Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 110 - Take me out



Mendapati rencananya yang sudah sangat berjalan lancar dan begitu mulus. Cornelia mendapatkan kabar kalau Darius ingin bertemu dengan dirinya.


"Jadwalkan pertemuan itu dan pastikan dia akan menemuiku ketika tahu kalau tujuannya adalah ke kantor polisi." Cornelia tidak sabar untuk menanti hari esok.


dia ingin melihat wajah Darius. dia ingin melihat ekspresi pria yang masih menjadi suaminya. Cornelia kembali ke balik jeruji besi. Dia duduk di sebuah ruangan yang tidak beralaskan apapun. dia tidak mengeluh bahkan tidak meminta perlakuan khusus meskipun dia bisa melakukannya. Cornelia ingin menikmati waktunya di balik jeruji besi.


"Kamu akan membawaku keluar Darius, kalau tidak. aku akan pastikan kamu berpisah selamanya dengan putrimu." Cornelia kembali menyeringai.


...****************...


Liburan keluarga sudah usai, Dinniar dan keluarganya kembali pulang ke Jakarta untuk kembali beraktivitas seperti biasanya.


"Istirahat dulu, besok kamu sudah kembali bekerja ke sekolah. Aku yang akan mengantarmu dan Tasya setiap hari. untuk pulangnya akan di jemput oleh sopir yang sudah ku rekrut untuk mu." Jonathan begitu perhatian.


"Terima kasih." Dinniar hanya bisa mengucapkan kata itu.


Dinniar merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mulai memejamkan matanya perlahan untuk untuk menuju alam mimpi.


Jonathan memperhatikan wajah istrinya yang sudah terlelap. Dia menatap lekat wajah cantik itu sambil terus mengagumi Dinniar. Memiliki istri yang baik, cerdas, santun dan cantik adalah sebuah keberuntungan baginya.


"Kamu adalah ratu di dalam hati dan hidupku Dinniar. bodoh Darius menyia-nyiakan dirimu. Aku akan pastikan dia menyesal dan aku percaya kita bisa membangun rumah tangga yang lebih baik dari rumah tanggamu dimasa lalu." Jonathan berkata dalam hatinya.


Dinniar memang wanita yang hebat, di tengah keterpurukannya dia tidak pernah melupakan emosi yang meledak-ledak. bahkan dia tetap elegan dalam menghadapi seorang pelakor seperti Cornelia dan tetap tegas kepada pria yang pernah dicintainya.


Membuang orang yang sudah ada di dalam hatinya sejak lama memang bukan perkara mudah bagi Dinniar kala itu. Namun, dia tetap bisa bertahan dan cinta itu terkikis sedikit demi sedikit. hingga akhirnya dia bisa melepaskan belenggu cinta di hatinya untuk pria yang ternyata tidak ditakdirkan untuk menjadi cinta sejatinya.


Hal itu yang membuat Jonathan semakin yakin untuk mencintai Dinniar dan memperjuangkan cintanya meski dia pernah mendengar kalau Tasya menginginkan kedua orang tuanya kembali. Hingga tragedi mengerikan tentang penculikan Tasya terjadi. Jonathan tetap membantu dan dia mendapatkan lampu hijau dari gadis kecil yang juga begitu di sayangi olehnya.


Jonathan kini tinggal bersama dengan Dinniar, Tasya dan juga Alesya di rumahnya. Mereka menjadi keluarga bahagia dan akan terus menumbuhkan rasa kasih dan sayang di dalam hati.


...****************...


Melihat matahari sudah mulai tinggi, Darius bangun dan bersiap untuk pergi. Dia akan menemui orang yang sudah banyak memberikannya informasi tentang kegiatan Tasya akhir-akhir ini.


Darius kini tinggal dengan ibunya. Susi tidak mau meninggalkan Darius sendiri dan ingin mengawasi tindak tanduk putranya yang masih saja tidak menyadari kesalahannya.


Susi melihat putranya keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang sudah rapih. Dia meletakkan beberapa menu sarapan pagi di meja makan dan menghampiri putranya.


"Kamu sarapan dulu. Ibu sudah buat sarapan. jangan biasakan bekerja dengan perut yang kosong. Ibu tahu Dinniar selalu mengurus mu dan memastikan kamu makan teratur. Ibu berusaha melakukannya. jadi makanlah." Susi mengajar putranya makan.


Darius duduk dan Susi menyendok kan sarapan untuk diberikan kepada putranya. Susi menyodorkan piring dan Darius bersiap untuk menyantapnya.


"Lain kali tidak perlu menyebut namanya di saat ada aku. aku tidak mau mendengarkan namanya lagi. aku begitu muak dengannya. bisa-bisanya dia menikah dan menari-nari diatas penderitaan ku." Darius bicara sebelum menyuap makanan yang ada di sendoknya.


"Kamu tidak seharusnya membenci Dinniar. Dia bukan wanita yang seperti kamu bicarakan. dia wanita yang baik. kamu yang bersalah kepadanya, jadi kamu tidak pantas bilang negitu." Susi tetap membela menantu kesayangannya.


