
Jonathan pergi ke stasiun televisi agak siangan. karena memang acara ajang pencarian bakat itu di laksanakan hari ini di siang hari.
"Aku masih bisa pergi mengantar Alesya sekolah." semangat Jonathan.
Jonathan segera keluar kamar dan mencari keponakannya.
"Sya." Panggil Jonathan.
"Maaf Tuan. Non Sya masih di dalam kamar. Mungkin sebentar lagi keluar kamar." Mak Min menghampiri Jonathan.
Mak Min sudah bekerja dengan keluarga Lancer sangat lama. Dua puluh tahun dia mengabdikan dirinya kepada keluarga Lancer. Sehingga dia sudah menjadi kepala asisten rumah tangga dan dianggap keluarga.
"Mak. Tolong berikan saya segelas susu dingin." pinta Jonathan.
"Baik Tuan." Mak Min mengambilkan susu dingin dari dalam kulkas.
"Pagi Om. Kok tumben belum pergi ke kantor?" tanya Alesya yang tahu kalau Omnya selalu berangkat pagi meski seorang bos.
"Mau antar kamu ke sekolah. Om mau lihat apakah teman-teman kamu sudah bersikap baik atau belum kepadamu." Jonathan memasang wajah serius.
"Tentu baik dong. Karena Bu guru dan Bu Dinniar bilang. Jika bersahabat dengan tulus maka kita akan mendapatkan kehidupan yang baik dan masa depan cerah." Alesya sangat menyanjung guru dan kepala sekolahnya itu.
"Oh ya? Mereka sangat bijak sekali dalam mendidik." Jonatan menaikan sedikit bibir bawahnya.
"Tentu dong. Apalagi Bu Dinniar. Sudah cantik, baik lagi. Andai aku punya Tante seperti dirinya." Alesya menatap ke atas.
"Tante? Maksudmu kamu maunya punya Tante enggak mau punya Om?" tanya Jonathan sedikit cemburu.
"Maksudnya andai om punya pacar dan istri sebaik dia. Otomatis dia tanteku'kan?" Alesya melahap habis rotinya dan kabur.
Alesya tahu setiap kali dia bicara tentang pasangan hidup. Jonathan akan marah dan akan mencubitnya gemas.
"Hei, lari ya kamu. Awas ya, kalau om punya istri nanti. Om tidak akan datang kamu lagi." Teriak Jonathan sambil tersenyum tipis.
Kelakuan jahil keponakannya itu sering kali membuatnya tertawa bahagia. Alesya adalah keponakan satu-satunya. Adik Alesya harus meninggal dunia saat di dalam kandungan karena Kakak iparnya mengalami keguguran.
Jonathan selesai dengan sarapannya dan langsung menyusul keponakannya ke dalam mobil.
Rumah mereka tidak jauh dari sekolah harapan hanya butuh waktu lima belas menit sudah sampai.
.
.
Dinniar sudah berada di sekolah untuk menyambut anak murid yang datang ke sekolah. Dia rutin melakukannya bersama guru piket. Mereka akan menyambut agar anak gembira ke sekolah.
Mobil merah melintas di depan sekolah. Turun seorang supir yang membukakan pintu untuk anak perempuan berseragam batik ciri khas sekolah harapan dan seorang pria berjas yang sangat gagah. Bagi wanita yang masih lajang dia adalah sosok pria yang sempurna untuk menjadi seorang suami.
Alesya langsung berlari ke arah guru piket dan ke arah Dinniar. Alesya dengan manis meraih tangan Dinniar.
"Assalamualaikum Alesya." Dinniar menyapa.
"Waalaikumsalam Bu Dinniar." Alesya tersenyum penuh semangat.
"Bu, hari ini aku diantar Om Nathan." Alesya menunjuk ke arah Jonathan.
"Selamat pagi, Pak." Dinniar menyapa dengan sopan.
"Cantiknya."
Senyuman yang terlihat biasa untuk semua orang, tapi berbeda di mata Jonathan. senyuman itu sangat sempurna, sangat manis dan membuat pemilik senyuman itu terlihat mempesona.
"Om." Alesya mengguncang tangan omnya yang terdiam.
Pesona Dinniar mampu menghanyutkan Jonathan dalam waktu yang cukup lama.
"Selamat Pagi."
"Alesya masuk dulu ya, Om."
Alesya bersalaman kepada omnya dan langsung berlari menuju kelasnya.
