
Dinniar tidak mau lagi Darius tidur sekamar dengannya. Dinniar memilih tidur di ruang tamu yang kemarin sempat diisi oleh ibu mertuanya.
Kebetulan sekali kalau ibu mertuanya sedang diajak sepupu suaminya untuk menghadiri prosesi wisudanya.
Dinniar pindah ke kamar tamu dan dia menyiapkan berbagai berkas yang akan dia ajukan ke pengadilan agama.
Dinniar sudah membulatkan tekadnya untuk pergi dari kehidupan suaminya dan menyudahi rumah tangganya.
.
.
Malam berganti pagi dengan begitu cepatnya. Dinniar sudah pergi pagi-pagi sekali menggunakan mobilnya. Dia meminta cuti beberapa hari untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.
Dinniar pergi ke pengadilan agama di temani oleh Sonia. Saat dia hendak masuk ke dalam, ternyata Adrian sudah menunggu di sana.
"Kamu di sini?" tanya Dinniar kepada sahabatnya.
"Aku di sini, untuk menguatkan mu. Memberi support kepada sahabat yang begitu aku sayangi." Adrian memeluk sahabatnya itu. Dia kemudian menangis di dalam pelukan sahabatnya. Sonia ikut memeluk kedua sahabatnya dari belakang.
Sonia tidak menyangka kalau rumah tangga sahabatnya yang begitu luar biasa di mata mereka. Harus berakhir di meja pengadilan agama. Sahabatnya memutuskan bercerai. Dinniar tidak sanggup lagi menghadapi rumah tangga yang sudah berantakan.
setelah lama berpelukan. Dinniar masuk ke dalam ruangan dan menyerahkan beberapa berkas untuk diproses agar cepat naik ke persidangan.
Di dalam Dinniar sedikit diwawancarai mengenai kenapa dia menggugat cerai suaminya sendiri. Dinniar membeberkan apa yang dia ketahui dan dia memberikan beberapa bukti foto agar permohonannya segera naik ke persidangan.
Di luar kedua sahabatnya sedang menunggu Dinniar menyelesaikan dua puluh persen permasalahan yang dia miliki.
"Semoga proses sidangnya berlangsung cepat dan lancar." harap Sonia.
"semoga saja. aku sudah tidak tega lagi melihat sahabatku menderita seperti ini." Adrian yang menaruh hati kepada Dinniar. Sedikit memiliki harapan agar bisa bersama dengan sahabatnya suatu hari nanti.
.
.
Satu Minggu berlalu. Dinniar dan Darius dipertemukan di bangku persidangan cerai mereka berdua. Dinniar ditemani oleh ketiga sahabatnya. Sedangkan Darius di temani oleh ibunya dan sepupunya.
Persidangan mereka berdua di mulai. Seseorang datang dan duduk di pojok bangku saksi. Dia sengaja menghadiri sidang cerai ini untuk memastikan.
Hakim selesai dengan proses persidangan. Kini dua insan itu sudah tidak lagi dalam ikatan pernikahan.
Jonathan yang duduk di kursi pojok tersenyum senang. Baginya ini adalah kemenangan untuk Dinniar. Jonathan senang akhirnya Darius mendapat ganjaran dari perilakunya. Ditinggal seseorang yang berharga dan berjasa dalam hidup kita itu adalah suatu pukulan yang keras.
Saat mereka akan keluar dari ruang sidang. Ternyata ibu mertua Dinniar pingsan. Darius segera menggotongnya dan membawanya ke ruang pemeriksaan atau klinik yang ada di gedung pengadilan agama ini.
Dinniar khawatir dengan kondisi ibu mertuanya. Dia akan menunggu hingga mertuanya sadarkan diri.
"Bukannya kalian sudah bercerai? Lantas kenapa kamu masih berada di sini?" tanya Cornelia yang sedang merasakan kemenangan karena akan mendapatkan Darius seutuhnya.
"Aku hanya menunggu mertuaku sadarkan diri." Dinniar menjawab tanpa melihat wajah pelakor itu.
"Tidak perlu. Sudah ada aku menantunya." Cornelia mengusir Dinniar secara halus.
"Ayo, Din. Kita pergi saja." Ajak Sonia.
"Tapi ...," ucapan Dinniar terputus.
"Din, biarkan mereka yang mengurusnya." Violin menarik Dinniar.
Dinniar melepas genggaman tangan kedua sahabatnya dan menghampiri Cornelia yang sedang tersenyum menang.
"Dengar. Yang kamu ambil saat ini. Adalah pakaian bekas milikku. Jadi aku rasa pakaian bekas itu akan segera rusak." puas dengan kata-katanya Dinniar langsung pergi.
.
.
TAMAT.
Guys ada lanjutannya yaitu (Not) Perfect wedding.
Cerita kehidupan Dinniar setelah bercerai dari Darius. baca terus ya. terimakasih