Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 220 - Anak baru



Kepala sekolah masuk ke dalam kelas bersama dengan seseorang yang mengikutinya dari belakang. tak lama murid baru dan seluruh murid di dalam kelas kemudian saling bertatapan.


Alesya tak menghiraukan anak baru yang membuat kelas seketika riuh. Alesya hanya sibuk dengan buku gambarnya. Alesya yang sedang berusaha membuat sebuah komik sangat serius menggambar.


"Sya."


"Hmmm."


"Lihat deh, itu anak kayak mukanya pernah kita liat ya." Alvi meneruskan perkataannya sambil terus fokus kepada wajah anak baru itu.


"Perasaan'kan? ya udah sih kalo cuma perasaan enggak usah dipikirin," Sahut Alesya.


Alvi lalu menoleh ke bangku sahabatnya yang duduk tepat dibelakangnya.


"Ah, pantesan ajah responnya datar. sibuk sendiri sih." Gerutu Alvi sambil kembali menoleh ke depan.


Melihat Alesya yang tidak menanggapi dan juga tidak memperhatikan ke depan k las membuat Alvi sibuk sendiri dengan apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Silahkan perkenalkan nama kamu. Dan setelah itu bisa kamu cari tempat duduk. ada dua bangku kosong di kelas ini." Kepala sekolah mempersilahkan anak baru itu untuk memperkenalkan diri dan juga dia menunjuk dua bangku yang tak berpenghuni.


Raka bersiap untuk memperkenalkan diri. dia maju satu langkah dari posisinya tadi berdiri dan menatap teman-teman yang sebagian anak perempuan terpesona dengan ketampanannya.


Raka langsung mesem-mesem dan menyeringai sedikit ketika melihat para perempuan itu tak sabar ingin tahu namanya.


"Hai, semuanya. perkenalkan nama saya Raka Abi Prayogo. biasa di panggil Raka. saya murid pindahan dan siap bergabung dengan sekolah SMA harapan."


Selagi Raka membuka suaranya. Suasana kelas menjadi semakin riuh karena anak-anak perempuan bersorak.


"Raka, aku padamu." beberapa anak perempuan melambaikan tangannya dan sebagian lagi membentuk jemarinya seperti gambar hati.


Raka semakin puas. karena dia tahu. Di sekolah harapan dia akan menjadi anak populer.


Raka berjalan menuju bangku kosong yang akan dia duduki. selama perjalanan menuju ke bangkunya. anak perempuan berlomba untuk berjabat tangan dengan Raka. Kini Raka sudah seperti selebriti yang masuk ke sekolah. Semua orang terkagum-kagum dan semua orang sangat tertarik dengannya.


Raka duduk tepat di belakang kursi Alesya. Dia lalu mengeluarkan buku dan semua murid mulai untuk belajar.


"Seperti janji ibu kepada kalian. hari ini ibu akan membagikan nama-nama kelompok beserta anggotanya. Tolong di simak baik-baik. ibu tidak akan mengulanginya."


kelompok mulai dibagi-bagi. Guru fisika mulai menyebutkan nama anggota.


"Alesya, Raka, Nadia, dan Topan. Kalian berempat akan menjadi satu kelompok. nama kelompok kalian edelweis." Guru fisika itu berbicara di dalam kelas dengan begitu lantangnya.


Alesya langsung menepuk pundak sahabatnya yang duduk tepat di depannya.


"Raka siapa?" tanya Alesya.


"Au ah gelap." Alvi beranjak dari duduknya dan menuju kelompoknya demi mendapatkan nilai terbaik di pelajaran fisika kali ini.


"Iish, kenapa sih tuh anak. sombong amat!" gerutu Alesya.


"Sya, kita di sini." Nadia melambaikan tangannya untuk temannya bersiap.


Alesya langsung keluar dari meja dan bangku belajarnya. dia menuju kelompok yang sudah hampir rampung. Namun, sesuatu hal membuat langkah kaki Alesya terhenti.


"Itu cowok mukanya kayak enggak asing. Pernah liat dimana ya?" Bisiknya kecil.


"liat di kelas ini lah pastinya." Gita menghampiri Alesya yang sedang bengong.


"Astaga apa dia selalu begini ketika memperhatikan orang berlebihan?" Gita menyeringai dan sambil berjalan.