Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 29 - Darius



Darius pulang dengan perasaan yang ketar ketir. Rasanya jantungnya ingin copot. Dia tidak tahu apa yang akan dia jelaskan kepada Dinniar nanti. Dia memasuki rumah yang sudah lima tahun lamanya menjadi saksi bisu rumah tangga yang dia bina selama ini bersama Dinniar.


Darius meletakkan koper miliknya di depan pintu yang terbelah dua. Dia buka satu bagian pintu tersebut dan masuk ke dalam rumah.


Dilihatnya rumah sangat sepi bagai tak berpenghuni. Dia mencari sosok yang biasanya selalu ada di dapur atau ruang cuci. Mereka berdua tidak ada.


Dia membuka pintu ruangan dengan tembok dalam berwarna merah muda dan banyak berjejer boneka Barbie di dalamnya. Namun, putrinya juga tidak ada.


Dia menapaki kakinya menuju tangga. Dia menaiki satu persatu anak tangga dengan perasaan bersalah yang sangat menghantuinya.


Tibalah dia di penghujung anak tangga dan di depannya terdapat sebuah pintu dengan cat minyak berwarna putih. Di depannya tergantung ornamen pengantin.


Darius menginjak anak tangga terakhir dan berjalan lambat kearah pintu kamarnya dengan Dinniar.


Dia menyentuh handle pintu kamar. Dia tekan perlahan dan pintu terbuka. Dilihatnya seorang wanita yang tengah duduk di bangku riasnya.


Wanita itu sudah berdandan rapih dan terlihat begitu menawan baginya. Darius mengembangkan senyumannya. Serasa tidak ada masalah diantara mereka.


Dinniar memutar kepalanya perlahan setelah mendengar suara pintu kamar terbuka. Dia lihat suaminya sudah pulang dan tersenyum kepadanya.


Dinniar mengangkat satu alisnya ketika melihat senyuman yang disungging'kan oleh suaminya.


Wanita yang sudah berdandan rapih itu kemudian bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan suaminya.


Darius menghampiri istrinya dan memeluknya erat. Dinniar tidak membalas pelukan itu. Baginya saat ini hatinya tidak lagi merasakan debaran di dada suaminya.


Dulu, setiap mereka selalu saling menempel. Darius pasti berdebar meski pernikahan mereka sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, sekarang semua benar-benar Sudah berubah. Debaran itu sudah hilang dan sepertinya cinta Darius pun sudah hilang untuknya.


"Maafkan aku. Aku banyak pekerjaan di Bali. Aku mengunjungi beberapa tempat indah. Aku ingin membawamu dan Tasya ke sana." Darius bicara sambil melepas pelukannya.


Dinniar hanya bisa mematung. Bisa-bisanya disaat seperti ini dia masih juga berbohong. Pengkhianatan dirinya sudah di ketahui, tapi masih juga bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Bagaimana acara kalian berdua? Apa sangat romantis?" tanya Dinniar dengan wajah datar.


"Sayang, Aku kesana karena pekerjaan. Bukan seperti yang kamu bayangkan." Tandasnya.


"Cukup, Mas. Cukup!" pekik Dinniar.


Sudah cukup dia selama ini dipermainkan hatinya dan selalu terbang melayang ketika Darius memujinya.


"Perselingkuhan kalian sudah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Awalnya aku tidak ingin percaya dengan praduga dan selentingan dari para karyawan mu. Namun, setelah aku menyelidiki mu. Kamu sudah terlalu jauh membagi hatimu." Dinniar bicara tanpa menatap suaminya.


Hatinya masih lemah jika harus bicara saling bertatapan. Dirinya belum siap melihat mata suaminya yang penuh kepalsuan.


Darius memeluk Dinniar dari belakang dan istrinya sudah mulai terisak. Inilah kelemahan Dinniar. Dia akan menangis jika menghadapi masalah. Padahal dia sudah berjanji tidak akan menangis lagi dan kuat.


Dinniar ingin melepaskan dirinya dari pelukan suaminya, tapi ternyata dia tak bisa melepasnya.


"Sayang. Aku tidak tahu harus memulai menjelaskan dari mana. Hanya saja saat ini hubungan itu telah kandas. Aku yang menyadari kesalahan itu langsung menghentikan semuanya."


"Kamu pikir aku percaya, Mas?" batin Dinniar.


"Lepaskan aku." Dinniar memberontak.


"Kamu tidak percaya?" tanya Darius.


