
Dinniar mengetuk pintu rumah Darius dengan sangat kencang. Dinniar melihat kalau mobil Darius sudah terparkir di depan, jadi sudah dapat dipastikan kalau Darius sudah berada di rumah.
"Darius, itu pasti Dinniar. Ibu akan membuka pintu dan membawa Tasya untuk dikembalikan kepada maminya." Susi menggandeng tangan Tasya.
Darius dengan cepat menghentikan langkah ibunya. Mereka saling berpandangan. Darius membulatkan matanya hingga terlihat bola matanya ingin menyembul keluar.
"Darius, jangan ngaco kamu ya. Lihat anakmu, dia sudah bergetar tubuhnya. Kalau terjadi sesuatu kepada Tasya. Kamu yang akan merasakan kerugiannya." Bentak Susi kepada putranya.
"Bu, ini hanya sementara. Besok aku akan kembalikan Tasya. Ibu bawa saja Tasya ke dalam kamar. Aku yang akan membuka pintu untuk Dinniar." Darius masih menatap ibunya dengan penuh emosi.
"Darius sadar. Anakmu bisa tambah trauma melihat kamu yang tidak bisa mengontrol emosi seperti ini. Dia bisa tambah takut kepadamu." Susi memberi pengertian agar putranya menyerah.
Darius tetap tidak mau mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibunya. Darius menarik tangan ibunya dan Tasya. Dia membuka pintu kamar ibunya dan memasukkan ibu dan anaknya ke dalam kamar Lalu menguncinya dari luar.
Darius melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya dan membuka pintu. Dinniar sudah menunggu Darius sejak tadi. Dinniar mendorong tubuh Darius hingga menjauh dari pintu. Dinniar masuk ke dalam rumah. Sedangkan Jonathan di larang masuk oleh Darius ke dalam rumahnya.
"Orang asing di larang masuk." Darius menaruh telunjuknya di dada Jonathan dengan sedikit mendorongnya.
"Aku akan menunggu di luar, tapi tolong pintunya tetap terbuka." pinta Jonathan.
"Hem." Darius menyeringai dan menutup pintunya.
Jonathan menunggu di depan rumah dengan pintu yang tertutup. Darius tidak mau mengikuti permintaan pria yang kini menjadi saingannya.
"Dimana Tasya, mas? kenapa kamu membawanya? kamu tahu betul kondisinya yang belum membaik." Dinniar marah kepada Darius.
"Kalau aku terus dihalangi oleh kamu untuk menemuinya, kapan dia bisa sembuh dari traumanya dan kapan dia bisa terbiasa lagi dengan kehadiranku?" tanya Darius dengan lantang.
"Mas, kamu akan aku berikan kesempatan untuk bertemu dengan Tasya, tapi nanti. Saat dokter mengundangmu dan kita bisa bertemu berdua dengan Tasya sebagai bentuk terapi. Kalau kamu terus bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Kamu sendiri yang merusak semua usahaku untuk membuat Tasya bisa kembali nyaman bersamamu." Jelas Dinniar.
Dinniar sudah lelah menghadapi sikap Darius yang semakin hari tak bisa dikontrol dan emosinya sering kali meledak-ledak.
"Kamu pikir aku percaya kalau kamu melakukan semua ini untukku? aku yakin kamu ingin menjauhkan ku dari Tasya. Anakku sendiri!" Darius mendorong Dinniar.
Untung saja Dinniar tidak terjatuh. Dia siap dengan keadaan yang ada karena sudah terbiasa menghadapi sikap Darius yang seperti ini selama mereka resmi bercerai.
Mungkin itu lah yang orang sering bilang. Karakter manusia bisa berubah seiring waktu tergantung bersama siapa dia bergaul dan dekat. Kini sifat Darius lebih sering menonjolkan keangkuhan dan emosinya yang tidak stabil. Dinniar sangat menyayangkan perubahan sikap mantan suaminya ini. Dulu saat bersamanya Darius lebih tenang dan tidak pernah melakukan hal buruk.
"Mas, harusnya kamu sadar. kalau memang aku ingin menjauhkanku dengan Tasya. Aku enggak perlu repot-repot untuk melakukan terapi ini. nyatanya dia hanya takut kepadamu. Dengan yang lain dia bahkan tidak terlihat tertekan saat berdekatan." Tegas Dinniar yang enggan terus di sudutkan.