Jonathan juga langsung kembali ke dalam mobilnya untuk bersiap berangkat bekerja.
"Sudah waktunya masuk kelas." Dinniar melihat jam yang ada ditangannya.
Dinniar kembali ke dalam ruangannya. Sedangkan guru piket tetap menjaga di dekat gerbang sekolah.
Sekolah memang memiliki tiga satpam yang berjaga, tetapi mereka tetap menempatkan salah satu guru untuk piket agar bisa lebih mengawasi tindak tanduk anak selama di sekolah dan bisa langsung mengambil keputusan jika ada hal mendesak yang terjadi.
.
.
Jonathan terlihat berseri sekali wajahnya pagi ini.
"Cantik ya kepala sekolah Non Alesya?" tanya sopir sambil terus mengemudi.
"Sangat cantik." Jonathan menjawab sambil melamun.
Setelah mendengar jawabannya sendiri. Dia langsung tersadar dari lamunannya.
"Biasa saja." Jonathan langsung merevisi jawabannya.
Sopirnya Jonathan yang sudah bekerja dengannya selama sepuluh tahun menahan gelak tawanya. Dia merasa bosnya sangat lucu saat mulai jatuh cinta.
Jonathan sangat sulit di dekati oleh wanita manapun. Ada alasan kenapa dia tidak ingin memulai suatu hubungan. Dia sangat tidak ingin memiliki pasangan sejak lima tahun lalu. Sejak banyak orang mengincar keluarganya.
.
.
Darius pergi menemani Cornelia pemotretan di salah satu studio Lancer Group. Cornelia sangat cantik sekali saat mengenakan Mini Dress yang memperlihatkan kaki jenjangnya dan lehernya yang putih. Dia mengenakan Mini Dress berwarna Navy dengan sedikit belahan di area dadanya.
"So Sexy." Puji Darius.
Dinniar memang tidak pernah mengenakan pakaian sexy seperti itu. Terlebih sekarang dia menjadi seorang kepala sekolah. Harus menjaga image dan mengenakan pakaian yang sopan.
Darius selalu memuja istri keduanya itu saat dia mengenakan Mini Dress atau baju sexy lainnya. Itu sangat mengundang gairah kelelakiannya. Darius sering berfantasi ketika sudah melihat wanitanya mengenakan baju kekurangan bahan tersebut.
Pria memang senang melihat wanita yang memakan baju kekurangan bahan apalagi bodynya mulus dan ramping.
Darius dan Cornelia pergi ke kantin yang masih berada di gedung studio. Mereka tidak bisa pergi keluar karena menghindari kepergok Dinniar atau yang mengenalnya.
"Sayang. Beberapa bulan lagi kontrakku selesai. Aku ingin mengandung anakmu. Kita berikan Tasya adik yang menggemaskan. Pasti dia suka." Cornelia menyandarkan kepalanya di bahu Darius.
Darius mengelus wajah istri keduanya dan menggenggam erat tangan Cornelia.
Jonathan yang melewati kantin sebelum ke ruangan meeting. Melihat sosok pria yang sepertinya dia pernah temui.
"Siapa ya dia? Rasanya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat."
Jonathan memotret mereka untuk mengingat siapa pria itu. Setelah mendapatkan gambarnya, Jonathan kembali melangkahkan kakinya. Dia akan mengingatnya nanti setelah selesai meeting.
"Ada apa dengannya? Siapa yang dia foto?" Rendy bertanya-tanya.
Rendy adalah personal asisten dari Jonathan. Dia adalah salah satu adik kelas Jonathan di kampus tempatnya dulu berkuliah. Karena Jonathan merasa Rendy unik dan cerdas. Dia merekrut Rendy sebagai personal asisten. Orang-orang kepercayaan Jonathan adalah orang-orang yang dia rekrut dan selidiki sendiri, bukan orang yang melamar di perusahaannya. Baginya penting menyelidiki seluk belum orang yang akan menjadi tangan kanannya.
Dalam perjalanan menuju ruang meeting ternyata Jonathan masih terusik dengan wajah pria yang dilihatnya sedang bertingkah mesra dengan seorang wanita yang merupakan juri di ajang pencarian bakat.
"Ah, Aku ingat. Dia itu'kan. Pria yang aku temui di cafe kemarin. Dia datang dengan Bu Dinniar, kalau tidak salah." Ingatnya