
Ingin rasanya Dinniar memutar waktu, dia ingin membuat perjanjian dengan Darius sebelum memutuskan untuk menikah. Perjanjian itu adalah, dilarang mencinta orang lain selama pernikahan masih terjalin, tapi semua itu juga tetap tidak bisa menjamin suaminya tidak akan membagi cinta.
"Jujur Mas, membayangkannya saja sudah membuat hati ini sakit, apalagi aku mengetahui kenyataannya, mungkin hati ini akan hancur berkeping-keping hingga menjadi sepihan yang tidak mungkin disatukan kembali." Isakan tangis Dinniar semakin mejadi.
Dinniar mendengar suara seseorang mendekat kearah ruang kerjanya, dia langsung menghapus air matanya, dia langsung mencari sebuah Novel yang biasa dia baca, tentang seorang perawat yang menjadi istri tuannya," Perawat Istriku menjadi Istriku" Novel karya Biggest.
"Sayang." Darius membuka pintu dan menemukan keberadaan istrinya.
"Kamu di sini? aku cari-cari kamu." Darius menatap wajah istrinya.
"Kamu nangis? Kenapa?" Darius terlihat tulus mengkhawatirkan istrinya.
"Enngak apa, Mas, aku hanya habis membaca Novel ajah, ceritanya sedih, jadi aku ikut terbawa suasana." Dinniar menghapus air matanya yang kembali mengalr tak disangaja.
"Ya sudah, kita tidur ajah yuk sekarang." Darius menggandeng tangan istrinya.
Dinniar melihat genggaman tangan suaminya yang erat, dia tidak tahu lagi, apakah suaminya benar hanya miliknya seorang atau sudah bukan lagi miliknya.
.
.
Semalaman Dinniar tidak bisa tidur dengan pulas tapi dia berusaha bangun pagi dan menyiapkan beberapa menu sarapan favorit untuk keluarganya.
"Ayo kita sarapan." Dinniar menyajikan masakan buatannya.
"Waaaah ada maskan kesukaan Papih ini." Darius berusaha mencairkan suasanya, karena putrinya masih marah kepadanya.
Darius sangat menyayangi putrinya, tapi akhir-akhir ini, memang dia terlalu sibuk dengan cinta yang lain, sehingga membuatnya menghiraukan perasaan putrinya.
"Hari ini, Papih akan antar Tasya ke tempat kursus." Darius mencoba menghibur putrinya, tapi sayang usahanya gagal.
"Papih juga hari ini akan jemput Tasya di sana, abis itu jemput Mamih terus kita jalan-jalan ke taman, Papih akan bayar hutang papi kepada Princess kesayangan Papih." Darius mencolek pipi tembam buah hatinya.
"Papih janji?" Tasya mulai tersenyum tipis.
"Papih Janji."
Mereka saling mengaitkan jari kelingking dan stempel jempol.
"Kamu bisa, kan sayang?" tanya Darius namun tidak mendapatkan respon.
"Sayang." Tepuk Darius.
"Ada apa, Mas?" tanya Dinniar ketika menerima tepukan.
"Kamu lagi kepikiran soal apa sih, sayang?" tanya darius serius.
"Enggak ada apa-apa kok, Mas. Ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita berangkat ke sekolah. Makan Mas," kata Dinniar.
Darius memperhatikan tingkah istrinya yang canggung, tidak biasanya istrinya tidak fokus saat di meja makan, biasanya saat mereka bersama di meja makan, dia selalu fokus dan selalu memperhatikan tasya dan juga Darius.
Tasya akan pergi ke tempat kursus beberapa kali dalam seminggu, dia ada kursus bermain piano.
.
.
"Mih, aku dan Papi pergi dulu ya." Pamit Tasya.
"Lho, bukannya kamu pergi ke tempat kursus sama Mami?"
Dinniar yang sejak tadi lebih banyak melamun menjadi tidak menyimak pembicaraan suami dengan putrinya.
"Mamih, pasti tidak dengar tadi, aku dan Papih akan pergi bersama, nanti papi juga yang jemput aku dan Mami." Putrinya yang begitu pintar menjelaskan detail.
Darius dan Tasya melambaikan tangannya, Dinniar menjadi terbayang.
Bayangan Dinniar.