Darius enggan meneruskan perbincangannya dengan sang ibu. Dia akhirnya menyudahi sarapannya dan buru-buru meninggalkan rumah. Darius pergi dengan mengendarai mobilnya.


"Selalu saja ibu membela Dinniar. Tidak ada cacat sedikitpun Dinniar di mata ibuku. Dia tetap bidadari tak bersayap baginya. Aku tahu, apa yang aku lakukan salah. Namun, kenapa ibu tidak bisa sedikit saja mengerti perasaanku saat ini yang merindukan putriku sendiri." Darius memukul-mukul stir mobilnya dengan sangat emosi.


Darius sampai di sebuah cafe yang menjadi tempatnya janjian dengan sang informan.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Darius.


"Tidak perlu banyak tanya. jika kamu mau bertemu dengannya ikuti aku dan bahkan setelah kamu bertemu dengannya. bersikaplah biasa saja dan sembunyikan semuanya agar kamu dan dia tetap aman." Ujar pria itu dengan mata penuh ancaman.


Darius mengikuti motor yang di gunakan oleh kedua pria itu. Darius benar-benar mengikutinya karena sangat penasaran siapa di balik kedua pria itu. sekuat apa orang itu sehingga bisa menggerakkan anak-anak buahnya.


Mereka berhenti di sebuah pintu gerbang kantor polisi. Darius memperhatikan sebelum mobilnya masuk lebih jauh lagi.


"Kantor polisi? apa dia seorang dari kepolisian? tapi ini bukannya kantor polisi di mana Cornelia di tahan. Apa mungkin?" Darius memiringkan sedikit kepalanya dan berpikir.


Tok Tok Tok. Kaca mobil darius di ketuk hingga membuyarkan pikiran Darius yang sedang melayang jauh.


"Cepat masuk. jangan sampai bos kami menunggu lama dirimu." Ketusnya.


Darius lalu membawa masuk mobilnya dan memarkirnya di parkiran mobil yang sudah tersedia. Darius turun dan mengikuti pria bertubuh kekar itu. Darius tidak bisa mengurungkan niatnya karena dia juga takut kepada pria itu. tubuhnya kekar jika Darius diringkusnya sudah pasti dia akan menjadi perkedel.


"Silahkan masuk. Saya menunggu di sini." Pria itu mempersilahkan Darius masuk ke ruang kunjungan yang pernah dia datangi beberapa bulan lalu saat menemui Cornelia. Darius semakin menaruh curiga.


Cornelia tidak sabar menanti kedatangan suaminya yang sudah dia rindukan. Cornelia melihat bayangan seseorang yang akan memasuki ruang kunjungan. Cornelia merapihkan rambutnya dan penampilannya meski tetap harus memakai pakaian tahanan berwarna oranye.


"Cornelia." Darius mengernyitkan dahinya.


Semua dugaannya benar. Cornelia yang akan ditemuinya. Namun, bagaimana cara istrinya itu bisa melakukan semuanya sedangkan dia masih mendekam di penjara? itu yang ada di benak Darius saat ini.


"Duduklah. kita bicara dari hati ke hati." Cornelia menyambut kehadiran suaminya.


Bibir Cornelia juga di poles dengan pewarna bibir agar tidak terlihat polos wajahnya dan tetap nyaman di lihat.


Darius dan Cornelia duduk berhadapan. Darius terus menatap tak percaya.


"Apa kabarmu mas? aku harap kamu tidak menyesali pertemuan kita kali ini. aku harus melakukan hal ini agar bisa bertemu denganmu. menghubungimu sudah seperti menghubungi presiden saja. Susah dan selalu sibuk." sindir Cornelia.


"Apa maumu Cornelia?" tanya Darius tanpa basa-basi lagi.


"Mas, aku yakin kamu sudah tahu apa yang aku lakukan dan apa yang mampu aku lakukan meski mendekam di dalam penjara. aku mau kamu memberi imbalan atas semua usahaku." Cornelia mendekatkan dirinya hingga tubuhnya menempel dengan meja yang memisahkan jaraknya dengan Darius.


Cornelia menopang wajahnya dengan satu tangannya. Dia menatap Darius intens membuat Darius menjadi bersikap tak biasa.


"Aku sudah memberimu informasi tanpa kamu minta. Aku juga sudah menyiapkan hal lainnya untuk rencana kedepannya." Tutur Cornelia.


"Apa yang kamu inginkan sebagai imbalan?" tanya Darius.


"Aku mau kamu keluarkan aku dari sini. Hakmu sebagai seorang ayah dari putri yang menjadi korbanku tetap ada. Kamu bisa mencabut gugatan yang di buat oleh Dinniar. Setelah itu kita buat Dinniar menangis darah karena kehilangan Tasya dan kamu bisa bahagia hidup dengan putri kesayanganmu. aku tidak mau melahirkan dan membesarkan anakku di dalam penjara. jadi aku mohon kamu segera membawaku keluar sebelum perutku semakin besar." Pinta Cornelia.