
Cornelia bersujud di kaki Darius. Dia memohon maaf kepada Darius karena telah merencanakan penculikan terhadap Tasya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau jadinya akan seperti ini. Dia telah dinyatakan bersalah berdasarkan bukti yang telah diberikan oleh Dinniar ke pihak berwajib.
"Mas, maafkan aku. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Aku hanya cemburu dan merasa kesal karena kamu masih sering ke rumah Dinniar dan saat Tasya sedang bersama kita. Kamu terlalu memanjakan ya dan seluruh perhatianmu hanya kamu beri untuknya." Cornelia mulai bermain sikat lidah.
Cornelia paling pintar saat melakukan bela diri silat lidah. Dia sudah pasti akan juara satu tingkat internasional.
Darius tidak bergeming sedikitpun. Dia tidak mau melihat wajah istrinya itu. Cornelia benar-benar kehabisan akal untuk membujuk suaminya agar mau memaafkannya.
"Hentikan sandiwaramu, Cornelia. Kamu tidak pantas memang menjadi seorang ibu." Tutur Darius.
"Mas, berikan aku kesempatan sekali lagi saja. Aku mohon maafkan aku. Aku juga berjanji akan belajar menyayangi putrimu." Cornelia masih memohon sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
"Cukup Cornelia. Aku sudah tidak bisa lagi memaafkan mu." Darius sudah tidak respek dengan Cornelia lagi.
Cornelia yang melihat usahanya tidak berhasil kepada Darius. Dia mulai melirik ke Dinniar yang juga berada di sana.
Cornelia berlari ke arah Dinniar. Dia mulai melancarkan sandiwaranya.
"Dinniar, aku mohon maafkan aku. Aku janji tidak akan pernah menyentuh Tasya lagi. Aku janji tidak akan pernah membuatmu kecewa." Cornelia meraih tangan Dinniar yang semula terlipat rapih di dada.
"Cornelia, jangan ganggu Dinniar. Urusanmu kini dengan pihak kepolisian bukan dengan dia ataupun aku. Sebaiknya kamu persiapkan diri untuk persidangan." Bentak Darius.
Cornelia menggeleng. Dia tidak mau di penjara lebih lama lagi. Dia sudah cukup menderita berada di penjara selama beberapa Minggu ini.
"Cornelia. Apa yang kamu bisa berikan kepadaku kalau sampai aku sampai memaafkan mu? ada harga untuk sebuah kata maaf!" Dinniar menekankan kalimat terakhirnya.
Cornelia hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Dinniar untuknya. dia bahkan tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan oleh nya kepada Dinniar. dia tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada Dinniar dan kalau pun ada adalah pernikahannya dengan Darius, tapi jika dia menyerah akan pernikahannya dengan Darius maka sudah dipastikan dia kalah dari Dinniar.
"Jika kamu bisa memberikan penawaran yang bagus untukku. maka aku akan menarik kembali tuntutan itu." Dinniar berjalan pergi di susul oleh Jonathan.
melihat kepergian Dinniar. Darius segera menyusulnya.
"Mas, kamu mau kemana. Mas, jangan tinggalin aku." Cornelia melihat kalau Darius sudah tidak lagi perduli dengan dirinya.
Sudah dipastikan kalau Darius pasti sangat murka kepada dirinya. Darius tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti putrinya tidak terkecuali Cornelia wanita yang menjadi istri keduanya.
...****************...
Dinniar dan Jonathan pergi meninggalkan kantor polisi. Di dalam mobil sikap angkuh Dinniar runtuh. Dia sangat marah dan tidak akan pernah memaafkan Cornelia. Wanita yang telah menyakiti dan membuat putrinya mengalami trauma itu akan dia buat merasakan penderitaan yang sama.
"Dinniar, apa benar kamu akan memaafkan Cornelia?" tanya Jonatan sambil menoleh sebentar ke Dinniar.
Dinniar malah menangis. Dengan perasaan bersalah Jonathan memandang wanita yang dia sukai. Jonathan menepikan mobilnya dan dia memberikan tisu kepada Dinniar.
"Jangan menangis. Maafkan aku jika pertanyaanku menyakiti perasaanmu." Jonathan sangat merasa bersalah.
"Tidak, ini bukan karenamu." Dinniar menghapus air matanya yang sudah membanjiri wajah cantiknya.
"Aku tidak akan semudah itu memberi mereka berdua maaf. Ada harga untuk sebuah kata memaafkan. memberi maaf untuk orang lain bukan semudah kita meminta maaf. Ada luka dan api yang terus menyala di dalam hati. Tidak mudah membalut hati yang sudah terluka dan api yang sudah membara." Dinniar kembali menegaskan hatinya.
Sebagai seorang wanita yang sudah di campakkan oleh suaminya dan sebagai seorang ibu yang putrinya sudah terluka akibat ulah orang tidak bertanggung jawab. Membuat Dinniar menyusun rencana agar Cornelia tahu bagaimana rasanya berada diposisi dirinya.