosok yang baik dan sangat sabar. saat bersama dengan Tasya juga salsa penuh perhatian. itulah yang membuat Darius kepincut dengan model yang bergabung dengan agensinya itu.
"Permisi, Pak Darius. ada ibu Dinniar yang ingin bertemu." kata sekretaris Darius.
"Dipersilahkan masuk saja." Darius menutup dokumennya dan bersiap menemui mantan istrinya.
"Silahkan duduk." Darius menyambut Dinniar.
Dinniar duduk di sofa tamu yang sudah disediakan. Darius menatap mantan istrinya itu. mantan istri terindahnya, yang semakin hari, semakin terlihat bersinar kecantikannya. Penyesalan masih terus menggelayut dihatinya.
"Ada apa?" tanya Darius.
"Mas, aku yakin kamu saat ini sedang dalam posisi yang serba salah. Aku hanya ingin mengingatkanmu. aku bukan tidak percaya dengan istri barumu itu. hanya saja, apa yang didengar oleh Tasya harus tetap kita tindak lanjuti. aku mohon kamu mau bekerja sama denganku. aku rasa ini bukan membawa kerugian kepadamu. ini membawa sisi positif juga untuk hubungan kalian kedepannya. siapa tahu memang Tasya salah menduga. aku harap seperti itu. karena salsa memiliki sikap yang berbeda dari Cornelia." tutur Dinniar panjang lebar.
"Kamu tidak perlu khawatir. istrimu baik-baik saja."
mendengar penuturan mantan istrinya. Darius hanya bisa tersenyum kecut.
"bagaimana kamu bisa bicara begitu? apa kamu seorang dukun?" Darius meremehkan perkataan Dinniar.
"Bukan itu, mas. aku bicara begitu karena suamiku sudah mempersiapkan segalanya. suamiku sudah memprediksi bahwa istrimu akan pergi untuk menghindar. jadi dia menugaskan anak buahnya untuk menjaga istrimu dari jarak jauh." tutur Dinniar.
"Oh, jadi sekarang bahkan suamimu meminta orang untuk memata-matai istriku?" Darius terlihat geram.
"bukan itu. apa kamu tidak mengerti mas? suamiku begitu agar semua jelas dan dapat terselesaikan dengan segera. apa kamu mau terus dihindari oleh putrimu sendiri?" tanya Dinniar yang membuat Darius mematung.
Apa yang dikatakan oleh mantan istrinya memang benar. jika semua ini masih samar-samar. sudah pasti dirinya akan terus dijauhi oleh Tasya. meski dia mencintai istri barunya. tetap bagi Darius Tasya prioritasnya. mungkin kemarin sikapnya terlalu kaku dan takut dengan kenyataan yang sebenarnya. namun, kini dia mulai berpikir jauh lagi. semua ini untuk kebaikan hubungannya dengan Tasya dan istrinya. begitu juga dengan hubungan istrinya dengan Tasya.