"Bagaimana aku bisa percaya ketika kepercayaan itu sudah kamu rusak? Kamu yang merusaknya dan sekarang kamu ingin aku percaya lagi? Itu hal yang mustahil, Mas." Dinniar mulai memberanikan dirinya untuk menatap suaminya.


"Aku janji. Aku tidak akan pernah merusak kepercayaan itu lagi. Aku sudah menyadari kesalahan itu. Kami sudah putus. Aku hanya ingin bersamamu." Darius memasak wajah terbaiknya untuk meyakinkan istrinya.


Darius berlutut di kaki istrinya. Dia kini mulai ketakutan, dia takut istrinya melayangkan gugatan cerai.


"Sayang. Aku mohon percayalah. Aku akan perbaiki kembali rumah tangga kita yang sudah aku retakkan secara tidak sengaja." Darius memohon sambil bersimpuh.


"Kamu bilang tidak sengaja? Mas, semua orang yang berkhianat itu sudah terencana bukan lagi hal yang tidak disengaja." Teriak Dinniar.


"Percayalah, aku hanya tergoda sebentar. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Jika aku mengulanginya. Aku janji aku akan menghukum diriku sendiri." Darius memasang wajah memelas.


"Menghukum diri sendiri? Aku yang akan menghukum dirimu. Jika kamu terlihat bersama dia atau kalian sedang bermesraan. Aku akan menggugat cerai dirimu dan membawa Tasya bersamaku." Ancam Dinniar.


Wajah serius Dinniar terlihat dimata Darius. Itu membuat dirinya ketakutan. Benar kata orang, jika wanita sudah marah maka dunia bisa dia luluh lantakan.


Dinniar tidak bisa lagi percaya kepada suaminya. Namun, Dia harus tetap menyelamatkan rumah tangganya. Dinniar tidak mau putrinya menjadi korban.


Dinniar menghempaskan tangan Darius yang sejak tadi memegang tangannya.


Dinniar melangkah keluar dengan pakaian yang rapih dan sangat memperlihatkan lekuk indah tubuhnya. Meski dia sudah memiliki satu putri. Keindahan tubuhnya tidak berubah sedikitpun.


Darius langsung mengejar langkah istrinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Darius.


"Aku akan menjemput Tasya." Dinniar menjawab singkat.


"Dimana?" tanyanya lagi.


"Tidak perlu banyak tanya."


Dinniar kembali melangkah dengan sepatu hak tingginya yang membuat dia terlihat begitu makin cantik dan sempurna.


Darius mengikuti Dinniar dan saat istrinya akan masuk ke dalam mobil dia langsung menghadang dan mengambil alih kunci mobil.


"Biar aku yang menyetir. Aku rindu dengan Tasya. Kamu beritahu saja kemana kita akan pergi." Darius masuk ke dalam mobil.


Dinniar berjalan ke arah pintu mobil lain dan duduk manis di sana.


"Ke cafe Norita." Dinniar buka suara.


Darius langsung mengarahkan mobilnya menuju tempat yang akan mereka tuju.


.


.


Tasya, Sonia, Adrian, Violin dan Samuel berkumpul bersama di sebuah cafe Norita. Cafe yang di kelola oleh Violin.


"Mamih, jemput aku kan?" tanya Tasya dengan gaya anak-anak.


"Pasti dong sayang." Sonia menyentil gemas hidung mancung Tasya.


"Nah, itu Mamih." Violin menunjuk ke arah mobil.


"Mamih, Papih." Tasya berteriak senang.


Dinniar akan menghampiri putrinya, tapi tiba-tiba seseorang menabraknya dan tasnya terjatuh.


"Maaf." Mereka saling berkata maaf.


Pria itu mengambil tas Dinniar dan memberikannya.


"Saya yang harusnya minta maaf." Pria itu tersenyum.


"Pak Jonathan." Sapa Dinniar yang mengingat wajah Jonathan.


"Yes." Jonathan menatap lekat wanita yang menyapanya


"Oh, Maaf. Bu Dinniar ya?" Jonathan mengingat Dinniar.


"Benar, Pak. Apa kabar?" tanya Dinniar ramah.


"Baik, sangat baik." Jonathan tersenyum.


"Om." Alesya ternyata ikut bersama Jonathan.


"Alesya." Dinniar menyapa muridnya.


"Ibu Dinniar? Wah Ibu cantik sekali. Benar'kan Om?" Alesya melihat ke arah Jonathan.


"Iya, Cantik." Pujinya.


"Maaf, Bu Dinniar. Saya dan Alesya pamit." Jonathan dan Alesya keluar dari cafe.


Melihat istrinya di puji pria lain. Darius sangat kesal dan cemburu.