"Dada Mami, aku pergi kursus dulu bareng Papi dan Mama." Tasya melambaikan tangannya.
Dinniar tersadar.
"Ya Allah, kenapa aku bisa berpikir sejauh ini? Aku tidak akan membiarkan keluargaku hancur," ujarnya.
.
.
"Dinniar." Adrian memanggil sahabatnya.
"Hai, tumben pagi-pagi udah dateng?" Dinniar tersenyum.
"Hari ini karena ada rapat intern sekolah jadi aku kemari." Adrian menggaruk alisnya sambil nyengir.
"Waaoow, apa sekarang kepala yayasan kita sudah mau ikut turun tangan untuk memajukan dunia pendidikan?" Ledek Dinniar.
"Ya, apa salahnya kan, support untuk guru-guru juga." Adrian menarik kedua sudut bibirnya kebawah.
"Okeh, ayo kita langsung ke ruang rapat." Ajak Dinniar.
Melihat perubahan sahabatnya, Dinniar merasa ini adalah keputusan yang sangat besar yang diambil Adrian, mengelola sebuah yayasan bukan hal mudah, berbisnis di dunia pendidikan bukan seperti berbisnis dibidang bisnis biasa, dunia pendidikan bukan hanya sekedar bisnis, tapi juga harus merangkul agar bisa berhasil mencetak sekolah yang berkhualitas bukan hanya meraup keuntungan besar.
.
.
"Kenapa rasanya otakku mumet banget hari ini, aku tidak bisa berfikir jernih, aku merasa bersalah kepada Dinniar, tapi mau bagaimana lagi, aku mencintai keduanya," gumam Darius selesai mengantar putrinya sekolah.
"Hai sayang." Cornelia masuk ke dalam mobil Darius.
"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Darius yang terkejut.
"Aku kangen, kebetulan aku tadi telepon Agency katanya kamu hari ini libur dan katanya kamu lagi antar anakmu ke tempat kursus, jadi aku minta alamat tempat kursus anak kamu, ternyata mereka tahu dimana anak kamu kursus." Cornelia bergelayut manja.
"Sayang, tapi maaf aku tidak bisa menemanimu hari ini, karena aku sudah ada janji dengan Dinniar dan juga dengan anakku."
"Oke, hari ini aku lepasin kamu, tapi aku minta sekarang kamu anter aku dulu ke Mall, aku mau shopping, kamu temenin aku." Pinta Cornelia.
"Oke, tapi aku enggak bisa terlalu lama temenin kamunya." Darius menyalakan mesin mobilnya.
Wanita penggoda itu benar-benar ingin menguasai Darius seutuhnya, dia ingin menjadi Ratu di kehidupan Darius, sehingga saat ini dia sedang berusaha menguasai kekasihnya.
Cornelia sangat menempel dengan Darius, dia bahkan tidak melepas genggaman tangannya.
"Sayang, besok kita ketemu kan?" tanya Cornelia.
"Pasti sayang." Usapan lembut diberikan Darius untuk wanita yang sedang membuatnya mabuk kepayang.
"Thank you." kecupan kecil diberikan untuk Darius.
Sungguh wanita yang sangat tidak tahu diri, dia sejak awal memang sudah menargetkan Darius sebagai pria yang akan membawanya dalam puncak karir yang sukses, sebenarnya awalnya Cornelia hanya ingin memanfaatkan Darius agar karirnya sukses, tapi ternyata dia termakan pesona Darius sehingga jatuh cinta.
Wanita yang menjadi selingkuhan pria yang sudah memiliki anak dan istri, tidak akan pernah sepenuhnya bisa dicintai, hati pria yang merasa mencintai kedua wanita itu, tidaklah perasaan yang sesungguhnya.
Kini Darius sedang menikmati rasa cinta yang menggebu seperti seorang yang sedang mengalami puber ke dua, mungkin puber kedua hampir sama dengan cinta monyet anak SMA, hanya untuk main-main, hanya untuk memuaskan hasrat, hanya untuk mencari pelampiasan, jika dia sudah sadar dan kembali kejalan yang benar, selingkuhannya sudah pasti akan ditinggalkan.
Semoga Darius cepat sadar dan kembali kedalam jalan yang benar, mencintai istri dan anaknya dan kembali memepertahankan rumah tangganya.