
Salsa berjalan dipinggiran kolam renang. dia menikmati cahaya bulan yang menyorot air bening di dalam sana. Salsa lalu bercermin dibawah sinar rembulan. dia lihat wajahnya yang sudah terlihat sangat kusut.
"Apa yang harus aku lakukan? bagaimana aku bisa lepas dari semua ini?" salsa kemudian berjongkok dan menangis.
Salsa mengalami gejolak yang sangat besar di dalam hatinya. dia tidak bisa mengungkapkan perasaan yang tengah membuat hatinya gundah gulana. Dia hanya bisa menangisi. dia hanya bisa meratapi dengan semua yang sudah terjadi di masa lalunya.
"Seharusnya aku tidak bodoh. kenapa aku harus mengikuti semua kemauan wanita itu. andai aku tidak pernah menyetujuinya. pasti aku akan hidup dengan kedamaian. aku mencintainya. perlahan mencintainya." Isakan tangis terus terdengar.
wanita muda itu terus menangisi akan sesuatu hal yang tengah ia sesali. kehidupan ini memang tidak pernah terlepas dari rasa penyesalan. meski penyesalan itu bisa diperbaiki. Namun, apa mungkin bisa seperti sedia kala untuk keadaannya? mungkin tidak.
setelah meratapi semua yang ada dalam hidupnya. salsa beranjak dari tempatnya. dia kembali ke dalam villa yang dibelinya dua bulan lalu. villa ini sengaja dia sembunyikan dari suaminya. dia ingin tempat ini menjadi saksi bisu kehidupan yang tak pernah orang lain ketahui.
...****************...
Dinniar mendapatkan kabar dari anak buahnya seputar salsa. mendapat kabar itu, menjadikan ibu tiga anak ini penasaran apa yang ditangisi oleh istri baru dari mantan suaminya itu. Dinniar terus meminta anak buahnya mengawasi gerak-gerik salsa dari kejauhan dan melaporkan jika ada hal ganjil.
Dinniar sebelumnya sudah mulai menjadi akrab dengan salsa yang bisa menjadi ibu sambung yang baik untuk putrinya. hanya saat mendengar cerita Darius dia menjadi terusik. dia ingin menyelesaikan semuanya agar tahu harus berbuat apa ke depannya.
"Belum, tadi anak buah kita yang menjaga salsa memberi kabar kalau salsa sedang menangis sampai terisak kencang. aku penasaran apa yang sedang dia tangisi." ujar Dinniar sambil tampak berpikir.
"sudah jangan terlalu kamu pikirkan. kita lihat perkembangannya besok. aku tidak mau kamu malah jadi jatuh sakit karena masalah ini. bawa santai saja. dia dalam pengawasan anak buah kita. masalah keamanan anak-anak sudah aku perketat lagi. Alesya juga akan mulai diantar dan dijemput supir tanpa pergi kemanapun setelah pulang sekolah, kecuali mendesak." terang Jonathan yang mengerti perasaan istrinya saat ini.
Dinniar menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dia percaya dengan apa yang dibicarakan Jonathan hanya saja dia masih menyimpan gelisah dalam hatinya.
Jonathan mematikan lampu kamar dan membaringkan istrinya di samping dirinya. dia membelai lembut Dinniar agar istrinya menjadi lebih tenang.
"Sekarang kita tidur. aku sudah menyiapkan segala hal di rumah untuk menjaga keamanan anak-anak kita."
Dinniar sempat kesulitan tidur. dia takut hal buruk terjadi seperti dulu. penyusup masuk dan membuat kekacauan di rumah mereka. maka dari itu Jonathan mempersiapkan segala macam keamanan untuk anak-anak mereka berdua.
Dinniar terlelap di dalam dekapan sang suami. dia sangat kelelahan. bukan hanya lelah batin, tapi juga lelah fisik karena harus terus terjaga demi melindungi anak-anak. seorang ibu memang tidak rela kehilangan atau anak-anak terluka. namun, dia rela jika harus terluka demi anak-anaknya dan bahkan sampai kehilangan nyawa mereka demi melindungi buah hatinya.