
Setelah seharian sibuk di hotel dan juga perusahaannya sendiri. Jonathan akhirnya tiba di rumah. Dia langsung disambut oleh orang-orang terkasihnya. ketiga anak dan istri tercintanya sudah menunggu kepulangannya. Jonathan mengembangkan senyumnya. Dia juga berjalan dengan cepat.
"Akhirnya papa bisa melihat wajah kalian setelah padatnya pekerjaan hari ini." Jonathan memeluk ketiga anaknya bergantian.
"Untuk mami." Jonathan mengecup kening sang istri hingga Dinniar merasa begitu tersanjung.
"Kita masuk ke dalam. Mami sudah membuatkan masakan kesukaan papa dan anak-anak." Dinniar menggandeng tangan suaminya.
Setibanya di ruang makan. Dinniar membuka jas yang dipakai suaminya. Dia menggantung jas itu di stand hanger.
"Waw, mami memang selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal." puji Jonathan ketika melihat menu masakan yang dibuat oleh istrinya.
Keluarga bahagia itu makan malam bersama sambil sedikit berbincang. Dinniar memperhatikan sikap suaminya dan dia menyunggingkan senyuman. Entah mengapa Dinniar nampak seperti orang yang senang.
"Mami, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Devano kepada maminya.
"tidak ada apa-apa sayang. Mami hanya senang saja melihat kalian begitu akrab dan hangat. Mami bangga dengan kalian bertiga," jawab Dinniar.
"kami juga senang melihat mami dan papa begitu harmonis. Membuat kita menjadi yakin kalau keluarga ini akan selalu utuh." ujar Alesya.
.
.
.
Alesya masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil beberapa buku pelajaran dan bersiap untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan di rumah. Alesya membaca satu persatu pertanyaan yang tertulis di dalam buku lalu dijawabnya.
Mama dan papanya dulu juga seorang yang giat sekali belajar. Mereka bahkan mendapatkan beasiswa dan menjadi murid teladan. mama dan papanya Alesya bertemu disaat mereka saling menjadi perwakilan antar mahasiswa. Keduanya sama-sama dikirim ke Australia dan di sana mereka bertemu dan berkenalan. pada akhirnya mereka menikah dan memiliki dua anak. Sayangnya Alesya saja yang selamat. Sedangkan adiknya meninggal dunia karena tindak kejahatan berencana yang dilakukan oleh saingan bisnisnya.
Jonathan begitu menjaga keselamatan keponakan satu-satunya. Dia bahkan membiarkan Alesya tinggal dengannya selama bertahun-tahun.
"Kak, aku malam ini tidur sama kakak boleh?" tanya Tasya.
"Boleh dong." Alesya mencubit gemas gadu adiknya.
Tasya begitu lengket kepada Alesya. Tak heran semua orang yang baru mengenal keluarga Jonathan menyangka ketiga anak mereka lahir dari rahim wanita yang sama.
"Kakak ajarkan Devano sebentar di kamarnya ya. Kamu naik ke kasur duluan saja kalau sudah mengantuk." ujar Alesya seraya tersenyum.
"aku ikut kak."
Tasya dan Alesya pergi menuju kamar Devano. Sesampainya di sana. Alesya segera mengajarkan Devano untuk menyelesaikan tugas.
"Terima kasih kakak. Kakak memang yang terbaik." Devano mengacungkan kedua jempol tangannya.
selesai memasukkan buku. Ketiganya tidak langsung berpisah begitu saja.
"Kak. Devano sayang banget sama kak alesya dan kak Tasya. Bagi Devano kalian adalah dua peri yang tuhan kirim untuk Devano."
Adiknya yang biasanya jarang mengungkapkan perasaannya. Pada malam ini dia mengucapkan kata cinta yang begitu bermakna bagi Alesya. Mereka kemudian berpelukan. Alesya begitu senang diterima sebagai seorang kakak oleh kedua adiknya.