"Oh, begitu? jadi Tasya hanya takut kepadaku? apa dia tidak takut kepada pria yang di depan itu?" tanya Darius sambil menunjuk ke arah pintu.
Dinniar lelah entah bagaimana lagi cara bisa menjelaskan dan memberikan pengertian kepada mantan suaminya.
Dinniar mendengar suara pintu di pukul-pukul dengan sangat keras. Dia langsung mencari arah suaran dan melangkah ke sana.
"Berhenti Dinniar!" teriak Darius seperti orang kesetanan.
"Mas, itu pasti ibu dan Tasya'kan?" tanya Dinniar sambil melihat ke arah pintu.
Dinniar tidak memperdulikan Darius. Dia terus berjalan menuju pintu dan hendak membukanya, tapi sayang terkunci.
"Bu, ini Dinniar." Teriak Dinniar.
"Mas, dimana kuncinya?" tanya Dinniar dengan sedikit memasak.
"Tidak, aku tidak akan memberikannya." Darius menolak sambil menggeleng.
"Mas! Kamu ini benar-benar sudah tidak bisa berpikir dengan jernih." Dinniar mulai panik karena ibu mertuanya terdengar berteriak-teriak memanggil nama Tasya.
"Bu, Tasya kenapa?" tanya Dinniar yang panik sambil menempelkan telinganya ke daun pintu.
"Dinniar, Tasya tiba-tiba tubuhnya kejang. Cepat buka pintunya." Teriak Susi lagi.
"Mas, kamu dengar kata ibu? buka pintunya mas! kalau sampai terjadi sesuatu kepada anak kita. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kalau Tasya kenapa-kenapa di dalam. Kamu yang akan menyesal juga!" Dinniar semakin berteriak dan menangis.
Darius terdiam, dia tidak melawan kata-kata Dinniar. Namun, diamnya Darius membuat Dinniar menjadi gelisah. Sebab di dalam ibu mertuanya masih berteriak minta pertolongan.
"Mas, kenapa diam? Buka pintunya. Saat ini pasti Tasya stres karena di kurung dan mendengar pertengkaran kita." Dinniar mulai menggeledah Darius.
Darius akhirnya memberikan kuncinya dan membukanya. Saat di buka Tasya sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Keterlaluan kamu Darius!" Susi membentak putranya sendiri.
Cinta kasih seorang nenek kepada cucu lebih besar daripada cinta kasihnya kepada sang anak. Begitulah hukum alamnya.
"Tasya, sayang." Darius ikut panik melihat putrinya pingsan.
"Minggir kamu mas." Dinniar menggendong putrinya.
"Dinniar biar aku temani." Teriak Darius.
"Tidak perlu, kamu hanya akan membuat suasana semakin kacau. Ingat mas, jika terjadi sesuatu kepada putriku. Kamu orang pertama yang akan aku benci untuk selamanya!" ancam Dinniar.
"Dinniar, Tasya juga putriku." Darius ingin mengejar istrinya. Namun, Susi langsung menghadangnya.
Kini sang ibu tidak segan lagi melawan putranya yang sudah keterlaluan sikapnya.
"Kamu benar-benar keterlaluan Darius. Kamu membuat seorang anak menderita karena sikap egoismu! Entah kenapa kamu menjadi seperti ini? Dulu kamu selalu berpikir bijak dan panjang. Sekarang kamu sudah dikuasai oleh setan Darius! emosimu sudah tidak bisa lagi dikontrol." Susi sangat marah.
Darius mengacak-acak rambutnya. Dia frustasi dengan semua ini. Dia menyesal telah gegabah dan tidak mendengarkan apa perkataan Dinniar.
"Maafkan Darius Bu. Aku hanya rindu kepada putriku." Darius bersujud di kaki ibunya.
Dinniar membuka pintu rumah Darius. Jonathan tertegun melihat Dinniar menggendong putrinya dengan kondisi tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengan Tasya?" tanya Jonathan yang ikut cemas.
"Tasya pingsan karena ketakutan. Kita harus membawa Tasya ke rumah sakit segera." Pinta Dinniar.
"Aku yang gendong Tasya. biar lebih cepat. Kamu buka pintu mobil." Jonathan mengambil alih Tasya.
Mereka berdua langsung menuju ke mobil. Dinniar membuka pintu mobil dan masuk terlebih dahulu. Jonathan menaruh tubuh Tasya di pangkuan Dinniar.